Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto : Shutterstock
Dream- Para ilmuwan terus mencari vaksin yang efektif untuk membasmi virus covid-19 yang telah menyerang hampir seluruh negara di dunia. Di tengah pencarian vaksin, sebuah jenis teknologi baru diklaim bisa mendisinfeksi ruangan dan barang dari mikroorganisme seperti bakteri, jamur, protozoa hingga virus, termasuk virus penyebab Covid-19.
Dilansir dari Indiatimes, teknologi tersebut menggunakan lampu atau alat steril dari sinar ultraviolet C (UV-C) dari hasil penelitiam tim ilmuwan di Columbia University Medical Center, Amerika Serikat. Teknologi tersebut mengklaim dapat membunuh virus corona di tempat umum.
Bahkan para ilmuwan yang mempublikasikan hasil temuannya dalam Scientific Reports mengaku sinar ultraviolet ini aman digunakan di sekitar manusia.
Studi ini dipublikasikan dalam American Journal of Infection Control. Mereka mengklaim bahwa sinar ultraviolet-C (UVC) dengan panjang gelombang 222 nanometer (nm) dapat membunuh virus SARS-CoV-2, tanpa menembus kulit manusia.
Sebelumnya, peneliti dari Universitas Hiroshima di Jepang telah mempelajari hal yang sama dalam memberantas virus corona musiman yang secara struktural mirip dengan novel coronavirus tetapi tidak pada SARS-CoV-2 itu sendiri.
" Studi terbaru menunjukkan bahwa 222-nm UVC kurang berbahaya daripada 254-nm UVC karena sinar UVC jauh memiliki kedalaman penetrasi yang sangat terbatas di kulit atau mata, dan juga merupakan teknologi anti-mikroba yang efisien," kata studi tersebut.
Untuk penelitian tersebut, para ahli menyebarkan larutan 100 mikroliter yang mengandung virus corona ke piring polistiren steril berukuran sembilan sentimeter. Setelah itu, mereka membiarkannya mengering dalam lemari biosafety pada suhu kamar sebelum menempatkan lampu Far-UVC 24 sentimeter di atas permukaan pelat.
Studi tersebut mengungkapkan bahwa 99,7 persen kultur virus SARS-CoV-2 terbunuh dalam paparan 30 detik terhadap radiasi UVC 222 nm.
Penelitian menemukan bahwa pada panjang gelombang 222 nm ini, UVC gagal menembus lapisan luar mata dan kulit manusia yang tidak hidup. Artinya bentuk radiasi UV ini tidak akan membahayakan sel-sel hidup di bawahnya.

Para peneliti percaya bahwa ini juga merupakan alternatif yang ampuh untuk lampu kuman 254 nm UVC yang lebih merusak yang digunakan dalam mendisinfeksi fasilitas kesehatan. Namun, para peneliti juga menyebutkan bahwa mereka hanya menyelidiki kemanjuran 222 nm UVC dalam kondisi laboratorium.
" Kami tidak mengevaluasi teknologi ini dalam pengaturan dunia nyata, seperti permukaan meja," ujar para ilmuan.
Sekarang, mereka ingin mengevaluasi lebih lanjut keamanan dan efektivitas penyinaran UVC 222 nm dalam membunuh virus SARS-CoV-2 di permukaan dunia nyata, untuk menentukan apakah itu dapat digunakan untuk membunuh virus di kehidupan nyata.
(Sah, Sumber : Indiatimes)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya