Tangan-Tangan Muslim Uighur di Balik Fashion Branded Dunia

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 16 Juli 2019 19:00
Tangan-Tangan Muslim Uighur di Balik Fashion Branded Dunia
Banyak merek yang tak mengetahui produknya berasal dari pusat kerja paksa.

Dream - Juni 2017, musim dingin menghantui kawasan Melbourne, Australia. Sore itu, gawai milik Gulnur Idreis, 34 tahun, berdering.

Bunyi itu merupakan dering telepon video dari orang tuanya di Xinjiang, China. Seperti anggota minoritas lainnya, Muslim Uighur di China telah menghabiskan mimpi buruknya selama dua tahun terakhir.

Ketika telepon diangkat, Gulnur terkejut. Di layar gawai muncul wajah kakak perempuannya, Dilnur, 38 tahun.

Februari 2017, Dilnur dan suaminya ditangkap pemerintah China. Dilnur merupakan perawat yang bekerja di rumah sakit Universitas Medis Xinjiang.

 dering

Panggilan melalui perpesanan WeChat itu tentu dimonitor. Tak ingin ketahuan, Dilnur membagikan sejumlah catatan tercoret ke Gulnur.

1 dari 6 halaman

Penulusuran

Sejumlah jurnalis ABC yang tergabung dalam FourCorners, menyelidiki perusahaan tempat Dilnur bekerja. Mereka menelusuri kartu identitas Dilnur.

Dari penelusuran, perusahaan tempat Dilnur bekerja bernama Urumqi Shenshi Huaer Culture Technology Co. Kantornya berlokasi di 30 kilometer utara Xinjiang, Urumqi.

Dilnur tidur di pabrik pakaian. Tapi, karena kemampuan penglihatan yang buruk, Dilnur terpaksa menjadi pembersih pabrik.

" Adikku seorang perawat. Dia tidak tahu cara membuat pakaian," kata Gulnur.

Tidak hanya Dilnur yang dirampas kehidupannya. Sejumlah orang yang tinggal di Kazakhstan, juga dijadikan pekerja di pemusatan Uighur.

 

2 dari 6 halaman

Sanggahan Merek-merek Ternama

Gulzira, warga Kazakhstan, menngaku terpaksa bekerja di pabrik tekstil. Dia akhirnya dibebaskan pada Januari 2019.

Four Corners menyebut, ada beberapa merek fesyen ternama yang berkaitan dengan Uighur. Merek-merek fesyen ternama tersebut menggunakan sumber kapas dari Xinjinang. Merek fesyen ternama itu diantaranya Cotton On, Jeanswest, Dangerfield, Ikea, dan H&M.

Beberapa diantara merek fesyen itu menggunakan sumber dari Litai Tekstil. Perusahaan ini mengoperasikan dua pabrik di Korla dan Kuytun.

Kasus semacam ini bukan yang pertama. Merek-merek internasional seperti Adidas dan Esprit, serta PVH Corp, maskapai di belakang Calvin Klein dan Tommy Hilfiger, juga sedang menyelidiki hubungan mereka dengan produksi tekstil etnis Uighur.

Sementara itu, Ikea mengatakan, 15 persen kapas produknya berasal dari Xinjiang. Tapi, mereka tak mengetahui adanya kerja paksa di antara sub-pemasok di Tiongkok.

Adapun Dangerfield, mengatakan sumber kapas dari Xinjiang berjumlah 7 persen. Tapi, merek ini menandatangani perjanjian untuk membeli kapas yang dihasilkan dari kamp kerja paksa.

3 dari 6 halaman

Gerak-gerik 13 Juta Etnis Muslim Uighur Dipantau China Lewat HP?

Dream - Human Rights Watch (HRW) mengeluarkan laporan terbaru mengenai kondisi Etnis Uighur di Cina. Organisasi tersebut menyebut etnis Uighur dipantau menggunakan aplikasi yang tertanam di ponsel.

Aplikasi tersebut akan mengumpulkan informasi dan meminta pejabat terkait melaporkan orang-orang Uighur dan perilaku mereka.

Dilaporkan Al Jazeera, kepolisian China menggunakan aplikasi di ponsel itu untuk mengumpulkan data 13 juta etnis Uighur dan Muslim Turk di Provinsi Xianjiang.

Aplikasi, yang dikenal sebagai Platform Operasi Gabungan Terpadu, digunakan untuk menyimpan informasi dari ketinggian dan berat individu hingga pemindaian wajah.

 

4 dari 6 halaman

Pihak berwenang Xinjiang mengamati dengan cermat 36 kategori perilaku, termasuk mereka yang tidak bersosialisasi dengan tetangga, sering menghindari menggunakan pintu depan, tidak menggunakan smartphone, menyumbang ke masjid, dan menggunakan jumlah listrik secara " abnormal" .

" Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pola, dan memprediksi, kehidupan sehari-hari dan resistensi dari populasi, dan, pada akhirnya, untuk merekayasa dan mengendalikan realitas," kata HRW dalam laporan itu.

Aktivis hak asasi manusia, yang bekerja sama dengan perusahaan keamanan Jerman, Cure53, menyelidiki aplikasi itu, untuk memberikan " pandangan mengenai pengawasan massal bekerja di Xinjiang" .

Seiring dengan pengumpulan informasi pribadi, aplikasi ini meminta para pejabat untuk melaporkan tentang orang, kendaraan dan aktivitas yang mereka anggap mencurigakan. Jikalau ditemukan, polisi akan menindaklanjuti dan mengirimkan " misi investigasi" .

5 dari 6 halaman

Diamati Dengan Cermat

Pihak berwenang Xinjiang mengamati dengan cermat 36 kategori perilaku, termasuk mereka yang tidak bersosialisasi dengan tetangga, sering menghindari menggunakan pintu depan, tidak menggunakan smartphone, menyumbang ke masjid, dan menggunakan jumlah listrik secara " abnormal" .

" Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pola, dan memprediksi, kehidupan sehari-hari dan resistensi dari populasi, dan, pada akhirnya, untuk merekayasa dan mengendalikan realitas," kata HRW dalam laporan itu.

Aktivis hak asasi manusia, yang bekerja sama dengan perusahaan keamanan Jerman, Cure53, menyelidiki aplikasi itu, untuk memberikan " pandangan mengenai pengawasan massal bekerja di Xinjiang" .

Seiring dengan pengumpulan informasi pribadi, aplikasi ini meminta para pejabat untuk melaporkan tentang orang, kendaraan dan aktivitas yang mereka anggap mencurigakan. Jikalau ditemukan, polisi akan menindaklanjuti dan mengirimkan " misi investigasi" .

6 dari 6 halaman

Hingga Tes DNA

Petugas juga diminta untuk memeriksa apakah warga Uighur itu menggunakan salah satu dari 51 alat dan aplikasi internet yang dianggap mencurigakan. Penyelidikan termasuk penggunaan platform pengiriman pesan yang populer di luar Cina seperti WhatsApp, LINE dan Telegram.

Sejumlah orang mengatakan mereka atau anggota keluarga mereka telah ditahan karena memasang WhatsApp atau Virtual Private Network (VPN) di ponsel.

Salah satu kritik dari dunia internasional terhadap Cina yaitu kebijakannya, menahan satu juta warga etnis Uighur dan minoritas lain. Mereka ditahan di kamp-kamp interniran.

Cina mengklaim kamp adalah pusat pelatihan kejuruan. Tapi, dalam perjalanannya, mengaku dipaksa untuk menjadi tuan rumah bagi pemantau pemerintah.

HRW mengatakan, pemerintah Cina juga telah mengumpulkan " sampel DNA, sidik jari, pemindaian iris dan golongan darah dari semua penduduk antara usia 12 dan 65. Termasuk contoh suara.(Sah)

Beri Komentar
Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary_mark