Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

2 Minggu Sembuh dari Covid-19, Pria Ini Meninggal karena Darah Beku di Paru-Paru

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 9 Juni 2020 09:00
2 Minggu Sembuh dari Covid-19, Pria Ini Meninggal karena Darah Beku di Paru-Paru
Pria 41 tahun tersebut mengalami komplikasi akibat infeksi virus corona.

Dream - Pria berkebangsaan China meninggal dunia di Singapura dua minggu setelah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19. Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan, pria 41 tahun tersebut mengalami komplikasi akibat infeksi virus corona.

Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan kematian pria itu pada Sabtu 6 Juni 2020. Pria yang merupakan pasien kasus 11.714 itu meninggal pada Kamis 4 Juni 2020. Dia menjadi pasien yang wafat gara-gara komplikasi akibat Covid-19.

Pria itu sudah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19 pada 17 Mei silam. Namun pada 4 Juni, pria yang tak disebutkan identitasnya itu pingsan dan dinyatakan meninggal akibat tromboemboli atau pembekuan darah yang masif di paru-paru akibat infeksi Covid-19.

Emboli paru adalah penyumbatan di salah satu arteri di paru-paru. Dalam kebanyakan kasus, emboli paru disebabkan oleh pembekuan darah yang berjalan ke paru-paru dari vena di kaki atau dari bagian tubuh lain.

1 dari 2 halaman

Pada 20 Mei 2020, Singapura mengeluarkan peringatan pada dokter tentang risiko tersebut. Menurut Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong, dokter telah disarankan " waspada" untuk gejala kardiovaskular pada pasien Covid-19, dan untuk memberikan panduan tentang evaluasi dan penanganan pasien.

Gan Kim Yong menambahkan, hampir satu banding seribu pasien mengalami kondisi cardiovascular, seperti serangan jantung dan pembekuan darah.

Sengan mengutip data internasional, Gan Kim Yong menambahkan bahwa pasien Covid-19 yang dirawat di unit perawatan intensif berisiko lebih tinggi, " karena mereka tidak dapat bergerak untuk waktu yang lama dan mungkin memiliki beberapa penyakit penyerta."

Dalam kondisi itu, tambah Gan Kim Yong, dokter di Singapura diimbau, " mengambil tindakan pencegahan ekstra seperti memantau [kecenderungan pembekuan darah] dengan teliti."

2 dari 2 halaman

Dalam beberapa kasus, antikoagulan atau pengencer darah digunakan untuk mencegah pembekuan darah. " Namun, penggunaan anti-koagulan harus dipertimbangkan terhadap risiko perdarahan, dan dokter kami akan memutuskan berdasarkan kasus per kasus," tambah Gan.

Karena Covid-19 adalah penyakit baru, lanjut Gan Kim Yong, Singapura belajar lebih banyak seiring berjalannya waktu. Kementerian Kesehatan akan terus memantau bukti yang muncul, dan bekerja dengan para ahli klinis untuk memastikan perawatan dan hasil terbaik untuk pasien Covid-19.

Sumber: The Asian Parent

Beri Komentar