6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Dream - Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengimbau para ulama sebisa mungkin menghindari penggunaan ayat suci Alquran saat berkampanye.
Imbauan itu terutama menggunakan ayat suci Alquran untuk menyerang calon pasangan yang maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada).
" Jangan menggunakan ayat Alquran dan hadis nabi untuk menyerang calon lain. Jangan menggunakan Alquran yang sakral untuk hal yang tidak sakral," kata Ishomuddin di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis, 13 Oktober 2016.
Menurut dia, ayat suci Alquran dapat menjadi pedoman umat Muslim untuk menentukan calon kriteria pemimpin. Tetapi, kata dia, jangan sampai menggunakan ayat suci Alquran untuk mereduksi hak politik non-Muslim.
" Itu yang tidak diperbolehkan karena secara Undang-undang, mereka (non-Muslim) juga punya hak politik," ucap dia.
Keraguan umat Muslim memilih pemimpin yang tidak disarankan dalam ajaran agama Islam harus dikonsultasikan dengan para ulama. Sebab, orang beragama tidak bisa memisahkan agama dengan sikap ketika memilih pemimpin.
" Itu nanti (kalau dipisahkan) sekulerisme," ujar dia.
Meski begitu, bagi dia, persoalan perbedaan agama dalam masa berkampanye seharusnya tidak menjadi fokus utama.
" Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kita harus tarung gagasan, bukan agamanya apa," ucap dia.
Lantas bagaimana dengan arah dukungan nahdliyin Ibukota jelang pilkada DKI Jakarta nanti? Menurut dia, warga NU dibebaskan memilih gubernur sesuai rasionalitas mereka.
" NU coba mematangkan proses demokrasi di Indonesia," kata dia beralasan.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
