Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Masa-masa isolasi sosial seperti sekarang membuat kita lebih banyak waktu di rumah. Berbelanja bahan makanan pun seadanya. Saat membeli makanan, kita jadi lebih berhati-hati.
Memang, kita harus lebih selektif dalam memilih makanan. Hal ini karena makanan yang dikonsumsi akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan dan imunitas.
Karina Savage, seorang ahli gizi memperingatkan, kalau ada beberapa makanan yang sebaiknya tak dikonsumsi di masa social distancing seperti sekarang. Apa saja?
Makanan bernutrisi rendah
Jika anak-anak mengonsumsi makanan olahan yang dikemas seperti kerupuk, keripik, roti putih, biskuit, kue kering, permen, dan bahkan susu, maka mereka sama saja mengonsumsi makanan yang rendah nutrisi. Lebih baik konsumsi makanan nabati yang kaya antioksidan.
Makanan yang tidak dicuci
Ini terutama berlaku untuk makanan yang tidak dimasak seperti apel, anggur, pir, sayuran salad, dan selada. Kita perlu mencuci makanan dengan bersih sebelum dikonsumsi dan memastikan tidak ada kotoran yang masih menempel pada buah atau sayuran.

Makanan yang dibeli dari wadah besar
Sering kita jumpai di pasar atau supermarket buah atau sayuran yang diletakkan di sebuah wadah besar. Makanan yang dibeli yang diletakkan di wadah tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk terkontaminasi kuman daripada produk makanan tertutup yang diletakkan di rak.
Makanan dingin
Contohnya seperti makanan yang diberi gulungan kertas nasi, pasta dingin/ hidangan nasi, sandwich, sushi dan salad. Virus lebih menyukai suhu yang lebih dingin sehingga makanan dingin yang dibawa pulang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkontaminasi kuman.
Makanan yang diletakkan di wadah penyimpanan
Seperti wadah keripik, kacang-kacangan atau zaitun, di mana banyak tangan yang masuk ke dalam wadah ini sangat berisiko. Karena kita tidak tahu kuman apa yang ada di tangan orang lain.
Laporan Cindy Azari/ Sumber KidSpot
Dream - Imbauan pemerintah agar tetap berada di rumah selama masa pandemi Covid-19, tentu kita harus mematuhinya. Hal ini demi memutus rantai penularan virus tersebut.
Salah satu hal yang menjadi tantangan adalah ketersediaan bahan makanan. Jika bahan makanan habis, tentu kita perlu keluar rumah untuk membelinya.
Dengan kemajuan teknologi, kini makanan bisa saja dibeli melalui e-commerce atau aplikasi untuk membeli bahan makanan secara online. Baik untuk membeli ikan, daging, sayuran, hingga kebutuhan lain seperti minyak dan beras.

Kita tinggal memesan melalui smartphone, bayar, lalu tunggu saja di rumah. Kurir akan datang mengantarkan. Mungkin muncul pertanyaan, apakah cara tersebut aman dari Covid-19? Jawabannya aman, tapi dengan syarat.
“ Virus tidak dapat ditularkan melalui makanan, tidak ada bukti sejauh ini bahwa COVID-19 ditularkan melalui makanan atau layanan makanan," kata Dr. Ian Williams, Chief of The Outbreak Response and Prevention Branch of The US Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
CDC mengungkap bahwa mereka percaya virus corona tidak hidup di permukaan selama lebih dari 24 jam. Para ahli juga mengatakan bahwa kemungkinan bisa tertular virus corona apabila menyentuh tas belanjaan atau wadah yang dibawa oleh pekerja pengiriman sangat rendah.
Meskipun demikian, ada syarat yang harus selalu dilakukan. Setelah menerima belanjaan, cuci tangan dengan sabun dan air selama dua puluh detik. Kenakan sarung tangan ketika memegang kemasan makanan, dan hindari transaksi tunai.

" Ini terutama jika sangat khawatir, cuci atau bersihkan tangan setelah memegang apa pun yang menurut kamu mungkin terkontaminasi," ujar Don Schaffner, seorang spesialis ilmu makanan, mengatakan kepada CNN.
Laporan Cindy Azari/ Sumber: Martha Stewart
Dream - Pandemi Covid-19 secara global membuat kita harus lebih ekstra menjaga kebersihan. Terutama saat mengolah bahan pangan seperti sayur dan buah.
Belum ada penelitian khusus untuk mengetahui berapa lama virus Covid-19 bertahan di sayur dan buah mentah. Termasuk apakah penularan bisa terjadi lewat bahan mentah.
Sebagai langkah pencegahan penting bagi Sahabat Dream untuk melakukan proses pencucian sayur dan buah yang benar. Hal ini demi mengurangi risiko paparan virus yang bisa saja terjadi. Simak langkah-langkah berikut ini.

1. Bersihkan, pisahkan, masak, dan dinginkan.
Kita harus selalu berlatih empat langkah keamanan pangan untuk memastikan makanan aman untuk dikonsumsi. Saat menyiapkan makanan, sangat penting untuk selalu mencuci tangan selama 20 detik dengan air hangat dan sabun sebelum dan setelah menangani produk segar.
Pastikan untuk membersihkan meja dapur, termasuk pisau, wadah alat, dan talenan sebelum mulai memasak. Selain itu, pisahkan produk, unggas, daging, makanan laut, dan telur saatmemasak untuk menghindari kontaminasi silang.
Untuk membunuh virus dan bakteri, masak makanan pada suhu internal yang sesuai dan pastikan makanan di luar zona bahaya suhu (40 ° - 140 ° F) untuk jangka waktu yang lama. Dinginkan dan bekukan makanan dengan benar dalam waktu dua jam untuk mencegah pertumbuhan patogen yang berpotensi membahayakan.
2. Periksa jika ada yang rusak/ busuk
Periksa buah dan sayuran jika ada yang tampak busuk atau rusak. Jika memang ada yang busuk segera pisahkan. Untuk sayuran, buang selalu daun terluar seperti pada selada untuk mengurangi risiko kontaminasi. Terakhir, pastikan untuk membuang dan tidak mengkonsumsi produk yang terlihat busuk.

3. Bilas sayur/buah sebelum dipotong
Pastikan untuk mencuci sayur dan buah secara menyeluruh di bawah air mengalir sebelum dimakan atau diolah. Penting untuk dibilas sebelumnya (bahkan jika tidak berencana memakan kulitnya). Ini untuk menghindari memindahkan kotoran atau bakteri ke pisau atau meja dapur.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya