Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Merdeka.com)
Dream – Setiap negara di seluruh dunia tengah fokus mengembangkan dan menemukan vaksin vius corona Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Negara kita juga melakukan pengembangan vaksin virus corona melalui Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Kepala Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan timnya masih terus melakukan pengembangan recombinant protein atau pengembangan DNA berdasarkan 7 genom SARS-CoV-2, hinga akhirnya siap dilakukan uji coba pada hewan.
“ Ya jadi kami saat ini masih mengembangkan protein recombinantnya, jadi setelah itu baru masuk ke uji ke hewan,” ternang Amin Soebandrio, seperti dilansir dari Merdeka.com, Rabu (10/062020).

Amin menerangkan, dalam proses pengembangan recombinant protein ini, timnya tengah melakukan pengujian melalui spike protein atau disebut dengan protein S. Spike protein ini adalah bentuk mahkota yang mengelilingi permukaan tubuh virus SARS-CoV-2.
Menurutnya strategi yang digunakan untuk upaya ini adalah menggunakan protein recombinant dari spike protein yang kemudian akan dijadikan sebagai calon antigen.
“ Jadi itu yang dikembangkan dan kalau sudah jadi akan dilakukan uji coba kepada hewan. Jadi sampai saat ini belum dilakukan uji kepada hewan,” terangnya.
Pihaknya berharap pengembangan protein recombinant ini bisa segera selesai selama dua hingga tiga bulan ini, setelah itu baru akan dilakukan uji coba kepada hewan.

Eijkman terkendala mendapatkan reagen yang masih ddidapat secara impor tersebut. Dalam proses pengembangan protein recombinant ini, menurut Amin juga terkendala learning, identifikasi, dan persoalan lainnya.
Pengadaan reagen masih terkendala proses impor, karena pada kondisi seperti sekarang ini proses impor masih memakan waktu yang sangat lama. Sehingga pihaknya masih menunggu beberapa reagen impor tersebut.

Meskipun masih direncanakan, namun tim Eijkman akan mempersiapkan pengujian terhadap hewan dalam waktu dekat.
Amin menjelaskan nanti aka nada urutan pengujian yang diawali dengan hewan yang kecil, lalu jika berhasil maka akan dilakukan pengujian ke hewan yang lebih besar seeprti monyet. Setelah itu, jika pengujian berhasil, maka akan diterapkan uji coba ke manusia.
Menurutnya, mungkin akan memakan waktu dua sampai tiga bulan kedepan. Artinya vaksin bisa dimurnikan lalu diujikan kepada hewan. “ Nantinya bisa diuji ke hewan yang kecil, misalnya hasilnya bagus kita ujikan lagi ke hewan yang lebih besar seperti monyet, jika berhasil baru kita ujikan kepada manusia,” pungkasnya, seperti dilansir Merdeka.com.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya