Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pasien Jalani Pemeriksaan (Shutterstock.com)
Dream - Pria berkebangsaan China meninggal dunia di Singapura dua minggu setelah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19. Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan, pria 41 tahun tersebut mengalami komplikasi akibat infeksi virus corona.
Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan kematian pria itu pada Sabtu 6 Juni 2020. Pria yang merupakan pasien kasus 11.714 itu meninggal pada Kamis 4 Juni 2020. Dia menjadi pasien yang wafat gara-gara komplikasi akibat Covid-19.
Pria itu sudah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19 pada 17 Mei silam. Namun pada 4 Juni, pria yang tak disebutkan identitasnya itu pingsan dan dinyatakan meninggal akibat tromboemboli atau pembekuan darah yang masif di paru-paru akibat infeksi Covid-19.
Emboli paru adalah penyumbatan di salah satu arteri di paru-paru. Dalam kebanyakan kasus, emboli paru disebabkan oleh pembekuan darah yang berjalan ke paru-paru dari vena di kaki atau dari bagian tubuh lain.
Pada 20 Mei 2020, Singapura mengeluarkan peringatan pada dokter tentang risiko tersebut. Menurut Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong, dokter telah disarankan " waspada" untuk gejala kardiovaskular pada pasien Covid-19, dan untuk memberikan panduan tentang evaluasi dan penanganan pasien.
Gan Kim Yong menambahkan, hampir satu banding seribu pasien mengalami kondisi cardiovascular, seperti serangan jantung dan pembekuan darah.
Sengan mengutip data internasional, Gan Kim Yong menambahkan bahwa pasien Covid-19 yang dirawat di unit perawatan intensif berisiko lebih tinggi, " karena mereka tidak dapat bergerak untuk waktu yang lama dan mungkin memiliki beberapa penyakit penyerta."
Dalam kondisi itu, tambah Gan Kim Yong, dokter di Singapura diimbau, " mengambil tindakan pencegahan ekstra seperti memantau [kecenderungan pembekuan darah] dengan teliti."
Dalam beberapa kasus, antikoagulan atau pengencer darah digunakan untuk mencegah pembekuan darah. " Namun, penggunaan anti-koagulan harus dipertimbangkan terhadap risiko perdarahan, dan dokter kami akan memutuskan berdasarkan kasus per kasus," tambah Gan.
Karena Covid-19 adalah penyakit baru, lanjut Gan Kim Yong, Singapura belajar lebih banyak seiring berjalannya waktu. Kementerian Kesehatan akan terus memantau bukti yang muncul, dan bekerja dengan para ahli klinis untuk memastikan perawatan dan hasil terbaik untuk pasien Covid-19.
Sumber: The Asian Parent
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya