Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Gejala ADHD Pada Anak Perempuan Berbeda dengan Anak Lelaki

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 11 Desember 2018 10:09
Gejala ADHD Pada Anak Perempuan Berbeda dengan Anak Lelaki
Seringkali tak disadari dan salah diagnosis.

Dream - Kecenderungan hiperaktif atau dalam istilah medis disebut attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) pada seorang anak, perlu dianalisis secara mendalam. Jangan sampai salah diagnosis.

Konsultasi dengan dokter anak dan psikolog, jadi salah satu cara untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pasalnya, skala yang digunakan saat ini dalam mendiagnosis ADHD, lebih menggunakan data acuan dari anak lelaki.

Dikutip dari CNN, ada tiga faktor penilaian gejala ADHD yaitu hyperactivity, impulsivity dan inattention. Banyak anak perempuan yang sebenarnya memiliki ADHD tak terdiagnosis karena memang gejalanya sangat berbeda dari anak laki-laki.

Lalu, apa saja gejala khas ADHD pada anak perempuan?

- Sangat suka berbicara
Tak memanjat atau berlarian memutar seperti anak lelaki, tapi lebih pada sangat aktif berbicara di kelas. Terutama saat pelajaran berlangsung dan sulit fokus pada pelajaran yang diajarkan guru.

- Kemampuan membaca yang rendah
Ia bisa membaca tapi hanya fakta-fakta yang menarik perhatiannya saja yang diingat. Saat diminta menceritakan kembali, ia akan menceritakan hal lain.

- Sering lupa
Anak dengan ADHD sangat sulit mengingat detail dan fokus. Sehingga, ia sering lupa detail tugas yang harus dikerjakan dan dilakukannya. Misalnya membawa kertas minyak untuk prakarya, memakai baju olahraga sesuai jadwal. Hal ini terus-menerus terjadi dan bukan sesekali.

- Banyak ide baru
Seringkali memiliki ide baru, yang seru. Tapi hal ini tak diikuti dengan komitmen untuk menyelesaikannya. Sehingga tugas-tugasnya sering terbengkalai begitu saja.

Biasanya para guru yang sangat peka pada sikap tersebut di kelas. Tak ada salahnya berkonsultasi dengan guru si kecil di kelas, jika ia mengalami masalah dalam fokus perhatian. Nantinya bisa jadi bahan pertimbangan untuk berkonsultasi dengan dokter maupun psikolog.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More