Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kemacetan Jakarta
Dream - Jakarta kembali masuk radar dunia. Usai dua gelar kurang menyenangkan, kota termacet dan tak aman di dunia, Jakarta lagi-lagi mendapatkan kabar buruk.
Lembaga Center for Economic and Business Reseach (CEBR) menempatkan Jakarta di kelompok terbawah sebagai kota berkelanjutan di dunia.
Namun, ibukota negara ini masih bisa sedikit bernapas lega. Posisi Jakarta masih lebih baik dibandingkan Ibukota India, New Delhi.
Mengutip laporan 2015 ARCADIS Sustainable Cities Index, Kamis, 12 Februari 2015, Jakarta berada di peringkat 46 dari 50 kota yang dinilai CEBR. Posisi Jakarta lebih baik dari Mumbai, India yang berada di peringkat 47 dan Wuhan, China di posisi 48 dunia.
Kota paling tak lestari di dunia tahun ini dihuni oleh ibukota Kenya, Nairobi dan New Delhi India.
Arcadis mendefinisikan sustainability sebagai pembangunan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengganggu generasi masa depan. Dalam hal ini, sebuah kota dinilai kemampuannya dalam melayani penduduknya tanpa menimbulkan masalah bagi mereka maupun penduduk dunia di masa depan.
Penilaian indeks kali ini menggunakan tiga kategori penilaian yaitu People, Planet, dan Profit. Ketiga kategori tersebut dijabarkan kedalam 20 indikator dengan 5 kunci utama yaitu ekonomi, bisnis, risiko, infrastruktur, dan keuangan.
Dari penilaian itu, CEBR menilai tak ada satupun kota di dunia yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Pemimpin negara diharapkan bisa mengelola tiga pilar kelestarian kotanya masing-masing.
" Dunia kita berubah lebih cepat dari sebelumnya. Pengembangan teknologi, pertumbuhan populasi, dan ekonomi global membuat batas negara menjadi tak relevan lagi,' kata Global Cities Director dari ARCADIS, John Batten.
Hasil studi menunjukan kota-kota besar di dunia saat ini lebih fokus pada masalah profit dan lingkungan daripada kehidupan sosial.
Banyak kota kekuatan ekonomi dunia kini menjadi sulit terjangkau masyarakat. Dunia juga menghadapi masalah ketimpangan antara negara dengan pendidikan tinggi dengan kesimbangan antara hidup dan pekerjaan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya