Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Parade 4 Desainer Tutup 'Fashion Rhapsody 2020: Harmoni Bumi'

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Selasa, 3 Maret 2020 11:13
Parade 4 Desainer Tutup 'Fashion Rhapsody 2020: Harmoni Bumi'
Terinspirasi dari alam.

Dream - Empat perancang mode Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara dan Yula Fandy mempersembahkan karya penutup di panggung 'Fashion Rhapsody 2020: Harmoni Bumi'.

Fashion show dihelat di runway bertema Wysteria yang menceritakan tentang keadaan alam yang mulai bersemi kembali setelah manusia berhasil melewati masa kelam dan sulit.

Koleksi keempat founders ini tampil dalam gaya mix-don't-match yang mencampuradukkan karya mereka dalam satu tampilan.

Di babak penghujung ini, mereka ingin merepresentasikan kesatuan yang menjadi tema Fashion Rhapsody berikutnya, Bhinneka Raya.

Yulia Fandy

Foto: Tim Muara Bagdja

Yulia Fandy membawa koleksi kolaborasi bersama UMKM Palembang yang merupakan pengrajin lokal. Mereka mengusung kain berkonsep sustainable yang ramah lingkungan..

" Kita bawa kain yang diolah dari pewarna alam, memakai buah-buahan atau daun yang jatuh di perkebunan karet. Tidak kita tebang, hanya diambil sampah organiknya dan dijadikan pewarna alam," tutur Yulia di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pekan lalu.

Yulia Fandy

Foto: Tim Muara Bagdja

1 dari 5 halaman

Inspirasi Alam

Masih mengusung tema alam 'Harmoni Bumi', Ayu Dyah Andari membawa koleksi signature yang terinspirasi dari bunga mawar. Ayu menyusun sisa kain perca hingga menjadi gaun pengantin seharga ratusan juta.

" Inspirasi bunga mawar diwujudkan dalam bentuk lukisan, dibuat di atas tulle dan bordir dalam bentuk gaun dengan cutting Eropa klasik. Perca yang tersisa dibuat menjadi aplikasi bunga," kata Ayu.

Ayu Dyah Andari

Foto: Tim Muara Bagdja

Selaras dengan Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara mengeluarkan koleksi bertema kupu-kupu. Kali ini ia mengusung kain Jawa Barat yang dibuat memakai pewarna alam. Keindahan kupu-kupu dituangkan dalam bentuk aksen bordir.

" Saya terenyuh melihat banyak kupu-kupu ditangkap untuk dijadikan hiasan air keras. Kupu-kupu ini layak kita jaga. Hidup mereka hanya 10-15 menit, tapi biarlah mereka mati sendiri, jangan dibunuh," ujar Chintami.

Chintami Atmanagara

Foto: Tim Muara Bagdja

2 dari 5 halaman

Busana Pria

Tak hanya busana wanita, koleksi busana pria juga dibawa oleh Ariy Arka. Ia mempersembahkan koleksi 'Kemelut' sebagai wujud delapan tahun berkarya di industri mode.

" Saya banyak memakai sisa kain, benang dan limbah desain untuk koleksi ini. Terinspirasi dari berbagai kemelut yang terjadi di dunia, sepert kerusakan alam, banjir dan virus corona," jelas Ariy.

Ariy Arka

Foto: Tim Muara Bagdja

3 dari 5 halaman

Kemelut, Karut-marut Bumi Pertiwi di Mata Ariy Arka

Dream - Bumi Pertiwi sedang menjerit. Ia semrawut. Hutannya dilahap si jago merah. Banjir menggenang di Ibu Kota. Virus Corona merajalela. Lepas tak terkendali, menggemparkan dunia.

Selang tiga bulan di 2020, alam semesta porak-poranda. Bencana di mana-mana. Manusia dengan segala ambisi dan hiruk-pikuknya terkadang membuat Bumi Pertiwi luka.

Seorang perancang busana ikut merasa resah. Ariy Arka, merantau jauh dari Medan prihatin dengan keadaan alam dan lingkungan Ibu Kota yang semakin morat-marit.

Dengan sentuhan kreatif, ia menumpahkan kegelisahan itu dalam karya mode bertajuk 'Kemelut' untuk label busana abee. Sebuah persembahan sewindu berkarya, di pagelaran busana tunggal yang mengisi panggung Fashion Rhapsody 2020.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Kritik sang desainer terhadap kondisi alam yang kacau balau tertuang di 48 set busana. Terdiri dari 36 setelan pria yang menjadi fokus utama koleksi, berdampingan dengan 12 busana wanita dalam satu payung bertema 'Harmoni Bumi'.

" Semua orang punya arah dan tujuan, dan untuk mencapai itu tidak mudah. Perjalanannya luar biasa. Ada suka duka. Semua dirangkum menjadi energi yang luar biasa yaitu 'Kemelut'. Berawal dari tidak adanya kepastian. Saya dulu tidak pernah bermimpi jadi desainer," tutur Ariy kepada Dream di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ada pesan khusus yang ingin Ariy sampaikan. " Orang-orang terlalu sibuk di Ibu Kota, banyak yang tidak acuh. Bencana, virus, itu semua akibat dari ulah manusia. Banyak yang tidak peduli dengan sesama, apalagi dengan lingkungan. Kita ini human, ayo tingkatkan rasa humanity kita," ujarnya.

4 dari 5 halaman

Bumi Ditindas

'Kemelut' dibuka dengan tragis. Teror sampah plastik melilit hewan-hewan tak berdosa. Mencekik mereka yang terjebak, lemas dan menangis tak berdaya. Di hadapan manusia yang masih bersikap arogan. Acuh tak acuh, menutup mata.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Latar teatrikal bertema Secret Forest menampar para penonton dengan gambaran bumi yang tengah mengalami kehancuran. Model berjalan dengan angkuh. Menendang, merusak dan mencabik tanaman hijau yang semula menghiasi runway.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Aplikasi bordir bermotif abstrak dan geometris terpampang di busana mereka. Dibubuhkan secara acak. Memenuhi bagian punggung, dada dan lengan busana.

Bentuknya bermacam-macam. Ayam jago, burung kakak tua, genangan banjir hingga virus corona. " Bordirnya terbuat dari kain perca sisa limbah fashion. Dalam satu baju bisa memakai lima teknik bordir sekaligus," jelas Ariy.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

5 dari 5 halaman

Olahan Limbah

Galau dan semrawut, Ariy Arka memadukan berbagai jenis bahan dari tekstur dan ketebalan berbeda. Beludru, rajut, denim, twill, organdi dan tulle serentak dalam satu mahakarya.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Ariy menyuntikkan 'Kemelut' dengan gaya street style androgyn, ciri khas label abee. Siluet lurus dan serba longgar nan apik untuk kawula muda, cocok pula untuk mereka yang berhijab. Karyanya tampil dalam bentuk terusan, blouse, rok berkantung besar, celana komprang dan aneka jaket.

Koleksi 'Kemelut' Karya Ariy Arka

Foto: Deki Prayoga/Dream

Tangannya tak berhenti mengolah limbah. Sisa bahan terpal, karung plastik, twill dan denim disulap menjadi tas beraneka ukuran. " Semua elemen dari industri fashion harus kembali lagi ke alam. Banyak desainer memakai alam sebagai inspirasi mereka. Hasil limbah yang kita timbulkan ini bisa digunakan untuk koleksi baru," kata Ariy.

Beri Komentar