5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Anak Merasa Percaya Diri/ Foto: Shutterstock
Dream - Rasa percaya diri pada anak tak muncul begitu saja. Butuh banyak dukungan dari orangtua, pengalaman, dan 'modal' psikologis untuk menghadapi kesulitan dalam berbagai situasi.
Level kepercayaan diri anak juga naik turun, ada kalanya ia begitu menyadari keunggulan dirinya. Sementara dalam situasi lain kepercayaan dirinya turun drastis. Hal ini sangat wajar, dan orang dewasa juga mengalaminya.
Satu hal yang pasti, anak butuh orangtua dan lingkungan yang membentuk rasa percaya dirinya. Anak bisa menganalisis dirinya di mana kelebihan dan kelemahannya dan cara mengatasinya.
Lalu bagaimana membentuk kepercayaan diri anak sejak dini?
Biarkan anak membuat keputusan
Ketika anak mendapat kesempatan untuk membuat pilihan sejak usia dini, ini akan melatih kemampuannya menilai sesuatu. Untuk anak balita, bisa kerucutkan pilihan, misalnya minta ia memilih baju merah atau kuning.
Hindari memintanya memilih dalam hal yang begitu umum. Seperti " mau makan apa?" , akan lebih baik bila " mau makan pakai ayam atau telur?" . Dengan begitu anak terbiasa untuk membuat pilihan bagi dirinya sendiri.
Bila terus dilakukan ia akan terbiasa mengungkapkan apa yang tak disukai dan disukainya. Juga melatihnya menganalisis pilihan yang ada termasuk kelebihan dan kekurangan dari pilihan yang dibuat. Hal ini tentu akan meningkatkan kepercayaan dirinya.
© Dream
Wajar jika anak membuat kesalahan, tetapi ketika orangtua terlalu banyak campur tangan hal ini justru berbahaya. Anak-anak perlu tahu bahwa tidak apa-apa untuk gagal dan melakukan kesalahan. Normal untuk merasa sedih, cemas, atau marah.
" Mereka bisa belajar mengatasi rintangan, bukan dengan meminta orangtua 'menyingkirkan' masalah tapi dengan melewatinya sendiri. Sangat penting bagi anak-anak untuk memiliki kesempatan mengambil risiko tanpa orangtua yang terus mengkritik atau mengoreksi," kata Kathy Hirsh-Pasek, PhD, profesor psikologi di Temple University, di Philadelphia.
© Dream
Jika anak cenderung merasa dikalahkan oleh kekecewaan, bantu dia untuk lebih optimistis. Bukan langsung dengan mengajak anak " melihat sisi baiknya" , dorong tapi dengan menstimulasinya mencari cara-cara spesifik untuk memperbaiki situasi.
Misalnya ketika ia tak terpilih untuk ikut lomba sekolah atau kalah dalam pertandingan. Bisa mengatakan " Ibu tahu kamu sedih kecewa, wajar, nanti kita buat rencana seru lainnya" .
© Dream
" Anak-anak percaya diri ketika mereka mampu bernegosiasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," kata Myrna Shure, PhD, penulis Raising a Thinking Child.
Penelitiannya menemukan bahwa orangtua dapat mengajarkan anak kecil memecahkan masalahnya sendiri. Kuncinya adalah, menanyakan lagi pada anak dan jangan langsung memberi soslusi.
Jika anak mengeluh bahwa seorang anak mengambil truknya di taman bermain, tanyakan apa yang menurutnya cara yang baik untuk mendapatkannya kembali. Bahkan jika ide pertamanya adalah mengambil truk, tanyakan padanya apa yang dia pikir akan terjadi jika dia melakukannya. Kemudian tanyakan, " Bisakah kakak/ adik memikirkan cara lain untuk mendapatkannya kembali agar hal itu tidak terjadi?" .
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
