Fakta Baru Guru SD Dipenggal di Prancis: Siswi Lapor ke Ayah Ternyata Berbohong

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 10 Maret 2021 13:30
Fakta Baru Guru SD Dipenggal di Prancis: Siswi Lapor ke Ayah Ternyata Berbohong
Samuel Paty tewas mengenaskan setelah diserang pemuda yang terpengaruh video viral dari laporan siswi SD yang ternyata telah berkata bohong.

Dream - Ingat dengan kasus mengrikan Samuel Paty, 47 tahun, seorang guru SD di Prancis yang tewas mengenaskan di jalanan? Paty tewas dengan kondisi leher bercucuran darah setelah seorang pria marah mendengar guru itu menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW di kelasnya.

Kematian Paty terjadi setelah seorang siswi melapor kepada ayahnya soal sang guru yang mengajar pelajaran kebebasan berpendapat hendak memperlihatkan gambar berisi kartun Nabi. Laporan itu memancing sang ayah membuat unggahan video di sosial media dan memicu kemarahan muslim lain.

Sebuah fakta baru terkait pembunuhan kejam muncul dengan informasi yang tak kalah mengejutkannya. Aksi pembunuhan dipicu informasi video viral di sosial media tersebut ternyata bberasal dari pengakuan siswi Perancis yang ternyata berbohong.

Siswi tersebut mengaku telah berbohong mengenai gurunya sebelum Paty tewas dipenggal tahun lalu. Siswi tersebut juga mengaku bersalah telah menyebut Paty meminta siswa Muslim keluar ruangan sebelum menunjukkan kartun yang pernah dimuat di buletin Charlie Hebdo itu.

Pengakuannya sangat mengejutkan. Ternyata ketika peristiwa itu terjadi, dia tidak berada di dalam kelas lantaran diskors sehingga tidak melihatnya secara langsung

" Dia berbohong karena merasa terjebak dalam lingkarannya (komunitas), karena teman-temannya meminta dia menjadi juru bicara," ujar kuasa hukum siswi tersebut, Mbeko Tabula, dikutip dari Sky News.

 

1 dari 5 halaman

Pengakuan Bohong

Media setempat, Le Parisien, melaporkan siswi tersebut mengadu kepada ayahnya dia diskors karena tidak setuju dengan Paty yang menunjukkan kartun tersebut di depan kelas. Pengakuan sang anak tersebut disambut kemarahan sang ayah yang memang dikenal temperamental.

Ayah siswi itu memulai kampanye media sosial atas insiden yang terjadi di sekolah putrinya dengan menggunggah dua video ke Facebook. Dia menyebut pria dalam video itu adalah Paty, guru di sekolah Conflans-Sainte-Honorine, barat Paris.

Jaksa penuntut menyatakan ada hubungan sebab-akibat langsung antara kampanye dan pembunuhan Paty.

 

2 dari 5 halaman

Tewasnya Paty

Dia tewas mengenaskan di luar sekolah oleh penyerang berusia 18 tahun, Abdullah Anzorov. Penyidik menyebut pelaku berusaha membalas dendam atas penggunaan gambar-gambar itu oleh korbannya.

Remaja itu ditembak mati oleh polisi tak lama setelah membunuh Paty.

Penggambaran Nabi Muhammad adalah tabu dalam Islam. Masalah ini sangat banyak terjadi di Prancis, sebagian karena Charlie Hebdo.

Majalah itu diserang pada 2015, ketika orang-orang bersenjata menyerbu kantornya dan membunuh 12 karyawan setelah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad.

3 dari 5 halaman

Guru Dipenggal Akibat Karikatur Nabi Muhammad, Imam Prancis Sebut Martir

Dream - Imam Prancis, Hassen Chalgoumi, menyatakan seorang guru yang tewas dipenggal akibat menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelas sebagai martir kebebasan bersuara. Dia juga membuat seruan ditujukan kepada masjid di seluruh Prancis untuk mendoakan guru tersebut saat sholat Jumat.

Chalgoumi, imam masjid di Drancy, kawasan sub-urban Paris, memberi peringatan kepada kelompok ekstremis Islam. Dia juga menyeru agar para orangtua tidak menanamkan kebencian terhadap Prancis.

Pernyataan tersebut disampaikan Chalgoumi saat berziarah bersama sejumlah pemimpin Islam Paris ke sekolah yang menjadi lokasi pembunuhan guru tersebut. Usai meletakkan bunga di depan pagar sekolah pada Senin, 19 Oktober 2020, dia mengingatkan umat Islam untuk segera bangun dan tersadar akan bahaya ekstremisme Islam.

" (Guru) adalah martir bagi kebebasan berekspresi, dan orang bijak yang telah mengajarkan toleransi, peradaban, dan rasa hormat kepada orang lain," ujar Chalgoumi.

4 dari 5 halaman

Ingatkan Umat Islam

Dia menegaskan, petinggi Islam harus melihat insiden pemenggalan tersebut sebagai seruan untuk bertindak.

" Rektor (pimpinan) masjid, para imam, para orangtua, kelompok masyarakat sipil, bangun, masa depanmu dipertaruhkan," kata Chalgoumi.

Dia juga mengingatkan ekstremis di Prancis terorganisir dengan baik dan tahu bagaimana memanfaatkan sistem hukum serta seberapa jauh mereka bisa melangkah. Chalgoumi juga menegaskan sudah saatnya umat Islam Prancis mengakhiri diskursus viktimisasi.

" Kita semua punya hak di Prancis, sebagaimana orang lain. Para orangtua seharusnya mengajarkan anak-anak mereka tentang kebaikan di republik ini," ucap dia.

5 dari 5 halaman

Insiden Pemicu

Awal Oktober, guru di Conflans-Sainte-Honorine, teridentifikasi sebagai Samuel Paty, menjadi korban pembunuhan. Pelaku terindentifikasi sebagai Abdoullakh Abouyezidevitch Anzonov, pemuda 18 tahun berdarah Chechen, Rusia.

Insiden pembunuhan ini dipicu aksi guru tersebut menunjukkan karikatur Nabi Muhammad yang dimuat di buletin Charlie Hebdo di dalam kelas. Gambar tersebut merupakan materi untuk pembelajaran mengenai kebebasan berekspresi.

Tetapi, hal itu ditanggapi berbeda oleh Anzonov dan menuding guru tersebut menghina Islam. Anzonov pun tega membunuh gurunya, merekam aksinya dan menyebarkan ke media sosial.

Sumber: National Post.

Beri Komentar