Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Klusterisasi Perguruan Tinggi Non Vokasi (Ristekdikti.go.id)
Dream - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengumumkan daftar universitas yang masuk peringkat 100 besar. Dalam daftar tersebut, kampus-kampus di Pulau Jawa masih dominan di peringkat atas.
Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Patdono Suwignjo, mengatakan, daftar ini disusun untuk pemetaan mutu universitas di bawah naungan Kemenristekdikti. Klasterisasi ini juga dibuat untuk kebutuhan pembinaan demi meningkatkan kualitas perguruan tinggi.
" Serta memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai performa perguruan tinggi di Indonesia," kata Patdono, dikutip dari ristekdikti.go.id, Senin 20 Agustus 2018.

Dalam daftar ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) menempati urutan pertama, disusul Universitas Gadjah Mada (UGM) pada posisi kedua. Posisi ke tiga ditempati Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Universitas Indonesia (UI) berada di bawahnya.
Universitas Diponegoro menempati posisi kelima di atas Institut Teknologi Sepuluh NoPember Surabaya (ITS). Sementara posisi ke tujuh ada Universitas Airlangga, disusul Universitas Hasanuddin.
Urutan ke sembilan ada Universitas Padjajaran. Sedangkan posisi 10 ditempati Universitas Andalas.
Patdono mengatakan, penyusunan daftar tahun ini mengalami banyak penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi tahun lalu. Untuk tahun ini, daftar yang disusun hanya untuk perguruan tinggi non-vokasi baik universitas, institut, maupun sekolah tinggi.
Sedangkan klasterisasi untuk perguruan tinggi vokasi, menurut Pardono, saat ini masih dalam proses pengembangan. Pihaknya menilai perlunya menemukan indikator yang tepat untuk mengukur performa perguruan tinggi vokasi.
" Jika sampai akhir 2018 nanti kami menemukan model yang cocok untuk klasterisasi perguruan tinggi vokasi, nanti akan kami umumkan," ucap Patdono.
Beberapa indikator utama yang dipakai yaitu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), Kelembagaan, Kegiatan Kemahasiswaan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, serta inovasi. Menurut Patdono, terdapat beberapa indikator tambahan dalam penilaian tersebut.
" Perubahan atau penambahan indikator pada beberapa komponen utama dibandingkan pada tahun sebelumnya diharapkan komponen utama tersebut dapat lebih mencerminkan kondisi perguruan tinggi Indonesia sesuai dengan cakupan pada masing-masing komponen utama tersebut," ucap Patdono.







Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya