Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Memantau Gerhana Bulan Dengan Teleskop (KLY)
Dream - Gerhana bulan menghias langit Indonesia, dini hari tadi, Rabu, 17 Juli 2019. Tidak hanya di Indonesia, fenomena alam ini juga berlangsung hampir di seluruh dunia.
Di tanah air, warga bisa melihat gerhana bulan ini dengan mata telanjang. Banyak orang tidak ingin melewatkan fenomena alam ini. Mereka berkumpul di titik tertentu guna menyaksikan keindahan gerhana bulan.
Di Jakarta, masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana bulan berkumpul di Taman Ismail Marzuki, Cikini. Mereka mengamati gerhana bulan baik dengan mata telanjang maupun menggunakan teleskop yang disediakan oleh pengelola Planetarium.
Selain menyaksikan gerhana, masyarakat mendapat pembekalan dari Planetarium Jakarta. Materi yang disampaikan adalah seputar fase terjadinya gerhana bulan dan ciri-cirinya.
Tak hanya di TIM, sebagian masyarakat juga berkumpul di Taman Lapangan Banteng. Gerhana bulan terlihat cukup jelas di taman ini.
Sebagian warga DKI Jakarta menyaksikan gerhana bulan di Taman Lapangan Banteng. Di taman ini, gerhana bisa terlihat dengan mata telanjang.

(Kredit: KLY)

(Kredit: KLY)
Fase gerhana bulan saat puncak. Terlihat bagian bulang yang bercahaya membentuk sabit.

(Kredit: KLY)
Gerhana bulan yang terjadi dini hari tadi dapat disaksikan dengan mata telanjang. Meski demikian, tidak sedikit orang yang tertarik melihat fenomena alam ini dengan teleskop atau teropong bintang.

(Kredit: KLY)
Untuk menyaksikan peristiwa alam ini, Planetarium Jakarta menyediakan beberapa teleskop. Masyarakat memakai teleskop tersebut untuk melihat penampakan bulan secara bergantian.

(Kredit: KLY)
Dalam acara nonton bareng gerhana bulan dini hari tadi, Planetarium juga memberikan pembekalan materi kepada masyarakat seputar gerhana bulan. Materi tersebut di antaranya seperti ciri gerhana bulan tiap fase.

(Kredit: KLY)
Materi lain yang juga disampaikan yaitu fase apa saja yang akan terjadi selama gerhana bulan berlangsung. Materi ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk pengamatan gerhana

(Kredit: KLY)
Gelaran nonton bareng gerhana bulan di Planetarium Jakarta menarik antusiasme masyarakat. Sebagian orang berkumpul di halaman Planetarium untuk menyaksikan bersama detik-detik terjadinya gerhana bulan.

(Kredit: KLY)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam