5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Profesor Quraish Shihab/ Foto: Vidio.com
Dream - Pengalaman ulama dan orang-orang tua yang telah mendidik anak selama puluhan tahun jadi pelajaran yang berharga. Terutama bagi pasangan suami istri yang baru saja memiliki anak.
Mengasuh anak memang bukan sebuah hal yang mudah. Anak merupakan titipan Allah SWT dan bukan milik orangtuanya. Untuk itu kita harus mendidiknya sesuai dengan yang diajarkan Allah SWT.
Dikutip dari Bincang Muslimah, Prof. Quraish Shihab dalam sebuah acara kultum menjelaskan bahwa orangtua, baik ayah dan ibu wajib mendidik, melindungi dan memberi keteladanan kepada anaknya. Dalam pandangan agama, pendidikan anak seharusnya sudah dipersiapkan sebelum anak lahir.
Beliau mengisahkan ada seorang ayah yang berkata kepada anaknya, ‘“ Aku mendidikmu sebelum engkau lahir’. Sang anak heran, ‘Bagaimana ayah?’ Sang ayah menjawab, ‘Ku pilihkan untukmu, ibu yang baik, sehingga engkau terdidik oleh ibu yang baik. Seandainya aku memilih untukmu ibu yang tidak pandai mendidik, niscaya engkau tidak akan terbentuk seperti sekarang,” yang dimaksud adalah anak yang baik akhlaknya.
Penulis Tafsir Al-Misbah ini juga menuturkan bahwa perilaku, kondisi dan situasi yang meliputi kedua orang tua dari bayi yang masih di dalam kandungan juga memengaruhi kepribadian dan perkembangan jiwa anak.
Oleh sebab itu, agama selalu menganjurkan agar kedua orangtua selalu dalam kesucian, juga selalu mendoakan anak agar selalu terlindungi dari rayuan dan godaan setan.
© Dream
Pendidikan terhadap anak harus dilibatkan jauh sebelum anak lahir sampai anak itu lahir. Misalnya, saat anak lahir, maka perdengarkanlah suara azan dan iqamah. Keduanya adalah isyarat pendidikan ketauhidan.
Sejak dini anak sudah dikenalkan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan menamkan ke dalam jiwa sang anak untuk selalu salat dan dekat dengan Allah SWT. Inilah makna adzan dan iqamat yang diperdengarkan kepada sang bayi yang baru lahir.
© Dream
“ Sejak dini, tanamkan dalam jiwa anak-anak anda tentang kepercayaan, tentang keesaan Allah SWT. Ini adalah bekal yang terbesar,” ujar Prof. Quraish.
Beliau juga memberi nasihat kepada para orang tua agar jangan sampai menjadi orangtua yang tidak belajar, sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan anak baik tentang Tuhan maupun selain-Nya.
Pertanyaan yang seringkali dilontarkan oleh anak, ketika orangtua menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan alam raya; gunung, matahari, dan bulan, adalah pertanyaan tentang “ Lalu siapakah yang menciptakan Allah?”. Dalam konteks inilah orangtua harus terus mau belajar agar tidak sampai memberikan jawaban yang membingungkan anak.
Selengkapnya baca di Bincang Muslimah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?