Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Pasien Covid-19 (Foto: Shutterstock)
Dream - Seorang pria asal Florida, Amerika Serikat, Brian Hitchens, yang menyakini klaim bahwa virus corona adalah hoaks, harus kehilangan istri tercintanya, Erin, akibat Covid-19.
Bahkan, pada awal Mei 2020, ketika Brian dan Erin dinyatakan terinfeksi, mereka masih tidak mempercayainya. Keduanya tidak langsung mencari bantuan medis dan menganggap mereka hanya terjangkit flu biasa.
" Saya tidak takut virus ini karena saya tahu Tuhan lebih besar dari virus ini," kata Brian, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 25 Agustus 2020.
Pada 12 Mei 2020, kondisi mereka semakin parah. Brian kemudian beripikir ulang tentang pemahamannya soal virus Corona.
" Empat setengah bulan lalu, saya masih berpikir kalau virus ini diberitakan secara berlebihan, sampai saya merasa sangat sakit," ujarnya.
Sayangnya, Brian telat menyadari hal tersebut. Ia harus kehilangan Erin yang meninggal pada awal bulan Agustus lalu. Kondisi kesehatan Erin yang mengidap penyakit asma, memperparah kondisinya. Sementara Brian selamat.
" Sejak 12 Mei, istri saya harus menggunakan ventilator dan tidak ada tanda-tanda membaik. Istri saya akhirnya sampai di titik terakhir hidupnya bulan ini," ucap Brian yang kini percaya kalau virus corona bukan teori konspirasi.
Setelah kehilangan sang istri, Brian merasakan penyesalan mendalam. Kepada BBC, ia mengingatkan agar masyarakat tidak lagi percaya teori konspirasi yang tersebar di Facebook.
" Ini adalah virus nyata yang mempengaruhi orang dengan cara berbeda. Saya tidak bisa mengubah masa lalu. Yang saya bisa hanya membuat pilihan lebih baik untuk masa depan."
" Kini, Erin sudah tidak menderita lagi, dia sudah damai. Saya akan terus merindukannya. Namun, saya tahu kalau dia sudah berada di tempat yang lebih baik," ujar Brian.
Sejak bulan Juni lalu, laporan Center for Countering Digital Hate, yang berbasis di Amerika Serikat, menemukan ratusan informasi hoaks tentang virus corona. Informasi itu tersebar dalam 649 postingan di Facebook dan Twitter.
Laporan palsu itu membahas soal obat, propaganda anti-vaksinasi, hingga teori konspirasi seputar sinyal 5G.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya