Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal Bin Farhan Al Saud (Anadolu Agency)
Dream - Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, menyatakan Riyadh tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel selama perdamaian antara Negeri Bintang David dengan Palestina belum tercapai.
Pangeran Faisal menegaskan solusi dua negara tetap menjadi jalan keluar yang paling tepat untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina.
" Ketika kami meluncurkan Inisiatif Perdamaian Arab pada 2002, kami sepenuhnya membayangkan bahwa akan ada hubungan antara semua negara Arab, termasuk Arab Saudi, dan Israel," tegas Pangeran Faisal dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, dikutip dari Times of Israel.
" Tapi dari perspektif kami, syarat untuk itu jelas: Perdamaian harus dicapai antara Israel dan Palestina, berdasarkan parameter internasional. Setelah tujuan ini tercapai, segala sesuatunya mungkin terjadi," ucap Pangeran Faisal melanjutkan.
Pernyataan ini dikeluarkan sebagai respon atas terjadinya perjanjian damai antara Uni Emirat Arab dengan Israel. Perjanjian ini disebut sebagai langkah agar Israel tidak melanjutkan upayanya mencaplok Tepi Barat.
Dalam Inisiatif Perdamaian Arab yang diinisiasi Saudi, normalisasi dengan Israel hanya terjadi jika Yerusalem dan Ramallah dapat mencapai kesepakatan abadi. Kemudian mendirikan Negara Palestina dengan perbatasan 1967.
UEA juga menandatangani inisiatif tersebut. Sementara perjanjian damai yang terjadi akan melanggar inisiatif yang disepakati negara-negara kawasan Teluk.
Pangeran Faisal juga secara tegas menyatakan pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat merusak peluang perdamaian.
" Kami menganggap tindakan sepihak Israel apa pun yang diambil untuk mencaplok wilayah Palestina atau untuk membangun permukiman itu tidak sah dan merugikan solusi dua negara, dan setiap upaya untuk menangguhkan langkah sepihak itu dihargai," kata dia.
Sebelumnya, Penasihat Senior Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, menyebut Israel pada akhirnya dapat menikmati normalisasi hubungan yang sepenuhnya dengan Arab Saudi.
" Saya pikir kita memiliki negara-negara lain yang sangat tertarik untuk bergerak maju (engan Israel) dan karena itu terus berlanjut, saya pikir tidak dapat dihindari bahwa Arab Saudi dan Israel akan sepenuhnya menormalisasi hubungan dan mereka akan dapat melakukan banyak hal-hal besar bersama," kata Kushner.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya