Kuliner (4): Yang Halal di Sangu Tutug Oncom Saung Kiray

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 23 Februari 2015 20:14
Kuliner (4): Yang Halal di Sangu Tutug Oncom Saung Kiray
Oncom jelas makanan halal. Tapi kesadaran untuk memperoleh sertifikasi halal, membuat rumah makan ini tak pernah sepi dikunjungi pembeli.

Dream - Pelataran parkir di tepi Jalan Bina Marga Nomor 13, Baranangsiang, Bogor itu terlihat sesak. Beberapa mobil terparkir rapi membelakangi jalan. Di depannya, hampir tak terlihat bangunan apa pun. Yang terlihat hanya sebuah gapura kecil dengan tiang penyangga bambu beratap daun kering atau yang lazim disebut ‘kiray.’

Di sebelah kanan gapura, terpajang papan nama bertulis ‘Sangu Tutug Oncom Khas Pasundan: Saung Kiray’. Kalimat itu ditulis dengan warna jingga yang cukup dominan. Berdampingan dengan tulisan itu, sebuah gambar saung dan pohon kelapa tampak memperindah tampilan. Papan itu terbuat dari logam. Ya, tempat itu adalah rumah makan yang khusus menyajikan sangu tutug oncom.

Dalam bahasa Sunda, ‘sangu’ merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut nasi. Sedangkan ‘tutug’ adalah istilah Sunda yang bermakna ‘aduk’. Makanan yang kerap disebut ‘sangu tutug oncom’ disajikan dengan mencampur nasi dengan oncom menggunakan metode aduk. Makanan inilah yang menjadi sajian utama rumah makan tersebut.

Memasuki gapura, terhampar taman kecil yang tertata rapi, menghiasi kanan kiri jalur masuk. Sedikit masuk ke dalam, terlihat sebuah rumah dengan desain lama. Menengok ke kanan, ada saung lebar terbangun di situ. Terlihat beberapa pria berpakaian rapi duduk bersila mengitari meja setinggi lutut yang terpasang tepat di tengah.

Di bagian dalam rumah, beberapa meja dan kursi tersusun rapi. Di sudut dalam ruang itu, empat orang wanita berjilbab asyik bercengkerama sambil menikmati sajian di hadapannya. Sementara di dekat pintu masuk, beberapa pelajar tampak lahap menyantap makanan.

Di tengah ruang itu berdiri dua tiang penyangga. Tiang itu terbuat dari kayu jati, tampak berkilau lantaran berlapis cairan varnish. Di satu dari dua tiang itu tersemat gambar bertuliskan huruf Arab melingkar dengan warna hijau. Bagian tengah gambar itu memuat huruf Arab berbunyi ‘halal’. Gambar itu  merupakan label sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sesaat kemudian, seorang pelayan mempersilakan duduk. Terlebih dulu, ia mengucapkan salam kepada pengunjung sebelum menawarkan menu. “ Silakan, mau makan apa?” sapa pelayan itu.

Selembar kertas dilapis plastik disodorkan. Berisi daftar makanan yang tersedia sekaligus harganya. Satu sisi berisi daftar makanan, di baliknya berisi daftar minuman dan kudapan. Harganya bervariasi. Mulai dari Rp3.000 hingga Rp20.000. Tidak terlalu mahal untuk sebuah rumah makan halal.

1 dari 2 halaman

Berawal dari Semangat Melestarikan Kuliner Nusantara

Sangu tutug oncom merupakan salah satu dari sekian banyak kuliner asli Nusantara. Tetapi, tak banyak generasi muda yang mengetahui kuliner asli Indonesia itu. Hal itu memicu kekhawatiran hilangnya khazanah kuliner nusantara lantaran tak ada generasi muda yang mengenalnya.

Berawal dari keresahan itu, sepasang suami istri, Indra dan Ambar LK Dharmaputra memutuskan untuk membuka tempat makan bernuansa tradisional Sunda itu. Hal ini semata untuk melestarikan salah satu unsur kebudayaan berupa kuliner tradisional. “ Kami prihatin generasi muda sekarang tidak begitu akrab dengan kebudayaan Indonesia. Misalnya sangu tutug oncom ini. Banyak yang penasaran. Padahal dulu ini akrab sekali dengan keseharian. Baik untuk sarapan atau makan siang,” tutur Indra.

Terhitung sejak tahun 2002, tempat makan ini resmi berdiri. Di masa-masa awal berdiri, Saung Kiray berada di bawah kendali langsung Indra dan Ambar.

“ Dulu itu hanya saung  di halaman rumah. Awalnya ini rumah orangtua, disebut Saung Kiray itu karena dulu atap saungnya dari daun kering, di Sunda disebutnya kiray. Mulai berjalan  sekitar Juni 2002,” terang Ambar.

Di mata Ambar, sangu tutug oncom bukan makanan yang sulit dibuat. Tetapi, untuk mendapat rasa yang kuat, Ambar tidak mau memakai sembarang oncom. Dia memutuskan menggunakan jenis oncom hitam terbuat dari bungkil kacang tanah. Bahan ini didatangkan dari Bandung.

Tapi itu belum cukup. Agar mendapatkan aroma yang kuat, oncom harus dibakar terlebih dahulu. Setelah itu dibumbui dengan kencur, bawang merah, cabai merah, terasi dan garam. Kencur ini bumbu utamanya, membuat aroma oncom menjadi kuat. Soal bumbu, Ambar tak mau tanggung. Ia berani memakai bumbu berkadar lebih demi sangu tutug oncom yang mantap.

Proses pencampuran nasi dan oncom pun tak bisa sembarangan. Demi cita rasa yang nikmat, pengadukan dilakukan menggunakan dulang untuk wadah yang harus terbuat dari kayu nangka. Kayu nangka dipercaya dapat menambah sensasi rasa lantaran memiliki aroma yang lezat.

Dalam penyajian, Saung Kiray menyediakan tiga varian sangu tutug oncom. Tiga varian tersebut yaitu sangu tutug oncom Pasundan,  sangu tutug oncom ikan asin, dan sangu tutug oncom opak pedas. 

Sangu tutug oncom Pasundan merupakan versi orisinil dan paling sederhana. Hanya memakai kerutuk, remahan tepung gorengan tempe Bandung. Rasanya gurih dan kriuk. Untuk membedakan dengan lainnya, di atas nasinya diletakkan taburan kerutuk tersebut.

“ Sangu oncom ikan asin, nasi yang dicampur dengan oncom dan ditambah dengan ikan asin jambal yang disuwir-suwir. Ada juga sangu tutug oncom yang ditambahkan opak Majalaya di dalamnya,” kata Ambar, pendiri rumah makan yang merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

2 dari 2 halaman

Sertifikasi Halal Jamin Kepuasan Pelanggan

Sebagai orang yang tinggal di Indonesia, Indra menyadari sepenuhnya pangsa pasar yang ia tuju sebagian besar adalah muslim. Ia cukup tahu, dalam Islam terdapat beberapa ketentuan terkait makanan. Islam hanya membolehkan umatnya mengonsumsi makanan yang halal.

Indra pun menjamin makanan yang ia jual merupakan produk olahan halal. Untuk lebih meyakinkan, Indra melengkapi produknya dengan sertifikasi halal resmi MUI. “ Demi memberikan rasa aman pada konsumen kami, kami tetap memerlukan legalitas halal untuk setiap produk atau makanan kami,” katanya.

Untuk selembar sertifikasi dengan masa berlaku dua tahun, Indra merogoh kantongnya mencapai Rp750.000 hingga Rp1.200.000. Tarif tersebut bersesuaian dengan jumlah bahan makanan yang digunakan.

Pengurusannya pun tidak sulit. “ Bahkan ada fasilitas dari pemerintah khusus untuk usaha kecil menengah, yakni bebas biaya apapun.Waktunya pun tidak terlalu lama. Untuk restoran kami saja, hanya memakan waktu sekitar enam bulan,” terangnya. 

Jika batas waktu berakhir, sertifikat itu dapat diperpanjang. “ Masa pengurusan pembaruan sertifikat juga sama dengan pembuatan sertifikat baru,” katanya.

Dengan adanya sertifikat halal itu, Indra mengaku mendapat dampak positif. Usaha yang dimilikinya semakin diminati banyak orang. Sebagian besar konsumen yang datang cukup puas dengan jaminan kehalalan itu. ”Dengan hanya sedikit berkorban waktu dan uang yang tidak seberapa, saya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap legalitas kehalalan produk saya,” ungkapnya.

Alhasil, usahanya semakin laris. Bahkan, terkadang ia mendapat tamu asing. “ Tamu kita ada yang dari luar negeri dan Alhamdulillah, respon mereka positif,” terang Indra.

Dampak ini juga dirasakan oleh Cici. Sebagai karyawan senior yang setiap hari bertugas sebagai kasir, Cici merasakan betul perbedaan di tempat kerjanya sebelum memiliki sertifikat halal dengan sesudahnya. “ Perubahannya ada, mereka menjadi lebih nyaman dan tidak was-was lagi,” katanya. Dia pun mengakui jumlah konsumen yang datang semakin banyak. “ Bisa dibilang seperti itu,” terangnya.

Sementara itu, seorang pengunjung yang ditemui di sana, Eko Setiaji, mengaku cukup sering mengunjungi tempat makan ini. Sajian makanan khas Sunda menjadi alasannya untuk sering makan di Saung Kiray. “ Dan sangu tutug oncomnya spesial,” aku Eko.

Tak hanya itu, adanya label halal membuatnya semakin mantap menyantap sajian yang ada. “ (Sertifikasi halal) sangat perlu dan penting untuk kenyamanan kami sebagai muslim,” tutur karyawan swasta itu.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Muslimah. Wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini kerap mengunjungi Saung Kiray tersebut. “ Seminggu bisa dua sampai tiga kali. Tidak terhitung (berapa kali),” terangnya.

Alasan utama yang menjadi dasar Muslimah makan di tempat makan ini lantaran Saung Kiray menyajikan makanan khas Sunda, khususnya Bogor. Ia pun mengaku cukup paham rumah makan itu memiliki sertifikat halal. Saban hari dia datang, label sertifikasi itu langsung tertangkap di matanya, terpampang di dekat pintu.

Hal itu memberikan rasa lega tersendiri bagi Muslimah. Ia menyatakan sering khawatir jika makan di tempat yang tidak mencantumkan sertifikasi halal. “ Sering was-was, karena takut ada bahan yang tidak halal,” ucapnya.

Saung Tutug Oncom Saung Kiray telah membuktikan sertifikasi halal tak membuat rumah makan mereka  dijauhi konsumen. Justru, konsumen yang datang malah terus bertambah. Termasuk turis muslim dari luar negeri. Oncom jelas makanan halal. Namun kesadaran untuk melegalkan kehalalannya, mungkin yang sedikit luar biasa. Alhasil, rumah makan ini pun makin ramai dikunjungi pembeli…  (eh)

Laporan: Kusmiyati

Beri Komentar