Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Pemerintah India membenarkan ratusan jenazah yang terdampar di tepi Sungai Gangga sebagai jasad korban Covid-19. Jasad itu terdampar di tepi sungai Gangga di Negara Bagian Uttar Pradesh.
Kejadian mengerikan itu langsung menimbulkan kegemparan karena Sungai Gangga dianggap sebagai tempat suci bagi sebagian besar masyarakat India.
" Pemerintah mendapat informasi bahwa jenazah yang meninggal akibat terpapar virus Covid-19 ataupun penyakit lainnya, dibuang ke sungai ketimbang dikubur dengan ritual semestinya," ujar pejabat senior Uttar Pradesh, Manoj Kumar Singh, dikutip dari SOuth China Morning Post, Senin 17 Mei 2021.
" Hasilnya, banyak ditemukan jenazah di penjuru sungai," lanjut Singh.
Seperti yang diketahui, Uttar Pradesh merupakan salah satu negara bagian di India yang paling parah terdampak Covid-19. Bahkan, ahli medis menegaskan banyak kasus yang tak terdeteksi di bagian pedesaan.
Dalam konferensi pers di kantor kepala distrik, Singh mengungkapkan beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya pembuangan jenazah ke Sungai Gangga. Hal ini berkaitan dengan dana.
Singh mengatakan, kesulitan ekonomi menjadi salah satu penyebab masyarakat mempersiapkan material untuk kremasi yang menjadi kepercayaan religius di sejumlah komunitas. Tak hanya itu, ketakutan dikucilkan lantaran anggota keluarganya telah menjadi korban juga menjadi salah satu faktor.
Dengan adanya peristiwa mengerikan ini, Singh meminta para pejabat desa untuk memastikan tidak adanya lagi pembuangan jasad ke sungai. Ia juga menegaskan pemerintah akan memberikan bantuan keluarga miskin sekitar 5.000 rupee atau sekitar (Rp969 ribu) untuk kremasi jenazah korban Covid-19.
Kini pihak kepolisian juga dikabarkan telah memasang jaring di pinggir Sungai Gangga untuk mencegah warga membuang jenazah ke wilayah tersebut.
Sumber: South China Morning Post
Dream - Pandemi Covid-19 di India memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Hindustan. Dilansir dari USA Today, sepanjang 24 jam terakhir, negara di Asia Selatan itu mencatatkan 412.000 kasus dan hampir 4.000 kematian harian, rekor tertinggi di dunia.
Setiap hari, media lokal mengabarkan ratapan keluarga yang kehilangan kerabatnya maupun rumah sakit yang kehabisan oksigen.
Hal ini membuat orang-orang beralih ke semua jenis pengobatan tradisional dalam upaya untuk mencegah virus. Uniknya, dalam kondisi ini, seorang anggota parlemen India meyakini bahwa urine atau air kencing sapi dapat menangkalnya.
Selengkapnya simak ulasannya berikut ini!
Dilansir dari Dailystar, seorang anggota parlemen India bernama Surendra Singh meminum air kencing sapi yang dipercaya sebagai obat untuk mencegah Covid-19.
Anggota Parlemen dari MLA Partai Bharatiya Janata, provinsi Uttar Pradesh itu mengunggah video saat menenggak satu gelas " gaumutra" , demikian dia menyebutnya, yang dia klaim sebagai rahasia kesehatannya.
Dalam video, anggota parlemen itu terlihat sedang mendemonstrasikan cara meracik minuman kencing sapi. Untuk meraciknya, Ia hanya memerlukan dua sampai tiga takar urine sapi yang dicampur dalam segelas air putih.
Singh menyarankan peminum urine untuk menelannya saat perut kosong. Selain itu, dia juga menyarankan untuk tidak mengonsumsi apa pun selama setengah jam. Hal tersebut dimaksudkan agar urine sapi bekerja dengan sempurna dan berkhasiat.
Lebih lanjut, ia juga menyarankan para ahli kesehatan untuk membeli urine sapi merek Patanjali jika mereka tidak dapat mengambil air seni sapi secara langsung. Merek tersebut menyediakan berbagai jenis produk seperti air urine sapi yang bisa langsung diminum atau dikemas dalam bentuk kapsul untuk menghilangkan baunya.
Ia mengklaim bahwa produk tersebut membunuh racun di dalam tubuh. Selain itu pengobatan itu juga dinilai efektif untuk mengobati berbagai penyakit mulai dari obesitas, kanker hingga penyakit ginjal dan hati.
Tak sampai di sana, Singh juga mengklime jika urine sapi yang sedang hamil sangat efektif digunakan sebagai obat untuk penderita diabees. Ia juga merekomendasikan para penonton videonya untuk makan kunyit panggang secara teratur demi gaya hidup sehat.
Keyakinan ini salah satunya dipicu oleh para petinggi dari partai Perdana Menteri India Narendra Modi, Partai Bharatiya Janata (BJP). Pemimpin BJP di negara bagian Assam ini mengatakan bahwa urine dan tinja sapi bisa melawan Virus Corona di sebuah pertemuan.
Meski begitu, para ahli mengatakan bahwa urine hingga kotoran sapi yang kerap dianggap sebagai media pengobatan tradisional tak bisa mengobati Covid-19.
“ Tak ada penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa pengobatan tradisional semacam itu bisa mencegah Virus Corona,” ujar virologis dan peneliti pengobatan tradisional, Debprasad Chattopadhyay di lansir dari Liputan6.com.
“ Kotoran dan urine sapi adalah material sisa, tak ada penelitian yang menyatakan bahwa keduanya baik untuk tubuh kita,” tambahnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya