Anak Juga Bisa Terkena Insomnia, Kenali Pemicunya

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 11 Juni 2020 10:02
Anak Juga Bisa Terkena Insomnia, Kenali Pemicunya
Pemeriksaan medis sangat diperlukan jika anak mengalami sulit tidur cukup lama.

Dream - Gangguan tidur pada orang dewasa berdampak sangat buruk pada fisik dan mental. Sulit tidur di malam hari juga bisa terjadi pada anak-anak. Rewel, kerap terbangun dan sangat sulit terlelap, pasti orangtua menyadarinya.

Anak juga bisa mengalami insomnia, yaitu kondisi yang membuat sulit untuk tidur, sulit untuk tidur nyenyak, atau keduanya. Bisa juga berupa kesulitan untuk tetap tertidur (kesulitan tidur nyenyak tanpa terbangun) di malam hari.

Frieda Handayani, dokter spesialis anak, yang praktik di RS Pondok Indah, menjelaskan kalau anak bisa mengalami insomnia jangka pendek atau jangka panjang. Insomnia jangka pendek biasanya dialami dalam beberapa hari atau minggu dan disebabkan oleh suatu hal yang sudah berlalu seperti mengalami sakit, atau akibat medikasi yang diberikan kepada anak.

" Insomnia jangka panjang dialami tiga kali seminggu selama sebulan atau lebih disebabkan oleh faktor depresi, kecemasan, nyeri, masalah kesehatan. Kadang tanpa alasan yang jelas," tulis Frieda di akun Instagramnya.

 

Banyak faktor yang membuat anak bisa mengalami insomnia. Simak beberapa penyebabnya.

1 dari 5 halaman

Stres

Seperti juga orang dewasa, menurut dr. Frieda, anak juga bisa mengalami stres. Bisa karena tekanan di sekolah, ada sesuatu yang tak disuainya, pertengkaran antar saudara atau hal lain. Coba cari penyebab kecemasan dan stres anak.

Faktanya, anak-anak memiliki kekhawatiran yang tinggi dan stres. Hal ini dapat menyebabkan insomnia. 

2 dari 5 halaman

Zat Kafein dan Gangguan Medis

-Kafein

Kafein atau zat lain seperti soda juga bisa memicu anak sulit tidur. Perhatikan makanan dan minuman anak sehari-hari. Jika memang mengandung kafein sebaiknya jangan diberikan pada anak.

- Gangguan medis
Terdapat penyakit tertentu, masalah kejiwaan, dan gangguan tidur lainnya. Seperti asma malam hari yang tidak terkontrol, hidung tersumbat akibat alergi, atau kulit gatal akibat eksim bisa menghalangi tidur yang baik.

Gangguan medis lainnya, termasuk fibromyalgia, kram otot, nyeri yang tumbuh, nyeri ulu hati, dan penyakit tiroid semuanya bisa menyebabkan insomnia pada anak.
Pastikan kesehatan fisik anak diperiksa sebagai kemungkinan penyebab insomnia. 

3 dari 5 halaman

Remaja Butuh Tidur Cukup, Berdampak Besar Pada Fisik dan Mentalnya

Dream - Jangan sepelekan gangguan tidur pada remaja. Terutama anak remaja yang kurang jam tidur dan selalu mengantuk di sekolah.

Rupanya menurut penelitian secara global, ada kecenderungan " epidemi kurang tidur" secara global pada remaja dan akan memiliki dampak kesehatan jangka panjang.

Jadi, berapa lama waktu tidur yang benar-benar dibutuhkan remaja? Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa remaja masih dalam proses pertumbuhan tumbuh dan otak mereka masih berkembang.

Kondisi itu membuat mereka membutuhkan lebih banyak tidur daripada orang dewasa. Remaja juga memiliki ritme tidur dan bangun yang berbeda dan melepaskan melatonin (hormon alami untuk mempersiapkan tidur).

Ini berarti kantuk malam lebih lama terjadi dan mereka cenderung tidur telat dan mengantuk di pagi hari. Tentu saja, mereka masih harus bangun pagi untuk sekolah.

Teman sebaya juga jadi hal yang sangat mempengaruhi remaja. Tuntutan sosial yang meningkat - dalam bentuk obrolan online, jejaring sosial, dan penelusuran web - bergabung dengan tekanan akademis yang lebih besar ketika anak-anak memasuki sekolah menengah. Pada usia ini, orangtua juga cenderung kurang mengontrol waktu tidur remaja.

 

4 dari 5 halaman

Usahakan Tidur 8 Hingga 10 Jam

Para ahli meninjau 864 makalah yang meneliti hubungan antara durasi tidur anak dan kesehatan. Mereka menyarankan bahwa mereka yang berusia antara 13 dan 18 tahun harus tidur delapan hingga 10 jam per 24 jam secara teratur untuk meningkatkan kesehatan yang optimal.

Bukan hanya kesehatan fisik tapi juga psikologis. Penelitian di seluruh dunia menunjukkan bahwa dalam 53 persen remaja tidur kurang dari delapan jam per hari.

Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa hanya lima persen remaja di Amerika Serikat yang memenuhi rekomendasi untuk tidur, aktivitas fisik, dan screen time.

 

5 dari 5 halaman

Aktivitas Otak

Penting diketahui banyak hal aktivitas yang terjadi pada otak remaja karena tahap perkembangannya. Selama masa remaja, ada perubahan besar pada pemikiran, emosi, perilaku dan hubungan interpersonal.

Perubahan pada koneksi otak berkontribusi pada peningkatan kemampuan berpikir dan perubahan pensinyalan otak. Pergeseran keseimbangan antara sistem otak menciptakan periode di mana remaja dapat mengambil risiko yang meningkat atau terlibat dalam pencarian pencapaian/ kesenangan yang lebih banyak.

Remaja lebih banyak bereaksi terhadap stres dan sistem respons stresnya semakin matang. Hormon seks memengaruhi neurotransmiter di otak mereka dan meningkatkan reaktivitasnya terhadap stres. Ketika waktu tidurnya kurang, hal ini akan berdampak pada kondisi psikologisnya.

Jadi, usahakan untuk selalu memeriksa waktu tidur remaja. Bila anak mengalami masalah tidur, segera cari solusinya, jangan dibiarkan.

Sumber: Todays Parent

Beri Komentar