Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sriwijaya Air (merdeka.com)
Dream - Masyarakat Indonesia dibuat tersentak. Sabtu siang sekitar pukul 14.40 WIB, 9 Januari 2021, pesawat Boeing 737-500 milik maskapai Sriwijaya Air jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.
Pesawat dengan kode penerbangan SJ-182 itu mengangkut 62 orang yang terdiri dari 50 penumpang dan 12 awak.
Peristiwa nahas itu merupakan satu dari sekian kecelakaan yang terjadi di Laut Jawa. Terdapat sejumlah maskapai yang juga mengalami kecelakaan lokasi sama.
Sriwijaya Air menjadi kasus terkini kecelakaan pesawat fatal yang terjadi di Indonesia. Pesawat berisi 62 orang itu sedianya terbang dari Jakarta menuju Pontianak.
Pesawat dengan isi 12 kru dan 50 penumpang terdiri dari 40 dewasa, tujuh anak-anak dan tiga bayi itu lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 14.36 WIB. Beberapa saat kemudian, tepatnya pada pukul 14.40 WIB, pesawat dinyatakan hilang kontak.
Sebelum hilang kontak, pesawat tertangkap flight radar terbang tidak sesuai jalur. Melainkan mengarah ke barat laut lalu menghilang di Kepulauan Seribu.

Kecelakaan Lion Air JT-610 terjadi pada 29 Oktober 2018. Pesawat rute Jakarta-Pangkal Pinang ini jatuh di perairan Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Pesawat itu mengangkut 189 orang termasuk pilot dan co-pilot. Rinciannya, 179 penumpang dewasa, satu anak, dua bayi dan lima kru.
Peristiwa ini menyedot perhatian dunia penerbangan. Sebab, pesawat tersebut merupakan produk baru dari Boeing, tepatnya seri 737 MAX-8 yang diterima Lion Air dua bulan sebelum kecelakaan.
Peristiwa ini memaksa sejumlah maskapai dunia mengandangkan (grounded) armada 737 MAX-8 milik mereka. Salah satunya Singapore Airlines, sampai Boeing melakukan perbaikan total.

Pesawat milik maskapai berbasis di Malaysia ini mengalami kecelakaan fatal pada 28 Desember 2014. Pesawat ini sedianya meluncur dari Surabaya menuju Singapura.
Pesawat Airbus 320-200 yang mengangkut 155 penumpang dan 7 kru tersebut dinyatakan hilang kontak pada pukul 07.24 waktu Singapura atau 06.24 WIB. Sebelum hilang, sempat terjadi komunikasi antara pilot dengan menara Air Trafic Controller.
Pilot sempat meminta ini untuk naik dari ketinggian 32.000 kaki ke 38.000 kaki lantaran terdapat awan tebal Cumulonimbus. Pilot berusaha menghindari awan tersebut yang ternyata ketinggiannya mencapai 44.000 kaki.
Pesawat sempat miring ke kiri dan naik secara tiba-tiba di ketinggian 37.400 kaki dalam 30 detik. Diduga pesawat mengalami stall atau kehilangan daya dorong sebelum akhirnya terjun drastis ke ketinggian 32.000 kaki dalam waktu 30 detik hingga jatuh di laut.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya