Fatwa MUI: Tes Swab Deteksi Covid-19 Tak Batalkan Puasa

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 9 April 2021 20:01
Fatwa MUI: Tes Swab Deteksi Covid-19 Tak Batalkan Puasa
Umat Islam tetap menjalankan puasa meski harus swab.

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menerbitkan fatwa seputar ibadah puasa di tengah pandemi Covid-19. Dalam Fatwa Nomor 23 Tahun 2021 tentang Hukum Tes Swab Untuk Deteksi Covid-19 Saat Berpuasa, MUI menyatakan tes swab tidak membatalkan puasa.

" Pelaksanaan tes swab sebagaimana dalam ketentuan umum tidak membatalkan puasa," demikian bunyi fatwa tersebut yang ditandatangani Ketua Bidang Fatwa MUI, KH Asrorun Niam Sholeh, dalam salinan yang diterima Dream.

Pada bagian ketentuan umum, MUI menerangkan tes swab adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Caranya dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring (bagian pada tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut) dan orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan).

" Umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes Swab untuk deteksi Covid-19," bunyi fatwa berikutnya.

1 dari 5 halaman

Rekomendasi MUI

Tes dengan metode swab saat ini digunakan untuk deteksi Covid-19. Metode ini diterapkan pada pengujian berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) maupun Antigen.

MUI juga memberikan dua rekomendasi dalam fatwa tersebut. Rekomendasi pertama yaitu mengimbau masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan agar selamat dari penularan Covid-19.

" Pemerintah agar melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan dengan ketat, supaya pandemic Covid-19 segera berakhir," demikian rekomendasi MUI.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

2 dari 5 halaman

Fatwa MUI: Vaksinasi Covid-19 Injeksi Tak Batalkan Puasa Ramadan

Dream - Majelis Ulama Indonesia menerbitkan fatwa terbaru berisi vaksinasi yang dijalankan pada bulan Ramadan. Fatwa yang diputuskan dalam rapat pleno Komisi Fatwa menetapkan vaksinasi Covid-19 tidak membatalkan ibadah puasa Ramadan.

" Vaksinasi Covid-19 yang dilakukan dengan injeksi intramuscular tidak membatalkan puasa," ujar Ketua Bidang Fatwa MUI, KH Asrorun Niam Sholeh, dikutip dari laman resmi MUI.

Fatwa tersebut dituangkan dalam Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid-19 pada Saat Berpuasa. Kiai Niam mengatakan fatwa ini sebagai panduan umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadan dengan terpenuhi kaidahnya sekaligus mendukung upaya mewujudkan herd immunity.

Kiai Niam menyampaikan vaksinasi merupakan cara pemberian vaksin melalui penyuntikan atau meneteskan ke dalam mulut untuk meningkatkan produksi antibodi. Pada kasus Covid-19, vaksin yang digunakan adalah jenis vaksin suntikan melalui otot atau injeksi intramuscular.

" Hukum melakukan vaksinasi Covid-19 bagi umat Islam yang sedang berpuasa dengan cara injeksi intramuskular adalah boleh, sepanjang tidak menyebabkan bahaya (dharar)," kata dia.

 

3 dari 5 halaman

Vaksinasi di Malam Hari

Dalam fatwa tersebut, MUI juga merekomendasikan Pemerintah menjalankan vaksinasi Covid-19 pada bulan Ramadan. Tetapi juga harus memperhatikan kondisi umat Islam yang sedang berpuasa.

Sehingga, MUI menyarankan agar vaksinasi digelar di malam hari. Apabila dilaksanakan di siang hari dikhawatirkan membahayakan masyarakat sedang berpuasa mengingat kondisi fisik yang lemah.

" Umat Islam wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari wabah Covid-19," ucap Niam.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 5 halaman

Kemenag: Saudi Janji Indonesia Jadi Negara Pertama Terima Kabar Musim Haji 2021

Dream - Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama, Khoirizi, mengungkapkan Indonesia akan menjadi negara pertama yang mendapat informasi mengenai kepastian penyelenggaraan haji dari Pemerintah Arab Saudi. Hal ini didapat setelah Khoirizi bersama sejumlah pejabat Ditjen PHU bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi, Esam Abid Althagafi.

" Kepada kami, Dubes menyampaikan bahwa Indonesia akan menjadi negara pertama yang menerima informasi kepastian haji, mengingat jumlah jemaahnya terbesar di dunia," ujar Khoirizi, dikutip dari Kemenag.

Pertemuan dengan Dubes Saudi berlangsung pada Selasa, 16 Maret 2021. Khoirizi menyatakan silaturahmi tersebut membahas kepastian serta persiapan haji 2021.

" Pertemuan juga membahas kemungkinan kunjungan tim akomodasi, katering, dan transportasi untuk melakukan persiapan pengadaan layanan jemaah haji 1442H/2021M di Saudi," kata dia.

 

5 dari 5 halaman

Khoirizi juga mengatakan Esam menjelaskan sampai saat ini belum ada keputusan terkait penyelenggaraan haji. Dalam pertemuan itu, didapat informasi mengenai rencana Saudi meminta update data penduduk Muslim kepada seluruh negara pengirim jemaah haji.

" Ini sepertinya akan digunakan untuk pemutakhiran pemberian kuota haji setiap negara pada musim-musim haji yang akan datang," ucap dia.

Diketahui, selama ini kuota haji ditetapkan dengan perhitungan 1 per 1.000 penduduk Muslim di suatu negara. Perhitungan ini mengacu pada Keputusan Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja sama Islam di Amman, Yordania, pada 1987.

Berdasarkan perhitungan tersebut, kuota jemaah haji Indonesia tiap tahunnya yaitu 211 ribu orang. Kuota itu dibagi menjadi 194 ribu untuk jemaah haji reguler dan 17 ribu jemaah haji khusus.

Beri Komentar