Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi Menu Cumi (Shutterstock.com)
Dream - Sekali lagi, berhati-hatilah dalam bermedia sosial. Baca seluruh informasi sebelum memberikan komentar. Pahami, baru memutuskan perlu memberi tanggapan atau tidak.
Jika tidak hati-hati, kita bisa salah paham. Bila ada unsur yang menyinggung orang lain, bisa dijerat UU ITE. Atau bila tidak, kita bisa malah menjadi bahan tertawaan netizen karena komentar kita.
Seperti yang terjadi di grup Facebook Bukalapak Official Balikpapan. Beberapa waktu lalu, akun Maulida membuat posting nasi bakar baby cumi pedas. Dia mengunggah foto menu yang ditawarkan, dilengkapi dengan deskripsi.
" Ready ya area Balikpapan, Nasi Bakar Baby Cumi Pedas nya Rp15 ribu per porsi. Delivery ongkir Rp5.000 saja ya per alamat," tulis Maulida.

Berjualan bayi cumi pedas justru dikomentari haram (Foto: Facebook @Maulida)
Seperti posting lain di grup itu. Unggahan Maulida pun mendapat respons netizen lain. Salah satunya akun Haikal Ibrahim. Bukan membuat order, Haikal Ibrahim justru memberikan peringatan kepada Maulida.
" Makanan haram jangan dijual di FB, Bu!" tulis akun tersebut.
Maulida pun bertanya-tanya, mengapa akun tersebut menyebut masakan itu haram. Sebab, yang dia jual adalah masakan cumi anakan. " Haram dari mananya ya mas? Itu kan anakan cumi, yang haram apa nya?" Maulida membalas komentar Haikal.
Haikal Ibrahim pun pun memberi penjelasan tentang komentarnya. Dia menyebut, kata baby yang digunakan Maulida menjurus ke sajian haram.
" Dipahamin kata-katanya dulu sebelum komentar," balas Maulida.
Merespons jawaban Maulida, Haikal segera meminta maaf. Dia menyebut, tak perlu menuliskan kata baby di nama masakannya.
" Kalau saran saya enggak usah pakai kata itu, tulis saja bayi cumi," ujar Haikal.
Komentar Haikal Ibrahim langsung membuat netizen lain riuh. Mereka ikut menanggapi komentar tersenut.
" Pake bhs inggris auto haram," tulis Shelly Pritha Marcella.
" Orangnya menghilang, babymu haram ya mas?" tulis Alim.
" Ngakak so hard gejil mbah," tulis Dede Wahyu Triadi.
Selain itu, banyak juga netizen yang mendoakan agar dagangan Maulida laris dipesan.

Komentar aneh itu bahkan mendapat perhatian dari sejumlah tokoh. Misalnya saja, Karomisinter Divhubinter Polri, Brigjen Krishna Murti. Di Instagram pribadinya @krishnamurti_bd91, dia turut berkomentar mengenai ujaran Haikal.
" Baby mas baby, bukan babi," kata Krishna.
Selain Krishna, di Twitter, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga menyentil penggunaan bayi cumi untuk sajian makanan.
" Kayanya @susipudjiastuti juga bakal ngamuk kalau cumi masih baby sudah dimasak," tulis akun @1EB2.
" Yess," jawab Susi.
Yesss
— Susi Pudjiastuti (@susipudjiastuti)February 2, 2019
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang