Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi
Dream - Salah satu tantangan orangtua saat ini adalah mengontrol durasi waktu anak di depan layar. Baik layar televisi, ponsel, laptop, maupun tablet. Teknologi digital memang mau tak mau mengubah kebiasaan bermain anak.
Sebagai orangtua, Anda pun harus peka dan mengontrol waktu anak agar aktivitasnya tetap seimbang. Jangan sampai ia terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan layar karena ia bisa kehilangan banyak hal dan pembelajaran. Apa saja yang kurang atau tak didapatkan anak jika terlalu banyak menatap layar?
1. Berhubungan dengan orangtua dan saudaranya
Seluruh anggota keluarga ada di rumah, tapi yang dilakukan bukan saling bercerita. Mata hanya terpaku pada layar dan tanpa percakapan sama sekali. Tentu saja hal ini jika dibiarkan membuat hubungan keluarga jadi merenggang.
Untuk itu terapkan peraturan, saat makan atau ketika berkumpul keluarga, singkirkan dulu ponsel untuk sementara. Penting untuk memfokuskan pikiran, hati dan tubuh pada buah hati agar ia merasa didengarkan dan tak hanya terpaku pada layar.
2. Bersosialiasi dengan temannya
Banyak anak yang malas bersosialisasi karena lebih suka di rumah main sendiri. Bisa berupa games, menonton televisi atau bermain ponsel. Padahal anak-anak membutuhkan banyak sosialisasi dengan teman sebanyanya.
Dengan sosialisasi mereka akan belajar bagaimana bersikap dan bertoleransi. Saat bersama banyak teman anak juga cenderung melakukan permainan yang menuntut aktivitas fisik. Seperti main bola, sepatu rota atau bermain basket yang sangt baik bagi kesehatan fisiknya.
3. Permainan kreatif
Menatap layar cenderung membuat anak hanya menyerap informasi, tak melibatkan diri dan hanya membuatnya bereaksi secara pasif. Padahal banyak permainan kreatif yang bisa dilakukannya. Misalnya membuat kandang burung dari kayu bekas, membuat play doh dari terigu dan pewarna yang ada di dapur.
Permainan kreatif ini sebenarnya sangat dibutuhkan anak. Melibatkan seluruh indera mereka dan merangsangnya secara maksimal. Anak pun bisa jadi pribadi yang lebih kreatif dan sangat baik bagi perkembangan kognitifnya.
Sumber: AHA Parenting
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?