Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Jokowi Menjamu Para Ulama Dan Habaib Se-Jabodetabek (Setkab.go.id)
Dream - Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dan menguatkan ukhuwah dengan para ulama dan habaib dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Para ulama dan habaib tersebut dijamu Jokowi di Istana Negara pada Kamis, 7 Februari 2019.
" Insyaallah negara ini akan tetap adem-ayem, tenteram, dingin, sejuk karena saya meyakini apabila para ulama sudah memberi tausiyah dan wejangan pada umatnya, pada santrinya, inilah yang selalu dijadikan panutan," ujar Jokowi menekankan pentingnya ikatan ukhuwah antara ulama dengan umara, dikutip dari Setkab.go.id.
Di hadapan para ulama dan habaib, Jokowi menyinggung banyaknya berita fitnah dan hoaks. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara tetangga.
" Ini juga terjadi di negara-negara lain karena adanya keterbukaan media sosial," kata Jokowi.
Jokowi membandingkan proses tersebarnya hoaks dulu dengan sekarang. Dulu, hoaks tidak mudah tersebar karena ada mekanisme kerja media.
" Kalau dulu koran bisa diedit, bisa dikoreksi oleh redaktur, oleh redaksi, sekarang semua masyarakat, individu, pribadi-pribadi bisa membuat opini koran sendiri-sendiri, ini bedanya," kata dia.
Keluhan mengenai fenomena kabar hoaks juga disampaikan sejumlah petinggi negara tetangga. Jokowi mencontohkan Perdana Menteri Malaysia, Sultan Brunei Darussalam, hingga Perdana Menteri di Eropa dan Timur Tengah, mengeluhkan sulitnya membendung penyebaran berita hoaks.
Dengan fenomena hoaks yang terjadi saat ini Jokowi menilai perlunya membentengi setiap pribadi dengan budi pekerti dan karakter ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan tata krama yang baik.
" Saya kira bentengnya seperti itu. Bukan dilarang, bukan diblok, karena itu justru makin membuat lebih besar lagi, membuat kalau dalam istilah medsos malah lebih viral lagi. Dan repotnya memang negara kita ini terlalu banyak peristiwa politik," kata dia.
Menurut Jokowi, apabila kematangan dan kedewasaan berpikir sudah dimiliki semua pihak dalam berpolitik, fitnah dan hoaks bukanlah ancaman. Sayangnya, dua hal itu belum tumbuh di publik.
Bahkan, selama empat tahun memerintah, Jokowi mengaku selalu diserang isu yang tidak benar. Selama itu pula, Jokowi selalu diam dan enggan memberikan tanggapan.
" Tetapi sekarang saya perlu jawab. Menjawab itu bukan marah lho ya, menjawab. Tolong dibedakan," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya