Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kimchi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kimchi merupakan makanan tradisonal Korea, yang terbuat dari sayuran segar dengan bumbu pedas dan difermentasikan. Hidangan khas negeri ginseng ini begitu populer di seluruh dunia.
Sajian kimchi wajib ada, baik saat sarapan, makan siang maupun makan malam. Rasanya begitu kuat, perpaduan antara rasa manis, asam dan pedas. Aromanya juga begitu khas makanan fermentasi.
Biasanya kimchi dijadikan banchan, atau hidangan pendamping hidangan utama. Bisa juga dijadikan campuran untuk ramyun atau mi instan korea atau nasi goreng untuk penguat rasa.
Tak sekadar memperkaya rasa hidangan, kimchi juga menyimpan manfaat kesehatan yang begitu besar, terutama pada pencernaan. The World Institute of Kimchi (WiKim) mengungkap bahwa mereka telah menemukan sumber asal bakteri asam laktat yang muncul dalam fermentasi kimchi.
Bakteri itu berasal dari kubis dan bawang putih yang digunakan untuk membuat kimchi. Tim yang terlibat dalam penelitian ini, mengamati karakteristik proses fermentasi tergantung pada strain bakteri asam laktat dalam hidangan sayuran, seperti kubis, bawang putih, jahe, dan bubuk cabai khas Korea (gochugaru).

Bakteri asam laktat menghasilkan metabolit tergantung pada bahan dan suhu penyimpanan. Metabolit ini bertanggung jawab untuk menghasilkan rasa unik dari kimchi. Faktanya, mengendalikan dan mengatur proses fermentasi yang rumit dengan mikroorganisme yang ada di kimchi masih menjadi misteri di dunia sains.
Grup Penelitian Mikrobiologi dan Fungsionalitas WiKim yang dipimpin oleh Dr. Roh, Seong Woon, menelusuri sumber asal bakteri asam laktat yang secara langsung berdampak pada fermentasi kimchi. Tim peneliti melakukan analisis setelah mensterilkan empat bahan utama kimchi - kubis, bawang putih, jahe dan gochugaru.

" Kami telah berhasil menemukan alasan ilmiah untuk fermentasi kimchi dengan melacak sumber asal bakteri asam laktat yang terlibat dalam fermentasi. Ini pasti akan memberi kita kesempatan untuk memperkuat status Korea Selatan sebagai asal kimchi," kata Direktur Pelaksana WiKim Dr. Choi, Hak-Jong.
Dream - Memasak termasuk aktivitas teraupetik, yang bisa membuat pikiran jadi lebih tenang. Terutama di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.
Bagaimana kalau mencoba memasak menu baru. Nah, bagi Sahabat Dream yang suka mengeksplorasi masakan dan penyuka pedas, harus mencoba mengolah Gochujang.

Gochujang adalah sejenis pasta cabai asal Korea, yang difermentasi, memiliki campuran rasa pedas, asin, dan sedikit manis. Umur sambal Korea sudah ratusan tahun. Bukan hanya banyak digunakan Korea, Gochujang juga kini mudah ditemui di banyak negara termasuk Indonesia.
Proses untuk membuat Gochujang ternyata cukup rumit. Bahan utamanya adalah Gochugaru, sejenis bubuk cabai kering. Bubuk tersebut lalu dicampur dengan garam, beras ketan, kedelai fermentasi, dan sedikit pemanis, seperti sirup beras.
Secara tradisional, semua bahan ini dicampur bersama dalam kendi dan dibiarkan berfermentasi selama berbulan-bulan. Waktu yang lama membuat campuran menjadi kental dan sangat kaya akan rasa. Dulu, setiap keluarga di keluarga di Korea membuatnya sendiri.

Mereka akan membuat dalam jumlah banyak di kendi dan didiamkannya selama satu tahun. Biasanya Gochujang dibuat setahun sekali. Secara klasik, Gochujang adalah elemen penting dalam bibimbap, hidangan nasi yang dicampur dengan sayuran dan biasanya disajikan sebagai bumbu di restoran barbekyu Korea.
Gochujang memiliki bau yang cukup menyengat, sehingga biasanya dicampur dengan bahan lain untuk menyeimbangkan intensitasnya. Di Korea, biasanya diaduk menjadi bumbu untuk daging dan kentang goreng, atau dicampur dengan cuka atau minyak sehingga dapat disajikan sebagai saus. Ayam goreng khas Korea juga menggunakan gochujang sebagai salah satu bahan sausnya.

Gunakan saat hendak memasak hidangan Korea, atau sebagai pengganti saus cabai dan sriracha. Tambahkan di dalam semur, adonan telur dadar pedas, campur menjadi saus salad, campur dengan mentega untuk menjadi saus steak, atau tambahkan ke mayo untuk burger dan sandwich.
Berkat proses fermentasi, Gochujang dipercaya kaya akan bakteri baik, sehingga dapat menbuat usus menjadi sehat. Selain membantu pencernaan lebih baik, sambal ini dapat berdampak baik pada kesehatan dalam jangka panjang, karena memiliki zat antioksidan, dan senyawa capsaicin, yang dapat membantu meningkatkan metabolisme.
Penasaran mencobanya, Sahabat Dream?
Laporan Raissa Anjanique/ Sumber: RealSimple
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya