Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Ilustrasi
Dream - Seiring dengan bertambahnya usia, pikun atau demensia kerap dianggap sebagai suatu hal yang lumrah. Tapi anggapan itu ternyata salah, karena pikun dapat menyerang siapa saja tanpa memandang latar belakang dan usia.
Menurut Czeresna Heriawan Soejono, Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, matinya sel otak akibat demensia dapat menyebabkan Alzheimer mulai terjadi sejak usia muda, bisa mencapai 20 tahun sebelum terserang Alzheimer.
Dan faktanya, kata dia, jika perempuan lebih besar beresiko alami demensia dibandingkan laki-laki. Ada banyak hal yang menjadikan perempuan lebih beresiko besar.
Pertama, perempuan memiliki harapan hidup lebih besar dibandingkan laki-laki. Kedua, kadar hormon relatif langsung turun saat perempuan memasuki masa menopause.
" Kadar hormon estrogen yang konstan pada laki-laki menjadi faktor kaum Adam mengalami demensia lebih lambat," ujar Czeresna di acara Talkshow Demensia/Alzheimer di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta, kemarin.
Setidaknya ada hal utama yang dapat ditempuh sejak awal untuk mendeteksi gejala demensia. Kenali sepuluh gejala demensia yang bisa menjurus ke Alzheimer, seperti gangguan daya ingat, sulit fokus, sulit melakukan kegiatan sehari-hari, disorientasi waktu dan tempat.
Kemudian susah memahami visiospasial, gangguan berkomunikasi, menaruh barang tidak pada tempatnya, salah membuat keputusan, menarik diri dari pergaulan, serta perubahan perilaku dan kepribadian.
" Nah kalau sudah lihat tanda-tanda seperti di atas sebaiknya langsung lakukan konsultasi ke ahli karena penyakit ini tidak bisa dilakukan uji lab tapi harus dilakukan uji syaraf atau kejiwaan untuk mengetahui kondisi otak," kata Czeresna.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya