Hepatitis Akut Misterius pada Anak, Perkembangan di Indonesia

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 16 Mei 2022 19:25
Hepatitis Akut Misterius pada Anak, Perkembangan di Indonesia
Sudah lima anak meninggal akibat penyakit ini

Dream – Berdiri di atas lahan seluas 68.705 meter persegi, Gedung Pusat Kesehatan Ibu dan Anak (PKIA) Kiara adalah bagian dari Rumah Sakit Umum Pusat dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), di Jalan Dipenogoro, Salemba, Jakarta Pusat.

Gedung itu terlihat menjulang megah dengan warna yang didominasi biru dan putih.  Gedung itu terdiri dari 12 lantai dan dua lantai ruang bawah tanah.

PKIA Kiara RSCM© PUPR

Masuk ke aula lantai satu, mata pengunjung akan segera disambut tokoh-tokoh kartun yang dekat dengan anak-anak yang dilukis di dinding, seperti tokoh singa lucu bernama Simba. Ada juga Donald Bebek dan Guffi sahabatnya. Selain itu, kursi ruang tunggu juga dicat warna-warni cerah, membuat ruang aula rumah sakit itu terasa nyaman bagi anak-anak.  

Namun, dua pekan lalu, kabar buruk justru menyebar dari gedung khusus perawatan anak-anak di RSCM itu: Tiga anak meninggal dunia akibat hepatitis akut misterius.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.,  dan dokter spesialis anak RSCM yang juga lead scientist, Prof. Dr. dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K), mengumumkan kematian tiga anak itu dalam konferensi pers daring, Kamis 5 Mei 2022, seperti dikutip Liputan6.

Dokter Siti Nadia Tarmizi menjelaskan ketiga anak yang meninggal dunia itu diduga karena penyakit hepatitis akut misterius.

Dokter Siti Nadia Tarmizi© Liputan6

(Dokter Siti Nadia Tarmizi /Liputan6)


Berdasarkan hasil sementara investigasi kontak yang dilakukan Kemenkes dan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, diiketahui ketiga anak tersebut datang ke rumah sakit sudah pada kondisi stadium lanjut.

" Karena datang sudah pada kondisi stadium lanjut, hanya memberikan waktu sedikit bagi tenaga kesehatan dan rumah sakit untuk kemudian melakukan tindakan pertolongan," kata Nadia. Akibatnya tiga anak itu meninggal dunia.

Hanifah membenarkan bahwa ketiga kasus hepatitis misterius awal itu datang dalam kondisi berat dan rujukan dari rumah sakit di Jakarta. Ketiga pasien itu dirujuk dari rumah sakit di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Ini terjadi selama periode 15 April sampai 30 April 2022.

" Kita sudah mencoba merawatnya di ICU dan tidak tertolong, karena pada saat datang kondisinya sangat-sangat berat," kata dr Hanifah.

Hanifah, menjelaskan, keluhan utama dari hepatitis akut misterius yang dialami pasien-pasien tersebut berasal dari saluran cerna.

" Ketiga pasien mengeluhkan mual, muntah, dan diare hebat," ujarnya.  Ketiganya juga mengalami jaundice atau gejala kuning yang tampak di kulit dan mata.

Dari hasil investigasi itu Kemenkes dan Dinkes DKI Jakarta juga tidak menemukan adanya anggota keluarga lain dengan riwayat penyakit hepatitis atau penyakit kuning sebelumnya.

Ketiga anak yang meninggal karena  hepatitis akut misterius itu berumur 2 tahun, 8 tahun, dan 11 tahun. Nadia menjelaskan, kasus usia 2 tahun belum mendapatkan vaksinasi COVID-19, yang 8 tahun baru dosis pertama, dan yang berumur 11 tahun sudah vaksinasi lengkap. " Ketiganya negatif COVID-19," kata Nadia.

Kabar duka itu tak berhenti di Jakarta. Berita duka juga datang dari Sumatera Barat. Seorang bayi berumur dua bulan asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat, meninggal dunia karena penyakit hepatitis misterius.  Bayi tersebut sempat dirujuk dari puskesmas di Solok, RSUD sebelum dirawat di RS Hermina Padang. Sayangnya, akhirnya bayi itu meninggal dunia pada 2 Mei 2022.

Sepekan kemudian, seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, juga meninggal dunia karena  virus hepatitis akut misterius. Anak ini meninggal dunia, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Iskak Tulungagung pada Jumat, 6 Mei 2022.  Ia mengalami sakit beberapa hari dengan gejala menyerupai serangan virus hepatitis akut misterius. Tubuh korban menguning, mual, disertai diare dan demam.

Dengan demikian, sampai tulisan ini dibuat, sudah lima anak meninggal di Indonesia akibat hepatitis akut misterius.

***

Selain korban meninggal dunia, Indonesia sejauh ini telah mencatat 15 kasus hepatitis akut misterius yang disebut Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology).

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers virtual pada Senin 9 Mei 2022, ketika kasus pertama dilaporkan pada 27 April, Indonesia segera mengeluarkan surat edaran yang meminta semua rumah sakit dan dinas kesehatan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan kasus tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin© Liputan6

(Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin/Liputan6)

Dia mengatakan Singapura mengumumkan kasus pertamanya tiga hari kemudian. “ Pada 30 April, Singapura mengumumkan kasus pertamanya dan sejauh ini sudah ada 15 kasus di Indonesia,” katanya.

Lima belas kasus di Indonesia itu terdeteksi di lima provinsi, yaitu DKI Jakarta (11), Jawa Barat (1), Jawa Timur (1), Sumatera Barat (1), dan Bangka Belitung (1).

Ia menambahkan, sebagian besar kasus hepatitis akut misterius telah dilaporkan di Inggris, yang telah menemukan lebih dari 100 kasus. Ini diikuti oleh kasus di Italia, Spanyol dan Amerika Serikat.

Menurut Budi, pemerintah Indonesia telah berkoordinasi dengan pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Inggris dan AS, sehari setelah liburan Idul Fitri pada 2 Mei.

" Kami sendiri sudah melakukan koordinasi dan diskusi dengan teman-teman dari CDC Amerika dan juga Inggris sehari sesudah Lebaran 2022," jelas Budi Gunadi.

" Dan kami sudah mendapatkan banyak informasi dari mereka. Ya, memang kesimpulannya, belum bisa dipastikan virus apa yang 100 persen menyebabkan penyakit hepatitis akut ini," tuturnya.

Dari hasil diskusi dengan AS dan Inggris, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, adanya kemungkinan infeksi Adenovirus strain 41 yang menjadi penyebab hepatitis akut misterius. Namun, hal ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

" Ya, kemungkinan besar (penyebabnya) adalah Adenovirus strain 41. Tapi ada juga banyak kasus yang tidak ada  Adenovirus strain 41 ini," ujarnya.

" Jadi, kita masih melakukan penelitian bersama-sama dengan Inggris dan Amerika untuk memastikan penyebabnya," lanjutnya.

Hingga Senin, 9 Mei 2022, sedikitnya lima kematian dilaporkan di Indonesia akibat kasus hepatitis akut pada anak-anak.

Meski penyebab pastinya belum ditentukan, para peneliti sedang mempelajari kemungkinan patogen yang disebut adenovirus memainkan peranan sebagai penyebab.

Menurut Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) adenovirus adalah patogen paling umum yang ditemukan pada 40 dari 53 kasus terkonfirmasi yang diuji di Inggris.

Adenovirus adalah sekelompok besar virus yang dapat menginfeksi berbagai hewan dan juga manusia. Subtipe yang terkait dengan wabah hepatitis akut pada anak-anak saat ini disebut adenovirus subtipe 41, dengan virus yang terdeteksi pada setidaknya 74 kasus.

Subtipe 41 termasuk dalam pengelompokan adenovirus yang biasanya dikaitkan dengan gastroenteritis ringan hingga sedang, yang pada dasarnya penyakit perut dengan gejala diare, muntah, dan sakit perut.

" Penyakit ini menyerang (anak-anak) di bawah 16 tahun, lebih banyak lagi di bawah 5 tahun," kata Menkes Budi.

Untuk itu, Menkes mengimbau agar masyarakat lebih waspada jika gejala dari penyakit hepatitis ini muncul. Jika gejala seperti buang air besar dan demam muncul, Menkes mengimbau agar anak segera menjalani pemeriksaan SGOT dan SGPT, yang sering menjadi acuan untuk kesehatan fungsi hati.

Ia pun menjelaskan, ciri dari anak yang tertular hepatitis akut ini adalah tingginya tingkat serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) di atas 100.

SGOT adalah enzim yang biasanya ditemukan di organ hati (liver), jantung, ginjal hingga otak, sementara SGPT adalah enzim yang banyak dijumpai di dalam hati.

" Biasanya kalau dia (anak) buang air besar dan kemudian mulai ada demam, nah itu di cek SGPT & SGOT-nya. Kalau sudah di atas 100, lebih baik dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat," jelas Menkes Budi.

" Karena, SGPT & SGOT normalnya itu di level 30-an. Kalau sudah naik agak tinggi, sebaiknya diarahkan ke fasilitas kesehatan terdekat," tandas Menkes Budi.

***

Prof Hanifah Oswari juga membeberkan sejumlah gejala awal penyakit hepatitis akut misterius pada anak, yakni adanya gangguan pada saluran cerna seperti diare, mual, muntah, sakit perut, dan terkadang disertai demam ringan.

Prof Hanifah Oswari© Liputan6

(Prof Hanifah Oswari/Liputan6)

Jika berlanjut, akan muncul gejala penyakit hepatitis berat, seperti buang air kecil dengan warna seperti teh, feses atau kotoran buang air besar yang berwarna keputihan atau pucat, dan mata atau kulit berwarna kuning.

" Jadi jangan menunggu gejalanya sampai kuning, jangan menunggu sampai gejalanya lebih berat. Karena kalau lebih berat dokter menjadi kehilangan momentum untuk bisa menolong lebih cepat," imbuhnya.

Hepatitis akut sebenarnya bukanlah hal yang baru. Namun, khusus untuk hepatitis misterius dengan gejala berat yang banyak dibicarakan belakangan ini, belum diketahui pasti penyebab sebenarnya. Dan, terjadinya pun di waktu yang bersamaan serta sangat cepat.

" Umumnya, penyebabnya karena hepatitis A, B, C, D maupun E. Tetapi kasus ini bukan disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C, D  dan juga E," kata dr Hanifah.

" Khususnya lagi, dia menyerang anak-anak usia di bawah 16 tahun, tapi lebih banyak lagi di bawah usia 10 tahun," dia menambahkan.

Dilanjutkan pria yang sehari-hari berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini bahwa hepatitis akut misterius ini mulainya diketahui dengan gejala gastrointestinal terlebih dahulu. " Seperti misalnya diare, mual, muntah, sakit perut, yang kadang-kadang disertai dengan demam ringan," katanya.

" Lalu berlanjut dengan gejala ke arah hepatitis, yaitu anaknya mengeluarkan buang air kecil seperti teh, buang air besar pucat, dan mata serta kulitnya kalau diperhatikan berwarna kuning," ujarnya.

Pada saat itu, bila dokter memeriksa kadar SGOT atau SGPT ---yang merupakan enzim hati--- didapatkan salah satu atau kedua enzim meningkat di atas 500 µ/mL (per mililiter).

Bila berlanjut lagi gejalanya, Hanifah mengatakan, pasien akan mengalami pembekuan darah. Dan, selanjutnya akan mengalami penurunan kesadaran yang dapat berlanjut lagi menjadi terjadinya kematian bila tidak segera dilakukan transplantasi hati.

Hepatitis akut misterius pada anak© Tek Deeps

Menurut Prof.dr. Hanifah, kebanyakan dari virus-virus ini diduga  penularannya melalui saluran cerna dan saluran napas.

Oleh sebab itu, menurutnya, pencegahan yang bisa dilakukan adalah menjaga jangan sampai anak terkena infeksi virus melalui jalan masuknya virus. Yakni dari saluran cerna dan saluran nafas.

Caranya, katanya, biasakan untuk mencuci tangan dengan sabun, terutama saat ingin makan atau minum. Selain itu, pastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi matang, tidak menggunakan alat-alat makan bersamaan dengan orang lain, serta menghindari kontak anak-anak dari orang yang sakit agar anak-anak tetap sehat.

" Untuk menjaga infeksinya dari saluran napas, kita bisa melakukan protokol kesehatan yang umumnya sudah kita kenal untuk menjaga dari COVID-19, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan lain-lain," ujarnya.

Penyakit hepatitis akut misterius memang menyeramkan. Dan penyakit ini sudah memakan korban jiwa di Indonesia. Lima anak meninggal dunia. Belasan anak lainnya juga terpapar. Disiplin pola hidup sehat dan protokol kesehatan karenanya harus terus dipraktikkan pada anak-anak secara ketat. Paling tidak sampai penyakit misterius ini diketahui penyebabnya dan ditemukan obatnya. (eha)

Beri Komentar