Puasa (2): Saat Matahari Membakar Ramadan di Timur Tengah

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 29 Juni 2015 20:13
Puasa (2): Saat Matahari Membakar Ramadan di Timur Tengah
Penduduk yang tinggal di wilayah Timur Tengah menjalankan Ibadah Puasa di tengah terik matahari yang mencapai 50 derajat celcius. Kisah orang Indonesia yang bekerja di negeri seberang.

Dream - Wanita bertubuh jenjang itu terlihat gelisah di pelataran apartemen tujuh lantai, Mansoura, Doha, Qatar. Sebentar duduk, sesekali dia berdiri. Matanya celingukan ke seberang jalan yang lengang. Hampir 5 menit berdiri, yang ditunggu tak kunjung datang. Gelisah.

Meski jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, namun udara seakan sudah mulai terasa membakar tubuh. Wajahnya mulai basah berkucur keringat. Ramadan baru memasuki hari ke sepuluh.

Hawa musim panas di wilayah Timur Tengah membuat cairan tubuhnya lebih cepat terkuras. Terik matahari begitu kuat menikam ubun-ubun Adriani Euginie. Gadis 29 tahun itu mulai sepoyongan. Kulit putihnya memerah, terebus siraman panas sinar mentari.

Tidak kuat terpanggang. Adriani bergeser mencari tempat berteduh. Selang tak berapa lama, senyumnya mengembang. Bus mini jemputan tiba di kediamanannya. Bergegas dia masuk dan belum lagi jenak duduknya, langsung memutar lubang penyejuk udara ke posisi maksimal.

" Ya ampun, panasnya," kata wanita Indonesia itu tentang kota tempat dia bekerja. Gerah mulai terusir. Di luar jendela, cuaca panas membentuk fatamorgana gelombang cahaya di atas aspal jalan. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Doha, tak ada satu pun orang yang berani berjalan kaki di bawah sengatan panas matahari.

Lalu lintas sepi. Hampir semua toko dan mal tutup. Kantor pemerintah cuma buka setengah hari. Sudah jamak di Qatar, awal musim panas suhu sudah memasuki 40 hingga 45 derajat celcius. Jauh diatas suhu nyaman manusia 25 derejat celcius.

 Puasa (2): Saat Matahari Membakar Ramadan di Timur Tengah© Dokumentasi Dream

Sementara di puncak musim panas pertengahan Juli mendatang, suhu bisa mencapai 50 derejat celcius. Pemerintah setempat bahkan mengumumkan untuk mengurangi aktivitas warga di luar rumah.

Sekitar 15 menit. Bus yang ditumpangi Adriani tiba di kawasan Ring Road. Hari itu, wanita yang berprofesi sebagai pramugari maskapai Qatar Airlines tak ada jadwal terbang. Ia datang ke kantor mengikuti trainning rutin hingga sore.

Di negeri rantau, dia sahur sekenanya. Perutnya hanya diisi sereal plus segelas teh. Adriani berusaha tetap kuat berpuasa hingga waktu iftar (buka puasa).

Waktu berjalan cepat. Matahari mulai condong ke barat. Sinarnya perlahan memudar. Saat itulah, denyut kota Doha menyala. Toko-toko makanan dan pusat perbelanjaan mulai buka, warga berhamburan keluar mempersiapkan diri untuk buka puasa.

Pelatihan usai pukul lima sore, Adriani buru-buru mencegat taksi pergi ke Souq Waqif, kawasan resto cukup sohor di Doha. Sore itu dia ingin memanjakan lidahnya. Berbuka puasa dengan menu khas Indonesia. Dan Souq Waqif memang menyediakan beraneka rupa makanan bagi para ekspatriat.

 Puasa (2): Saat Matahari Membakar Ramadan di Timur Tengah© Dokumentasi Dream

Setengah jam sebelum masa berbuka, Andriani mendapat kursi di Central Restoran. Sebuah restoran dengan menu kebanyakan masakan Indonesia. Sangat mudah menemukan restoran itu. Saban sahur dan menjelang buka, wajah orang-orang Indonsia yang bekerja di Doha akan mendominasi d setiap meja. Juga obrolan mereka.

Tepat setengah tujuh, azan magrib berkumandang. Es teh yang dipesan Andriani langsung membasahi tenggorokannya, melepas dahaga hari itu. Nasi rames dengan sambal terasi mengisi lambung yang kosong selama 15,5 jam berpuasa.

" Alhamdulillah tetap kuat berpuasa. Meski cukup berat karena cuaca sangat panas," Adriani bercerita langsung pada Dream lewat aplikasi pesan selular. Sebuah pengalaman puasa di negeri orang, Qatar.

Ramadan kali ini merupakan, ibadah puasa keempat Adriani berada di Qatar. Namun, puasa kali ini dirasa paling berat. Baru sepekan Ramadan, suhu cuaca sudah melonjak naik.

" Usahkan jangan keluar (terpapar langsung sinar matahari) kecuali untuk urusan penting.Bahkan warga di sini juga lebih banyak berada di dalam rumah kecuali ke masjid untuk salat dan iktikaf," ujar alumni Universitas Indonesia itu.

Tetapi bukan panasnya cuaca di Doha yang membuat Adriani lebih kerasan menghabiskan Ramadan di tanah air. Suasana Ramadan di Indonesia selalu membuatnya rindu. Mulai dari ngabubrit, berburu tajil, sampai tradisi membangunkan saat sahur.

" Itu yang bikin kangen. Di sini tidak ada," tutur Adriani yang baru selesai mengambul cuti lima hari kembali ke Jakarta di awal Ramadan.

Sementara di negeri ini, Adriani merasakan sepinya suasana Ramadan. Warga banyak yang minggat untuk pelesir ke Eropa menghindari cuaca panas menyengat. Sementara bagi dia yang sedang bekerja, tak ada pilihan selain menerima kondisi itu.

" Ya..., kalau sudah mulai lemas, keleyengan karena panas, obatnya ambil air wudhu lalu salat. Pasti segar lagi," kata Adriani.

Tak Kalah Panas....

1 dari 1 halaman

Tempat Terberat Berpuasa

Panasnya cuasa tak hanya dirasakan di Qatar. Suhu tertinggi tercatat di negara tetangga, Uni Emirates Arab (UEA). Bahkan suhu di wilayah Sweihan, dekat Al Ain, Abu Dhabi sudah mencapai 50,5 derajat celcius.

Menurut Pusat Meteorologi dan Seismologi Nasional UEA, suhu tinggi sudah terasa setelah pukul 11 siang. " Beberapa hari terakhir ini terasa buruk," kata Ashraf Al Hasan, 38 tahun, yang telah tinggal dan bekerja di Sweihan selama lima tahun.

Meskipun dia bekerja sebagai penjaga toko yang terhindar sengatan langsung matahari, namun saat berjalan berangkat dan pulang kerja, serasa sudah menyiksa.

Meskipun jarak rumah dan tempatnya bekerja hanya sepuluh menit perjalanan kaki. " Saya pulang sekitar pukul dua siang. Meski baru beberapa menit di jalan, terasa sekali tubuh mengalami dehidrasi," kata pria asal Sudan ini dikutip Dream dari laman The National.ae.

Ada yang menarik dari pengalaman Sultan Al Sheriyani. Saban hari dia mengemudi dari Abu Dhabi ke Sweihan. Dia merasakan ada perbedaan suhu antara dua kota. " Jelang siang hari Anda sudah bisa merasakan matahari yang sangat terik di sini (Sweihan)," kata pemuda 28 tahun itu.

Masalah utama saat hendak meninggalkan Sweihan, kendaraannya terlalu panas setelah diparkir di bawah sinar matahari sepanjang hari. " Saya membuka semua pintu dan menunggu setidaknya lima menit sebelum menaikinya," katanya.

Sheriyani mengakui ketidaknyamanan yang ia rasakan tak sebanding dengan mereka yang bekerja di luar ruangan.

" Yang saya tidak habis pikir adalah para pengumpul sampah, pekerja konstruksi dan lainnya yang bekerja pada siang hari. Aku bahkan melihat pekerja memanjat pohon kelapa," kata Al Sheriyani.

Meski hal itu terlihat sangat berat, namun bagi yang mencari pahala di bulan Ramadan bukanlah sebuah tantangan berarti.

Di UEA, jam kerja diatur lebih pendek sehingga memungkinkan orang menghabiskan lebih banyak waktu beribadah. Diharapkan mereka banyak iktikaf di masjid-masjid.

Mohammed Abdulla percaya bulan Ramadan adalah waktu untuk lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah.

Jazirah Arab bisa jadi merupakan salah satu tempat terberat untuk menjalankan ibadah puasa. Mereka menghabiskan Ramadan tak sekadar menahan lapar dan dahaga namun juga di tengah cuaca sangat terik.

Namun dimanapun kita menjalani ibadah Ramadan tujuan utama adalah untuk meraih kemenangan. Insya Allah, tetap Istimoqah. Marhaban ya Ramadan.

Beri Komentar