Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi/ Foto: Shutterstock
Dream - Orangtua memang selalu mengingatkan anak-anak untuk bangun pagi, membereskan buku pelajaran, mengerjakan PR, dan kewajiban lainnya. Saat memberi tahu anak, seringkali pada awalnya ayah bunda menggunakan intonasi yang lembut dan persuasif.
Saat anak tak kunjung bergerak untuk segera melakukan tugasnya, biasanya suara semakin meninggi hingga berteriak. Sahabat Dream sering mengalami ketika menghadapi buah hati?
Jika iya, pastinya sangat menguras emosi dan melelahkan. Samantha Elsener, seorang psikolog, menjelaskan mengapa anak baru bergerak ketika mendengar orangtuanya berteriak atau ketika emosinya mulai naik.
" Prinsipnya gini, anak tuh akan terus melakukan apa yang dirasa berhasil bagi dirinya. Jadi kalau terus ingetin anak, manggil anak dengan penuh kasih sayang terus menerus mengingatkan anak, tapi di akhiri dengan teriak atau marah-marah ke anak di sini terjadi pengkondisian di mana anak berpikir, " oh aku gak perlu dengerin orangtuaku di saat pertama kali" ," ujar Samantha dalam akun Instagramnya @samanta.elsener.
© Dream
Menurut Samantha, hal ini seperti siklus. Anak sudah merasa kalau saat diberi tahu pertama kali, maka akan ada peringatan selanjutnya. Jadi ia masih bisa menunda hingga " teriakan" muncul.
" Kalau parents mau menghentikan siklus ini yang pertama dilakukan adalah set boundaries, sehingga anak tahu jelas apa yang perlu dia lakukan dan bisa konsisten melakukannya," kata Samantha.
Bagaimana caranya? Ada tiga hal yang penting dilakukan menurut Samantha.
Concrete: Jelaskan apa saja kegiatannya, detail aktivitas yang harus dilakukan, fungsi utama dan gunanya dan semua harus dijelaskan ke anak
Clear: Aktivitas harus dijelakan waktunya, di mana, materialnya apa, butuh jarak tempuh berapa lama, dan detail lainnya agar jelas
Consistent: Terus-menerus diulang untuk mencapai konsistensi. Jadi perlu dibuat jadwal dan aturannya, termasuk jika tak dilakukan konsekuensinya yang harus diterima.
" Buat jadwal dan aturannya disepakati bersama anak, ya, parents," pesan Samantha.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?