Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mbah Lindu Kala Menjajakan Gudeg Tradisional Buatannya Di Jalan Sosrowijayan (Sumber:Liputan6.com)
Dream – Gudeg Mbah Lindu memang sudah tak asing lagi bagi para penikmat kuliner khas kota Yogyakarta. Sang legenda gudeg diketahui telah menjajakan hidangannya sejak zaman penjajahan.
Namun masyarakat Yogyakarta kini kita tak bisa lagi mencicipi makanan olahan yang diracik oleh Mbah Lindu. Diketahui Mbah LIndu menghembuskan napas terakhir pada Minggu lalu (12/07), di Klebengan, Sleman, Yogyakarta.
Wanita yang memiliki nama asli Biyem Setyo Utama tersebut meninggal dunia di usia 100 tahun. Meninggalnya Mbah Lindu menyisakan duka mendalam bagi para penikmat gudeg buatannya.
Untuk mengenang sosok legendarisnya, berikut Dream telah merangkumkan 5 fakta mengenai Mbah Lindu, sang penjual gudeg legendaris Yogyakarta.
Mbah Lindu diketahui sudah berjualan gudeg sejak zaman penjajahan, kira-kira usianya saat itu 13 tahun. Kala itu Mbah Lindu biasa berkeliling Jogja untuk menjajakan gudeg buatannya sendiri.
" Nek kapane iki aku wis lali. Sak durunge Jepang teko. (Tahunya kapan saya sudah lupa, tapi sebelum Jepang datang). Wong Jepang datang itu saya sudah punya anak satu. Jualannya ya saya gendong, lalu jalan kaki berkeliling. Zaman dulu kan tidak ada bus kota," ujarnya kepada Liputan6.com pada 19 Januari 2016 lalu.
Kecintaan dan dedikasinya pada kuliner bercita rasa manis tersebut, Mbah Lindu rela berjalan kaki sejauh 5 kilometer ke tempat jualannya di daerah Jalan Sosrowijayan, tak jauh dari keramaian Malioboro.

Mbah Lindu mulai menjajakan gudeg sejak pukul 05.00 hingga 10.00 pagi. Dengan kondisi sederhana, gudeg buatannya selalu ramai dipenuhi para penikmat masakannya.
Jika pelanggannya memilih untuk membungkus pesanannya, Mbah Lindu punya cara tradisional untuk mengemas gudeg. Ia menggunakan daun pisang sebagai tempat dan membungkusnya dengan lidi yang ditusuk.
Sejak sang suami berpulang pada tahun 1970, Mbah Lindu berjualan ditemani anaknya, Ratiah. Tak patah semangat, Mbah Lindu tetap tegar sebagai tulang punggung keluarga.
" Senangnya jualan itu kalau bisa buat belanja, anak cucu bisa kenyang, sudah senang. Anak cucu tidak menangis," tutur Mbah Lindu dalam tayangan YouTube Maestro Indonesia RTV pada 5 April 2019 lalu.

Untuk mempertahankan cita rasa gudeg buatannya, Mbah Lindu masih menggunakan cara tradisional kala memasak gudeg.
Mbah Lindu dibantu oleh Ratiah memasak menggunakan kompor dari kayu bakar. Karena ingin mempertahankan cita rasa yang sama, keduanya bahkan harus memasak sejak siang hingga malam.
“ Si mbah sendiri yang memasaknya. Resepnya masih sama dari dulu ya seperti ini," ujar Mbah Lindu.
Sebelum meninggal dunia, Mbah Lintu sempat terjatuh di dapur pada Sabtu, 6 Juli lalu. Dirinya menjalani perawatan di RS Panti Rapih selama dua hari dan kemudian diperbolehkan pulang.
" Kata dokternya memang tidak ada yang sakit. Memang karena sudah tua saja. Kemudian disuruh pulang ke rumah. Di rumah ya masih sempat membantu masak dan mengupas telur," kata Ratiyah.
Ratiyah menyampaikan bahwa Mbah Lindu tutup usia karena penyakit tua. Sang legenda gudeg tersebut dimakamkan pada hari Senin, 13 Juli 2020 pukul 11.00 WIB di pemakaman umum Klebengan, Sleman, Yogyakarta.
Selamat Jalan Mbah Lindu, terima kasih sudah melestarikan gudeg tradisional yang lezat.
(Sumber:Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya