6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Aksi Siswa SMP Di Gunungkidul, Yogyakarta Yang Viral Di Media Sosial (Foto: Twitter)
Dream - Seorang remaja lelaki membawa celurit ke sekolah. Aksi nekat itu dilakukannya untuk meminta ponsel miliknya yang tengah disita dikembalikan.
Video ini menjadi sorotan warganet usai diunggah di Twitter @jogjaupdate. Dilaporkan Pidjar.com, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 5 September 2019 di SMP Negeri 5 Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta.
Remaja yang membawa celurit tersebut berinisial G, siswa kelas 8 SMP Negeri 5 Ngawen.
Ponsel milik G disita guru agama lantaran ketahuan bermain gim saat jam pelajaran. Aturan sekolah memang tidak mengizinkan siswa bermain ponsel ketika jam belajar mengajar.
" Rasanya marah pas hp saya diambil," kata G, Rabu, 11 September 2019.
Usai insiden itu, G melanjutkan pelajaran hingga selesai. Sore harinya, dia menghubungi guru agama yang menyita ponselnya, Nazid.
Dalam pesan singkat itu, G bertanya kapan Ponselnya dapat diambil. Tapi, seiring percakapan yang muncul, remaja berperawakan tinggi itu marah.
Dia menulis nada ancaman akan mengobrak abrik sekolah, andai Ponsel miliknya tak juga dikembalikan.
Keesokan harinya, ketika setengah pelajaran berlangsung, emosi G memuncak. Dia membawa celurit di rumah dan kembali ke sekolah.
" Saya emosi ingin mengambil handphone saya. Saya membawa sabit ingin mengambil handphone saya," kata dia.
Takut terjadi apa-apa, seperti yang terlihat di video, si guru melempar ponsel milik G. Setelah ponsel miliknya dikembalikan G pulang.
Wali kelas G, Estuarso mengatakan, kejadian ini murni karena G ingin ponselnya kembali. Tetapi, dia tak mengetahui prosedur yang benar untuk mengembalikan ponsel.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP 5 Ngawen, Sriyana mengatakan, meski sempat ada insiden ini, sampai saat ini G masih berstatus sebagai siswanya.
Pihak sekolah juga tidak akan mengeluarkan G dan selalu memberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah.
“ Dia tetap anak didik kami dan akan kami bimbing siswa didik kami,” ucap Sriyana.
(Sah, Sumber: Pidjar.com)
Tidak terjadi di generasi 90an
*konon kabarnya terjadi di Gunungkidul @zumha_ pic.twitter.com/IUg67Xj5PY— jogjaupdate.com (@JogjaUpdate)September 11, 2019
Dream - Di zaman sekarang, banyak orang yang merasa pesimistis dengan sikap generasi mudanya. Ada kekhawatiran, generasi sekarang tidak memiliki rasa empati dan simpati terhadap sesama.
Kekhawatiran timbul karena semakin pesatnya teknologi, terutama digital, yang sudah membuat kaum muda adiktif.
Generasi saat ini lebih sibuk dengan dunia maya daripada kehidupan di dunia nyata. Namun, kisah pelajar dari Malaysia berikut ini telah membuka mata semua orang.
Tidak semua generasi sekarang memiliki sikap acuh dan merendahkan orang-orang berkebutuhan khusus.
Maslika Ramli, seorang anggota grup Facebook Autisme Malaysia, membagikan kisah yang mengharukan.
Melalui video yang direkam dan dibagikannya, dia ingin menginspirasi orang-orang tentang kasih sayang di zaman sekarang.
Maslika, yang seorang guru, secara tidak sengaja melihat perbuatan muridnya yang menyentuh hatinya.
Di pagi hari itu, Maslika melihat muridnya menggendong temannya yang berkebutuhan khusus.
Dalam video, murid Maslika terlihat sedang menggendong temannya menderita autisme di tengah guyuran hujan.
Sambil menembus derasnya hujan, tangannya memegang temannya di belakang. Sementara tangan satunya memegang payung.
Maslika benar-benar terharu dengan perbuatan muridnya itu. Maslika mengatakan gadis yang menggendong temannya itu adalah murid kelas tiga di sekolahnya.
Dengan membagikan video itu, Maslika ingin agar orang tua murid berkebutuhan khusus tidak usah berkecil hati.
" Saya ingin orangtua murid berkebutuhan khusus agar tidak usah berkecil hati tentang anak mereka. Yakin dan percaya bahwa masih ada orang-orang yang menyayangi mereka," tulis Maslika.
Pelajar dalam video Maslika itu mendapat pujian dari netizen. Mereka merasa iri dengan orang tua pelajar berhati emas itu.
" Selamat kepada orangtua dan guru-guru yang mengajarkan tentang sikap baik dan peduli kepada pelajar ini," komentar seorang netizen.
Sementara yang lain menimpali, dengan mengatakan, " Pelajar seperti ini benar-benar sebuah anugerah dari Allah. Mereka selalu siap menolong dalam kondisi apa pun."
" Guru dan kepala sekolah harus tahu tentang pelajar ini. Supaya dia diberi penghargaan dan menjadi contoh bagi siswa yang lain," tambah seorang netizen.
Sejak dibagikan, video Maslika itu mendapat 2.000 komentar dan telah dibagikan sebanyak lebih dari 200 kali.
(ism, Sumber: World of Buzz)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
