Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Devi Puji Lestari (Foto: Istimewa)
Dream - Devi Puji Lestari, 23 tahun, akhirnya menuntaskan tanggung jawabnya sebagai penerima manfaat Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTQ) for Leaders. Devi akan memulai tahapan pengabdian pasca beasiswa.
Ia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz di depan penguji Daarul Qur’an yaitu Ustadz Ulil Abshar, al Hafidz.
Anak kedua dari pasangan Sahlan dan Mujilah ini, sama sekali tidak menyangka akan cukup lancar ketika diuji 30 Juz di depan pengujinya langsung.
Pasalnya Devi baru seminggu lalu mendapati kabar pengumuman ujian akhir BTQ for Leaders 30 juz karena handphone-nya rusak.
Sebelum menjadi penerima manfaat BTQ for Leaders empat tahun lalu, Devi juga seorang santri di sebuah pesantren ternama di Yogyakarta. Aktivitas kesantriannya sudah Devi lakoni sedari SD.
Devi menghafal Al-Qur’an karena perintah Ibu Nyai. Devi menceritakan bahwa pada waktu itu ia memang hanya mengikuti dawuh-dawuh gurunya.
Sejak kecil ia tidak berencana menjadi penghafal Al-Qur’an, perjalanannya menjadi penghafal Al-Qur’an justru berawal dari guru-gurunya.
Berawal dari permintaan-permintaan sang guru, akhirnya Devi sadar dan bersyukur hidup di lingkungan pesantren.
“ Mungkin kalau aku tidak nyantri hidupku berbeda dari saat ini. Bapak Ibuku bukan orang yang sekolah, juga tidak bisa ngaji. Teman-teman di lingkunganku, di rumah juga tidak sedikit yang putus sekolah,” cerita Devi yang bercita-cita untuk membuat majelis Al-Qur’an di rumahnya nanti.
Berada di lingkungan pesantren sejak kecil, mengantarkan Devi menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah pada kehidupannya.
Devi pun mengaku bahwa sejak kecil memang selalu mendapatkan beasiswa, sampai di pesantren dirinya juga mengabdi sebagai 'Mbak Dalem', sebuah istilah yang disematkan untuk santri yang ikut kiyainya, santri ndalem akan membantu urusan pesantren seperti memasak dan bersih-bersih. Biasanya santri ndalem ini juga dibebaskan dari administrasi keuangan pondok.
Sebagai santri ndalem Devi menjadi harus belajar ekstra tentang kedisiplinan, harus membantu keperluan pesantren dan kuliah juga hafalan Al-Qur’an menjadi harus selaras dan seimbang, terlebih ia juga menjadi pengurus pondok.
Berbagai kesulitan hingga takzir (hukuman) di pesantren pun kerap didapatkannya manakala ia harus pulang terlambat. Untuk menyiasati semua kegiatannya, akhirnya Devi membuat skala prioritas dalam menjalani hari-harinya.
Kini Devi sudah selesai dari pesantren dan melanjutkan tanggung jawab hafalan lagi sebagai penerima manfaat BTQ for Leaders.
Hingga pada hari Kamis, 10 September 2020, ia amat bersyukur telah berhasil menuntaskan tanggung jawab hafalan 30 juz sebagai penerima manfaat beasiswa dari PPPA Daarul Qur’an.
“ Bahagia sekali, akhirnya selesai. Sudah empat tahun bersama PPPA Daarul Qur’an, banyak pelajaran yang saya dapatkan disini, belajar cara menghafal, cara mengingat-ingat, tahsin Qur’an, belajar pemberdayaan, kemanusiaan, sampai fotografi, dan banyak yang lain yang mendukungku, meningkatkan skill-ku untuk nanti persiapan pengabdian,” ujar Devi yang sebentar lagi akan melakukan pengabdian di Kampung Qur’an.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya