Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Tahukah Sahabat Dream penyebab kematian tertinggi ibu di Indonesia? Jika belum tahu, jawabnya adalah perdarahan. Hal ini berdasarkan data dari Direktorat Kesehatan Ibu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dokter Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp.OG, dokter Indonesia spesialis kandungan yang bekerja di sebuah rumah sakit di Inggris ini mengungkap fakta yang tak banyak diketahui soal
pemicu tertinggi kematian ibu.
Selama bersalin ibu pasti kehilangan cukup banyak darah. Sistem dalam tubuh akan beradaptasi setelah kehilangan darah dalam jumlah banyak setelah persalinan. Namun sistem tersebut tak selamanya berjalan dengan baik dan ibu bisa mengalami perdarahan.
" Walaupun Tuhan telah mengatur fisiologis tubuh perempuan untuk dapat beradaptasi dengan kehilangan sejumlah darah saat kehamilan dan persalinan, namun tanggung jawab manusia
sendiri untuk menjaga jumlah darah yang hilang dari tubuhnya agar tak melewati batas kemampuan tubuhnya," ungkap dokter Pitha.
Dalam laman Facebooknya ia mengungkap kalau data dari Kemkes menunjukkan sepertiga kematian ibu Indonesia disebabkan oleh perdarahan. Dokter Pitha pun menekankan ada banyak
hal yang bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut.
Antara lain cegah dan atasi anemia selama kehamilan. Idealnya, periksa kadar hemoglobin di awal kehamilan, kemudian ulang di usia kehamilan 28 minggu, dan 34 minggu untuk menangkap anemia dan mengatasinya. Konsultasikan dengan dokter bila kadar Hemoglobin dalam kehamilan kurang dari 11 g/dL.
Pilih juga tempat bersalin yang aman, tergantung risiko yang dimiliki selama kehamilan. Jika memang kehamilan berisiko tinggi sebaiknya melakukan persalinan di RS.
" Sebagai contoh, ibu hamil yang memiliki riwayat seksio sesarea sebelumnya harus bersalin di rumah sakit yang memiliki fasilitas operasi, transfusi darah," ujar dr. Pitha.
Hal yang ia sangat tekankan adalah perdarahan selama kehamilan adalah tidak normal. Segera lakukan pemeriksaan menyeluruh bila ada perdarahan selama kehamilan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang