Lawak dan Dakwah

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 27 Januari 2016 20:40
Lawak dan Dakwah
Ini merupakan gebrakan baru mensyiarkan Islam. Digagas para komedian dan banyak ulama lewat komunitas Komedi Dakwah alias Komdak.

Dream - " Wil.. Kalau nyuruh orang salat, itu dapet pahala atau ngga?" tanya pelawak Yadi Sembako saat bermonolog di hadapan jamaah pengajian. " Ya jelas dapet pahala dong!" jawab Yadi menirukan rekan pelawak Kiwil.

" Salah. Justru dosa dong." timpal Yadi lagi. " Loh kok dosa? Kenapa bisa begitu?" tanya balik.

" Ya iya dong... Masak iya orang lagi salat disuruh beli rokok. Disuruh-suruh..." Spontan jamaah pengajian di Markas Kodam Jaya, Cawang, Jakarta Timur itu tak cuma terbahak-bahak. Tapi tertawa lepas.

Yadi 'Sembako', pria bernama asli Suryadi Ishaq itu sangat piawai memancing gelak tawa. Membuka perhatian jamaah dengan lawakan khas. Tapi kini, lawakan itu disambi dengan pesan-pesan moral.

Tak lama kemudian, giliran Ustaz Uyad Albatani naik pentas. Di depan jamaah memberi tausiyah. Suasana berubah khidmat dan khusyuk mendengar muhasabah sang ustaz sampai tuntas.

Lawak dan dakwah. Beda tipis dengan judul film yang dibintangi Raja Dangdut Rhoma Irama, 'Nada dan Dakwah'.

Ini merupakan gebrakan baru mensyiarkan Islam. Digagas para komedian dan banyak ulama lewat komunitas Komedi Dakwah alias Komdak. Nama Komdak sudah familiar sejak lama. Karena ini sebutan untuk Markas Polda Metro Jaya, tempo dulu.

Di luar itu, komunitas ini membuat tren baru di masyarakat. Perpaduan pelawak dan pemuka agama. Bersama-sama mensyiarkan Islam. Yang perlu dicatat, tegas Yadi, ini bukan membuat dakwah menjadi bahan candaan. Bukan juga menjadikan satu dakwah dengan komedi.

" Awalnya kita komedian tampil dulu. Selanjutnya ustaz ngisi dengan ceramah dan diakhiri dengan Muhasabah," terang mantan sopir Akrie `Patrio` ini.

Setiap lawakan pun diisi dengan materi agama. Misalnya, saling mengingatkan salat dan apa saja yang membatalkan wudhu.

Si pelawak tidak berceramah. Karena itu bagian para ustaz. Para komedian cukup berbagi, sharing pengalaman kepada jamaah. Pada akhirnya, setelah lawakan disampaikan, para ustazlah yang 'meluruskan'.

Yadi tak sendiri. Ada Daus 'Mini', Elly Sugigi dan Murti 'Sembako'. Terlihat juga Ustaz Zacky Mirza dan Ustaz Uyad Albatani. Komunitas yang berdiri sejak 2013 ini memang mengajak kaum muslimin dan muslimat ke jalan Allah, dengan metode unik.

Lewat Komdak, Yadi dan rekan sesama pelawak mulai berhijrah. Berupaya menjadi muslim yang lebih baik di mata Allah.

" Dari situ kita juga banyak belajar dan merenung. Mikirin duniawi terus, akhiratnya lupa," tutur pria kelahiran Jakarta, 17 Juli 1972.

Bagi Daus Mini', bergabung dengan Komdak merupakan hal yang luar biasa. Belajar hijrah lewat Komdak. Berharap menjadi pribadi berguna bagi banyak orang.

" Hidup cuman sekali dan manfaatin dengan berbuat baik dan beramal, zakat dan salat," saut pria bertubuh mini itu.

***

Penggagas Komdak, Ustaz Uyad Albatani menjelaskan, komunitas ini terbentuk untuk mengubah konsep dakwah yang seolah buat main-main.

Kata Ustaz Uyad, komedi dan dakwah tidak boleh disamakan. " Dakwah tidak boleh dibawa lucu, tapi kalau emang dia lucu keluar secara spontanitas itu bagian dari metode dakwah sendiri," ujarnya.

Saat memberikan Tausiyah, komedian yang tergabung di Komdak biasanya diberikan sempatan melawak terlebih, sambil memberikan atau masukan materi dengan bekal dakwah.

" Nanti para pelawak kita masukan materi-materi dan bekal-bekal satu, dua ayat untuk berdakwah tapi dengan caranya dia. Tapi kita (ustaz) nantinya yang menyempurnakan lagi," kata dia.

Selain kegiatan ceramah ke berbagai tempat atas undangan, tanpa mematok tarif, Komdak juga melakukan kegiatan silahturahmi. Contohnya, mendatangi warga termasuk rekan artis yang sedang sakit untuk memberikan semangat kepada mereka. Dan memberikan bantuan ke panti asuahan yatim piatu.

" Komdak dibentuk bukan mencari popularitas semata ataupun tren. Dari sini kita mengajak semua orang untuk berhijrah. Bukan cuma artis dan semua kalangan," ujar Ustaz Uyad.

Dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Sesuai kemampuan. Misi utamanya, menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat. Tentu tanpa mendistorsi nilai-nilai yang diajarkan Tuhan.

Wali Songo misal. Menggunakan wayang kulit untuk berdakwah. Wayang memang digandrungi warga saat itu. Setiap layar dibeber, di sana manusia meriung. Dan itulah kesempatan untuk dakwah. Para wali menyisipkan ajaran Islam di sela-sela kisah wayang. Inilah dakwah lewat kesenian.

Dan kini, zaman terus berubah. Selera masyarakat juga berganti. Metode dakwah semakin berkembang. Tak hanya di kehidupan nyata, tapi juga dunia maya. Melalui internet. Tujuannya: menyebarkan ajaran agama.

(Laporan: Amrikh Palupi)

Beri Komentar
#CrazyRichSurabayan Bakal Dibikin Film, Ini Bocorannya