Minggu, 8 November 2026 Cari
News

Asteroid Pembunuh Dinosaurus Diduga Ikut Membantu Semut Menguasai Dunia, Bagaimana Bisa?

Minggu, 8 November 2026 12:00
Asteroid Pembunuh Dinosaurus Diduga Ikut Membantu Semut Menguasai Dunia, Bagaimana Bisa?

© ESO, CC BY 4.0, Via Wikimedia Commons

Enam puluh enam juta tahun lalu, sebuah asteroid menghantam Bumi, mengakhiri dominasi dinosaurus dan membawa kejayaan untuk semut.

DREAM.CO.ID - Enam puluh enam juta tahun lalu, sebuah asteroid menghantam Bumi dan mengakhiri dominasi dinosaurus. Peristiwa itu memicu kepunahan massal yang mengubah kehidupan di planet ini. Namun, di balik bencana besar tersebut, ada kelompok hewan yang justru mendapat peluang untuk berkembang: semut.

Serangga kecil yang kini dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia itu ternyata memiliki sejarah evolusi yang mungkin berkaitan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus. Penelitian terbaru mengungkap bahwa salah satu faktor yang membantu keberhasilan evolusi semut adalah bagian DNA yang selama ini dikenal sebagai jumping genes atau gen pelompat.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 27 Oktober 2026 tersebut dipimpin Lukas Schrader dari Institute for Evolution and Biodiversity, University of Münster, Jerman. Para peneliti menemukan bahwa peningkatan aktivitas gen pelompat terjadi berdekatan dengan periode kemunculan dan perkembangan sejumlah kelompok besar semut.

Temuan ini memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana semut berkembang menjadi salah satu kelompok serangga sosial paling sukses di Bumi. Saat ini, terdapat lebih dari 15.000 spesies semut yang telah diketahui hidup di berbagai wilayah dunia.

1 dari 3 halaman

Apa Itu Jumping Genes?

Jumping genes atau elemen transposabel merupakan bagian DNA yang dapat berpindah ke lokasi berbeda di dalam genom atau membuat salinan tambahan dari dirinya sendiri.

Dahulu, bagian DNA ini lebih sering dianggap sebagai semacam parasit genetik. Istilah tersebut digunakan karena gen pelompat dapat memperbanyak diri tanpa memberikan manfaat yang jelas bagi organisme tempat mereka berada. Dalam kondisi tertentu, aktivitasnya bahkan dapat mengganggu fungsi gen dan berkontribusi terhadap penyakit.

Namun, penelitian genetika dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa elemen transposabel tidak selalu merugikan. Perpindahan dan penggandaan bagian DNA ini dapat menciptakan perubahan genetik yang kemudian menjadi bahan bagi proses evolusi.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan bahwa kelompok semut dengan jumlah gen pelompat lebih banyak cenderung memiliki jumlah spesies yang lebih besar saat ini.

Para peneliti juga menemukan bahwa beberapa garis keturunan utama semut mengalami lonjakan aktivitas gen pelompat secara terpisah pada periode Paleogen awal, sekitar 66 juta tahun lalu. Periode ini berdekatan dengan kepunahan massal akibat hantaman asteroid dan terjadi sebelum kelompok-kelompok semut tersebut berkembang menjadi ribuan spesies seperti sekarang.

Lukas Schrader menjelaskan bahwa perubahan lingkungan setelah tumbukan asteroid memiliki konsekuensi besar bagi kehidupan. Penelitian mereka menemukan mekanisme genomik yang mungkin menghubungkan perubahan ekologis tersebut dengan diversifikasi semut, yakni aktivitas elemen transposabel.

Meski demikian, temuan ini menunjukkan hubungan yang berkaitan dengan proses evolusi, bukan bukti bahwa hantaman asteroid secara langsung membuat semut berkembang biak.

2 dari 3 halaman

Gen Pelompat Diduga Membantu Semut Mengenali Bau

Salah satu temuan paling menarik adalah hubungan antara aktivitas gen pelompat dan perkembangan sistem penciuman semut.

Semut sangat bergantung pada komunikasi kimiawi untuk menjalankan kehidupan koloninya. Mereka menggunakan sinyal berupa zat kimia untuk menemukan jalan, mengenali anggota kelompok sendiri, dan mengoordinasikan aktivitas dengan semut lain.

Kemampuan tersebut berkaitan dengan gen yang mengatur reseptor bau atau odorant receptors. Reseptor ini memungkinkan semut mendeteksi dan merespons berbagai aroma serta sinyal kimia di lingkungan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa aktivitas gen pelompat berkaitan dengan perluasan keluarga gen yang mengatur reseptor bau. Artinya, elemen transposabel mungkin turut membantu memperkaya sistem sensorik yang memungkinkan semut mendeteksi dan memahami pesan kimiawi.

Kemampuan mengenali sinyal tersebut sangat penting bagi kehidupan sosial semut. Tanpa sistem komunikasi kimiawi yang efektif, mereka akan kesulitan menemukan sumber makanan, mengenali anggota koloninya, dan mengatur berbagai aktivitas bersama.

Dengan demikian, perubahan genetik yang melibatkan gen pelompat mungkin ikut mendukung perkembangan perilaku sosial semut yang kompleks.

3 dari 3 halaman

Menelusuri Evolusi Semut Selama 100 Juta Tahun

Untuk memahami hubungan tersebut, tim peneliti membandingkan genom dari 163 spesies semut. Sampel itu mewakili 12 dari 16 subfamili semut yang masih bertahan hingga sekarang.

Melalui perbandingan genom tersebut, peneliti merekonstruksi perubahan aktivitas elemen transposabel selama sekitar 100 juta tahun terakhir. Hasilnya memperlihatkan adanya keterkaitan antara lonjakan aktivitas gen pelompat pada masa lampau dan diversifikasi kelompok semut pada periode berikutnya.

Pola serupa sebenarnya juga pernah ditemukan pada kelompok hewan lain. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas gen pelompat berkaitan dengan kemunculan spesies baru pada sejumlah kelompok, termasuk primata dan kelelawar.

Temuan ini memperlihatkan bahwa bagian DNA yang dahulu dianggap sekadar parasit genetik mungkin memiliki peran lebih besar dalam membentuk keanekaragaman kehidupan.

Asteroid yang mengakhiri era dinosaurus memang tidak secara langsung menciptakan semut modern. Namun, perubahan besar lingkungan setelah peristiwa tersebut mungkin membuka peluang evolusi bagi berbagai organisme. Pada semut, peluang itu diduga bertemu dengan perubahan genetik yang membantu mereka beradaptasi dan berkembang.

Penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan suatu kelompok hewan tidak hanya ditentukan oleh perubahan lingkungan, tetapi juga oleh dinamika kecil di dalam materi genetiknya. Bahkan, bagian DNA yang dahulu dianggap tidak berguna dapat menjadi salah satu faktor yang membantu membentuk keragaman kehidupan di Bumi.

Daftarkan email anda untuk berlangganan berita terbaru kami