Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi
Dream - Kritikan bisa jadi pisau bermata dua. Terutama jika terlontar dari mulut orangtua pada anak-anaknya.
Mungkin orangtua bermaksud agar anak tak melakukan kesalahan dan hasil yang diharapkan jadi maksimal dalam banyak aspek. Orangtua juga ingin agar anak memiliki keterampilan yang dia butuhkan untuk berhasil secara sosial dan akademis, dan mengembangkan rasa tanggung jawab pribadi yang kuat.
Pada dasarnya, orangtua ingin membimbing anak mereka. Sayangnya, kerap kali cara yang dilakukan kurang tepat.
" Orangtua tidak selalu menyadari saat melontarkan kritikan terus menerus. Penting untuk dipahami bahwa anak-anak tidak bereaksi terhadap kritikan seperti orang dewasa. Anak-anak hampir selalu menginternalisasi kritik, memasukkannya ke dalam hati dan terkadang mempertahankan luka emosional yang bertahan lama dalam prosesnya," kata Anna Kaminsky, seorang psikolog, dikutip dari Psy-Ed.
Orang dewasa mungkin sudah memiliki kematangan emosi untuk menghadapi kritik, tapi anak-anak emosinya masih belum stabil. Orangtua memang memiliki kecenderungan untuk mengoreksi, tapi seringkali yang keluar dari mulut adalah kritikan pedas dan terjadi berkali-kali dan melukai mental anak.
© Dream
Kritik dan koreksi merupakan hal yang berbeda meskipun seringkali dianggap sama. Kritik lebih terfokus pada menilai anak daripada membantunya.
" Ketika orangtua mengoreksi seorang anak, maka akan dengan lembut memberi tahu dia tentang kesalahan yang dia buat dan menjelaskan mengapa perilakunya tidak baik. Sementara mengkritik hanya menyalahkannya saja tanpa memberi tahu mana yang baik dan tidak baik," ujar Kaminsky.
Hindari terus menerus memberi kritikan saat anak melakukan sesuatu. Mengungkit kesalahannya yang lama. Cobalah untuk lebih mengerti kemampuan anak dan kondisi yang dihadapinya.
Bisa jadi tugas atau hal yang dihadapi anak memang tak bisa diatasinya sehingga ia membutuhkan bantuan atau bimbingan. Jangan melabeli anak dengan " malas" , " salah terus" , apalagi sampai mengatakannya " bodoh" . Hal itu akan sangat melukainya.
© Dream
Dream - Rasa empati, peduli dengan orang lain dan sekitar, tak mau merugikan dan menyakiti orang lain bukan muncul dalam sekejap. Empati perlu diasah sejak dini, dengan menormalkan anak merasakan berbagai emosi.
Seringkali kita sebagai orangtua saat anak sedang bahagia mendapat nilai bagus, hadiah atau karena hal lain, memberinya senyuman, tepuk tangan atau pelukan. Sementara ketika anak bersedih, marah, kecewa, kita memintanya segera menghentikan tangisan.
Tak hanya itu kadang juga terlontar kata-kata yang melabelinya seperti " cengeng" , " manja" , " nakal" dan sebagainya. Hal ini seakan anak tak boleh merasakan emosi negatif sebagai manusia biasa, padahal hal itu sangat normal.
Samanta Elsener, seorang psikolog lewat akun Instagramnya @samanta.elsener mengungkap kalau mengakui emosi anak lalui memvalidasinya memang bukan hal mudah. Orangtua perlu belajar dan latihan. Hal ini sangat penting untuk perkembangan emosi anak dan mengasah empatinya agar juga bisa mengenali emosi orang lain dan bagaimana menyikapinya.
" Emang paling susah belajar mengenali emosi anak, terus divalidasi pula. Kenapa harus divalidasi bukannya nanti makin jadi nangisnya? Makin susah disuruh berhenti nangis. Lha, emang kenapa sih kalau anak nangis? Boleh donk anak nangis. Itu bentuk ekspresi emosi anak lho. Kalau divalidasi anak jadi tahu orang tuanya paham perasaan dia dan bisa berempati ke anak," ungkap Samantha.
© Dream
Menyuruh anak berhenti menangis sambil meneriaki, mengancam atau menakut-nakutin justru akan membuat emosi anak tak sehat. Merasa tak didengarkan dan membuat jarak dengan orangtua
" Kalau disuruh berhenti nangis apalagi pakai jerit teriak dan mengancam, anak makin merasa terancam dan makin jauh dari orangtua," tulis Samantha.
Ia pun membagikan cara bagi orangtua untuk melakukan validasi pada anak yang sedang memiliki emosi negatif. Kalimat-kalimat berikut bisa digunakan. Seperti " kelihatannya kamu sedih banget dengan apa yang baru saja terjadi" .
Kalimat lainnya " mama perhatikan kamu merasa excited dan nervous juga secara bersamaan" , " kamu terlihat lagi kesal/ kecewa, mama ada di sini sama kamu" .
Lihat video menarik yang dibuat oleh Samantha.
Lihat postingan ini di Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang