Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masyarakat Diajak Kembali Meneladani Nilai-nilai Kepahlawanan.
Dream – Setiap tanggal 10 November, Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali meneladani nilai-nilai kepahlawanan.
Misalnya, sikap rela dan ikhlas berkorban, cinta Tanah Air, mendahulukan kepentingan negara, berani, jujur, dan tidak sombong.
“ MUI mengajak seluruh masyarakat untuk meneladani sifat dan sikap para pahlawan agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Sabtu 10 November 2018.
Zainut mengatakan, sifat dan sikap kepahlawanan seperti itu sudah mulai terkikis dengan derasnya arus globalisasi yang mengarah kepada nilai-nilai sekularisme, liberalisme, individualisme, dan pragmatisme. Nilai-nilai ini jauh dari nilai luhur bangsa Indonesia.
Menurut dia, nilai-nilai budaya bangsa juga mulai terkikis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin lemahnya ikatan sosial antarmasyarakat serta nilai etika, hukum, dan agama yang mulai longgar.
Nilai budaya yang terkikis melahirkan penyimpangan perilaku di masyarakat, seperti penyebaran kebencian dan hoaks atau berita palsu, baik yang dilakukan secara individu maupun yang terorganisasi.
“ Semuanya itu merupakan bentuk penyakit masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kepahlawanan,” kata Zainut.
Zainut juga menyebut ada keretakan dan ikatan nasionalisme memudar dengan ditandainya sikap dan perilaku eksklusivisme kelompok. Kelompok ini hanya mementingkan kepentingan mereka di dalam masyarakat.
Sikap ekslusivisme dan priomordialisme itu bisa mengganggu rasa kebangsaan dan kebhinekaan. Kemudian, itu bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Dia juga mengajak semua pihak untuk kembali ke Pancasila. “ Agar bangsa Indonesia selamat dari bahaya perpecahan dan tetap berdiri tegak hingga akhir masa,” kata Zainut.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya