Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Waspadai Takjil Tak Layak Konsumsi Jelang Ramadan

Reporter : Ervina
Kamis, 12 Juni 2014 16:43
Waspadai Takjil Tak Layak Konsumsi Jelang Ramadan
Kendala jarak yang jauh saat pendistribusian mempengaruhi kelayakan makanan hingga menjadi rusak dan tak layak konsumsi. Selain itu kandungan kimia seperti boraks, formalin, dan rhodamin masih ditemui

Dream - Seyogyanya bulan Ramadan menjadi ajang untuk saling berbagi dan meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT. Sayangnya momen setahun sekali ini kerap digunakan pihak tidak bertanggung jawab meraup untung besar.

Salah satunya yakni distribusi dan penjualan produk makanan ilegal dan kadaluarsa. Hasil temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan, tahun lalu peredaran makanan berbuka puasa alias takjil yang tidak layak konsumsi didominasi makanan ringan dan kudapan.

Penganan tidak layak konsumsi tersebut bukan hanya dilihat dari kemasan dan kondisinya saja. Namun juga tanggal kadaluarsa dan kandungan makanan tersebut. Seperti formalin pada mie basah dan tahu, boraks pada bakso, dan rhodamin yang memberikan efek warna mencolok pada sirup.

" Temuan terbesar takjil tidak layak konsumsi ada di Semarang, diikuti Palembang dan Lampung," papar Roy Sparringa, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan di Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Lebih lanjut Roy menyebut kendala jarak yang jauh saat pendistribusian juga mempengaruhi kelayakan makanan hingga menjadi rusak dan tak layak konsumsi.

" Kendari merupakan daerah yang banyak ditemui makanan tidak layak konsumsi karena produk rusak. Sedangkan makanan kadaluarsa banyak ditemui di daerah Jayapura dan Aceh," ucapnya lagi.

Produk makanan ilegal yang tidak disertai informasi dalam bahasa Indonesia banyak ditemui di daerah perbatasan. Kepulauan Riau dan Batam menjadi dua daerah terbesar yang mendominasi penyebaran produk ilegal.

" Tahun lalu nilai ekonomi produk ilegal di Kepulauan Riau mencapai Rp 5 miliar, jumlah ini melampaui kasus serupa di Jakarta dengan nilai ekonomi sebesar Rp 67 juta pada dua tahun silam," papar Roy.

Produk ilegal yang banyak membanjiri Indonesia berupa cokelat, permen dan makanan ringan yang kerap dihidangkan saat Lebaran. Malaysia, Thailan, dan Tiongkok menjadi tiga besar negara yang pengimpor makanan ilegal dalam jumlah fantastis. (Ism)

Beri Komentar