Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Terdistraksi Oleh Ponsel/ Foto: Shuttertock
Dream - Bermain bersama anak terkadang jadi hal yang sulit dilakukan orangtua. Hadir secara utuh baik fisik dan fokus pikiran hanya untuk anak memang bukan hal mudah. Terutama jika kita tak bisa lepas dan gadget.
Dalam situasi tertentu, kita membiarkan anak bermain sendiri dan hanya melihatnya sesekali. Sementara, mata dan fokus pikiran tertuju ke ponsel. Sering melakukan hal ini?
Sebagian besar orangtua sering melakukannya. Kondisi ini menurut Devi Sani, psikolog dari Klinik Psikologi Rainbow Castle, adalah fenomena 'distracted parents’.
" Terkadang Ayah dan Bunda secara tidak sadar tidak hadir 100% saat menemani si kecil dan lebih sibuk bersama gadget. Pengamatan dari waktu-waktu bermain bersama anak, lebih dari 50%-nya lebih sering digunakan orang tua untuk mengecek gadget," tulis Devi dalam akun Instagramnya @devisani.
© Dream
Kebiasaan tersebut tentu saja bisa berdampak buruk. Menurut Devi salah satunya adalah sikap orangtua pada anak.
" Dari 100 persen kesempatan bersama anak lebih dari 50 persennya lebih sering melihat ke gadget dibandingkan melihat anak. Efeknya orangtua merespons lebih kasar ke anak (Boston Medical Center)," ungkap Devi.
Saat fokus kita kepada ponsel, begitu anak datang meminta sesuatu atau perhatian, orangtua kerap merasa terganggu. Tak dipungkiri muncul rasa kesal dan hal itu muncul dalam sikap kita saat merespons anak, bisa menjadi lebih kasar. Tentunya hal ini sangat tidak baik untuk tumbuh kembangnya.
Penting untuk menyeimbangkannya. Pastikan waktu dan pikiran kita untuk anak tersedia secara fokus.
" Kita gak harus 100 persen selalu melihat ke anak, tapi kuncinya Balancing. Tahu kapan harus tunjukkan ke anak bahwa dia memang penting," pesan Devi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?