Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

`Si Cantik yang Tak Bisa Diam`

Reporter : Ramdania
Kamis, 15 Oktober 2015 19:03
`Si Cantik yang Tak Bisa Diam`
Dia sosok yang tak pernah bisa diam. Sejak kuliah pun sudah menjabat ketua komunitas Hijaber di kampusnya.

Dream - Gadis itu langsung sumringah ketika namanya disebut. " Pemenang Dauky Dream Girls paling inspiring...Regita Kurniavi !" begitu sang pembawa acara memanggil namanya. Gita, yang dipanggil langsung maju ke tengah panggung di Piazza Open Stage, Gandaria City, Jakarta Selatan sore itu. Wajahnya melempar senyum kepada sekitar 200 penonton yang menyaksikan gelaran Final Dauky Dream Girls 2015. 
 
Dewan juri yang terdiri dari wanita-wanita aktif yang bergelut di bidang penulisan, kesehatan, fashion, dan kecantikan itu memang tak asal pilih. Gita, gadis 23 tahun yang mereka pilih itu memang telah mengisi kesehariannya dengan segudang aktifitas. Dia bukanlah gadis rumahan yang sibuk dengan dirinya sendiri. 
 
Dream.co.id berkesempatan menemani Gita saat menyaksikan perhelatan musik di pelataran Plaza Timur Gelora Bung Karno, Jakarta, akhir pekan lalu. Dia tampil memikat dengan jilbab, baju, dan rok berwarna biru senada. Rompi berenda digunakan sebagai pemanis dan sepatu berwarna cokelat hati dipilihnya untuk melengkapi penampilannya di hari itu. Anak kedua pasangan Soetopo dan Siti Djamaijah itu menunggu temannya, Hariyanti Sari. 
 
Sari, sang teman, bercerita perkenalannya dengan Gita melalui sebuah komunitas Sketchmagz.com." Aku sih pertama kali ketemu sama kak Gita saat di bukber puasa lalu. Sebetulnya kita beda divisi, aku bergabung di divisi fotografi. Kalau kak Gita tergabung di divisi desain. Terus dari situ semakin akrab," kata Sari.
 
Gita tak hanya terlibat di sebuah komunitas saja. Gadis yang kini bekerja sebagai staf Media Services Staff and Merchandising di sebuah televisi swasta di Jakarta itu mengisi waktunya dalam beberapa komunitas. Selain komunitas seni, dia juga terlibat di komunitas hijab, sosial, hingga lingkungan. " Ada yang aktif, tapi ada juga saya cuma follower saja," kata gadis kelahiran Jakarta ini. 
 
Salah satu komunitas yang paling aktif dijalaninya adalah menjadi bagian Green Departement Hijabspeak.com. Komunitas ini aktif mengampanyekan seruan cinta lingkungan. Seperti ajakan membawa botol minum sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik. " Selain kampanye membawa tumbler (tempat minum), aku juga sedang membantu mengampanyekan mengurangi pemakaian kantong plastik," katanya serius.
 
Kesibukan di organisasi itu bukan hal baru bagi Gita. Bahkan saat masih kuliah di Administrasi Bisnis Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), dia sempat menjabat Ketua Komunitas Hijaby IISIP. Dia sendiri mengaku baru berhijab saat memasuki usia 20 tahun. Saat itu dia merasa sangat ingin memperbaiki kualitas ibadahnya. Momentum itu pula yang memajunya untuk makin membenahi salat yang terkadang masih bolong. 

1 dari 1 halaman

Keluarga Tetap yang Utama

Keluarga Tetap yang Utama © Dream

Keluarga Tetap yang Utama  

Gita memang tak pernah bisa diam. Dengan kemampuannya menggunakan piranti lunak Adobe Photoshop, ia mengolah karya-karya desain lucunya.

Dia merancang desain-desain unik dengan menampilkan kata-kata bijak semisal " Choose to be happy and you?" , atau " Setiap kesulitan selalu sepaket dengan pelajaran" , hingga kalimat-kalimat ajakan untuk berhijab " Berhijab yuk!" .

Selain kalimat-kalimat itu sering kali Gita menampilkan hadis dan nukilan ayat suci Alquran. Terkadang pula, Gita mengeluarkan desain berisi nama-nama Allah atau Asmaul Husna.

Warna pastel sengaja dipilih untuk menunjukkan kesan feminim dan keunikannya, serta bisa meningkatkan mood. " Aku banyak belajar soal desain, lay out, dan lain-lain. Jadi kalau diminta mendesain apa, ya dibisa-bisa-in, soalnya tidak ada yang buat," kata gadis kelahiran 14 Februari 1992 ini.

Gita mulai mencoba mengawali bisnisnya dengan mengusung merk @Shalihabrand. Kedekatan dia dan ibunya, tidak hanya sebatas ibu dan anak, tetapi juga rekan bisnis. Yakin dengan kualitas jahitan tangan sang ibu, dia pun mengajak ibunya merealisasikan ide-ide desain hijab fesyen miliknya.

" Ibu sekarang bantu di proyek aku, jahitannya kan aku sudah tahu bagusnya, cuma kadang-kadang ibu kan harus kerja yang lain, jadi suka tidak fokus juga," ujar Gita.

Namun, impian Gita tidak hanya sebatas produksi pakaian muslim dalam jumlah sedikit yang bisa dikerjakan hanya oleh seorang penjahit. Gita memiliki mimpi besar untuk memperkerjakan para tetangganya yang mahir menjahit untuk memperbesar bisnis fesyen muslim miliknya.

" Kalau bisa orang-orang terdekat dulu yang kita ajak. Di dekat rumah kan banyak ibu yang bisa menjahit. Jadi kalau bisa mereka dulu yang kita bantu," jelasnya.

Dengan bisnis yang dirintisnya ini, Gita berharap bisa membantu keluarganya, terutama dari sisi keuangan. " Ke depan saya ingin fokus ke keluarga, ya dengan bisnis ini kan untuk keluarga juga hasilnya. Mumpung masih single," katanya.

Gita yakin dengan usaha yang keras semua orang bisa meraih mimpinya. Menurutnya, mimpi bukanlah bunga tidur semata, tetapi target yang harus dicapai.

" Jangan takut bermimpi, tetapi mimpi jangan asal mimpi. Meski mustahil, tetapi kalau aku nekat, aku yakin bisa mewujudkannya," tegas Gita.

Hari semakin sore, cuaca di sekitar Gelora Bung Karno sedikit berawan. Beberapa penonton yang tadinya memadati depan panggung utama menarik diri. Namun, tidak buat Gita. Ia justru mendekati tengah panggung ketika band favoritnya, Mocca mulai tampil.

Kelompok musik anak muda asal Bandung itu bukan hanya menghibur, namun semangat mereka tak kalah hebatnya. Rekaman group Indie ini sudah menembus batas negara. Penggemar mereka bertebaran di Singapura, Thailand, Jepang, hingga Korea Selatan.

Mocca memang tak banyak sensasi. Sebuah semangat yang banyak menginspirasi anak muda dunia. Sebuah gelora untuk mandiri yang juga diserap oleh Regita Kurniavi.

Beri Komentar