Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Satelit Galileo yang meluncur pada 1990 untuk mengelilingi Bumi dalam perjalanan menuju Jupiter menangkap kilatan cahaya misterius di permukaan Bumi. Selang 25 tahun kemudian, Observatorium Iklim Luar Angkasa (DSCOVR) yang terjebak di antara Bumi dan matahari juga menangkap kilatan cahaya yang sama.
DSCOVR menangkap lebih dari 800 kilatan ini antara 2015 dan 2016. Awalnya tak ada yang mengetahui aktivitas kosmik itu.
Hingga akhirnya, misteri kilatan cahaya itu akhirnya diketahui wakil ilmuwan proyek DSCOVR di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard milik NASA. Alexander Marshak.
Dia melihat kilatan cahaya yang terkadang muncul di atas lautan itu saat memeriksa hasil kamera on-board DSCOVR yang disebut Earth Polychromatic Imaging Camera (EPIC).
Tetapi, Marshak sebenarnya bukan orang pertama yang melihat kilatan cahaya itu.
© Dream
Awalnya, astronom Carl Sagan, melihat kilatan cahaya di atas lautan Bumi saat mempelajari gambar dari Galileo. Saat itu, Sagan menduga sinar matahari yang dipantulkan lautan. Tetapi, penjelasan Sagan tak banyak memuaskan publik dan pemerhati sains.
Pemerhati sains yang memperhatikan kemudian menanyakan kilatan cahaya ke Marshak.
Marshak dianggap sebagai orang yang tepat untuk dihubungi jika muncul pertanyaan mengenai gambar kamera EPIC. Jadi Marshak kembali memeriksa gambar Galileo serta gambar dari EPIC.
" Kami juga menemukan kilatan cahaya yang sangat terang di daratan. Ketika pertama kali melihatnya, saya pikir mungkin ada air di sana, atau danau yang memantulkan matahari. Tapi kilatan cahayanya cukup besar, jadi bukan begitu," kata Marshak kepada Orlando Sentinel.
© Dream
Oleh karena air bukan sumber kilatan cahaya itu, Marshak membentuk tim. Dia bergabung dengan Tamas Varnai dari Universitas Maryland, Baltimore County, dan Alexander Kostinski dari Michigan Technological University untuk meneliti gambar-gambar dari EPIC.
Tim kecil ini berhasil mengidentifikasi kilatan cahaya misterius itu. Kilatan cahaya itu sebenarnya merupakan partikel es berbentuk horisontal di awan cirrus yang tingginya 4 hingga 8 kilometer di atmosfer. Kesimpulan tersebut telah diterbitkan dalam jurnal riset di Geophysical Research Letters.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya