Nadiem Makarim Terbitkan Aturan Berantas Kekerasan Seksual di Kampus

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 4 November 2021 11:01
Nadiem Makarim Terbitkan Aturan Berantas Kekerasan Seksual di Kampus
Aturan baru tersebut mengharuskan perguruan tinggi melakukan pencegahan kekerasan seksual.

Dream - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim, menerbitkan peraturan terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus. Aturan ini mewajibkan perguruan tinggi mencegah terjadinya kekeraasan seksual di lingkungan kampus

Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, diteken Nadiem pada 31 Agustus 2021.

" Pencegahan melalui pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan oleh Pemimpin Perguruan Tinggi dengan mewajibkan Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan untuk mempelajari modul Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual yang ditetapkan oleh Kementerian," demikian bunyi Pasal 6 Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021.

1 dari 4 halaman

Sementara pencegahan melalui penguatan tata kelola paling sedikit terdiri atas:

a. merumuskan kebijakan yang mendukung Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi;

b. membentuk Satuan Tugas;

c. menyusun pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual;

d. membatasi pertemuan antara Mahasiswa dengan Pendidik dan/atau Tenaga Kependidikan di luar jam operasional kampus dan/atau luar area kampus;

e. menyediakan layanan pelaporan kekerasan seksual;

f. melatih Mahasiswa, Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Warga Kampus terkait upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual;

g. melakukan sosialisasi secara berkala terkait pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual kepada Mahasiswa, Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Warga Kampus;

h. memasang tanda informasi yang berisi:

1. pencantuman layanan aduan kekerasan seksual; dan

2. peringatan bahwa kampus Perguruan Tinggi tidak menoleransi kekerasan seksual;

i. menyediakan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas untuk Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual; dan

j. melakukan kerja sama dengan instansi terkait untuk Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual.

 

2 dari 4 halaman

Sedangkan pencegahan melalui penguatan budaya komunitas Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual paling sedikit pada kegiatan:

a. pengenalan kehidupan kampus bagi Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan;

b. organisasi kemahasiswaan; dan/atau

c. jaringan komunikasi informal Mahasiswa, Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Sumber: liputan6.com

3 dari 4 halaman

Kondisi yang Bisa Picu Seseorang Jadi Pelaku Pelecehan Seksual

Dream - Kasus pelecehan seksual, baik di lingkaran keluarga, sekolah, kampus, hingga kantor sangat mengkhawatirkan. Kekerasan seksual ini bisa menimpa siapa saja, bukan hanya kaum hawa tapi juga pria dan anak-anak.

" Siapa saja bisa jadi korban mau pun pelaku. Anak-anak, orang dewasa, lansia, laki-laki maupun perempuan. Kekerasan seksual tidak pilih-pilih," kata Gina Anindyajati, dokter spesialis kejiwaan dalam acara Waspadai Kekerasan Seksual di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat 10 Januari 2019.

Ada beberapa kondisi yang memicu seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual. Faktornya menurut Gina, antara lain karena kurang memiliki keterampilan sosial, perasaan tidak berdaya, harga diri yang rendah, perasaan terhina, kesendirian, masalah keterikatan emosi dan juga disfungsi seksual.

" Keterampilan sosial yang buruk bisa dilihat dari hubungannya dengan orang dewasa. Kalau hubungannya sering tegang dan kurang memuaskan, berarti dia memiliki masalah keterampilan sosial," ungkapnya.

4 dari 4 halaman

Bisa Terjadi di Ranah Privat dan Publik

Penting untuk diwaspadai, bahwa kekerasan seksual juga bisa terjadi dimana pun. Bukan hanya di ranah privat tapi juga ranah publik.

" Di kedua ranah tersebut, pelakunya lebih banyak orang yang dikenal dan lebih sedikit dilakukan oleh orang asing. Bahkan di ranah publik, banyak dilakukan oleh teman. Sedangkan, di ranah pribadi dilakukan oleh pasangan," tuturnya.

Oleh karena itu, Sahabat Dream harus berhati-hati dengan lingkungan sekitar dan berani bersuara jika menjadi saksi atau korban pelecehan. Salah satu tindakan awal yang bisa dilakukan ketika menjadi korban adalah melaporkan pada tenaga medis. Hal ini agar segera dilakukan pemeriksaan dan visum yang nantinya bisa dijadikan bukti untuk memprosesnya secara hukum.

 

Beri Komentar