Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
NASA Mencari Relawan Untuk Penelitian Ketahanan Tubuh Manusia Di Luar Angkasa (Foto Ilustrasi: Shutterstock)
Dream - Kamu suka tiduran sembari nonton televisi selama berjam-jam? Meski terlihat seperti kebiasaan orang malas, kebiasaan buruk itu ternyata bisa berguna juga.
Baru-baru ini, Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) sedang mencari sukarelawan untuk tiduran sembari menonton televisi. Sukarelawan itu akan melakukan aktivitas tersebut selama dua bulan.
NASA bukan tanpa alasan melakukan hal itu. Ternyata mereka tengah membuat sebuah riset untuk meneliti kemampuan kondisi tubuh manusia selama di pesawat luar angkasa.
Untuk relawan yang lolos akan disediakan televisi, bahan bacaan, dan kegiatan rekreasi lainnya agar tak bosan. Satu syarat yang harus disanggupi pelamar adalah melakukan semua kegiatan itu sembari tidur. Termasuk juga kegiatan makan hingga buang air besar atau kecil.
Setiap peserta nantinya akan dibayar sebesar 14 ribu poundsterling, atau setara Rp2,6 miliar.

Purwarupa alat yang akan digunakan untuk uji coba di luar angkasa (Foto: The Sun)
Dilaporkan The Sun, riset yang digelar ini merupakan kerja sama NASA dengan Agensi Luar Angkasa Eropa (ESA) yang berpusat di Jerman.
ESA menyatakan, riset ini untuk membantu mengetahui bagaimana, `bobot, radiasi kosmik, isolasi dan batasan spasial` yang mempengaruhi para astronot.
Saat ini, para peneliti harus berolahraga secara teratur dengan mesin resistensi untuk menghindari mati rasa dan pengurangan masa otot.
Untuk menjadi peserta riset ini, setiap pendaftar harus memiliki kemampuan berbahasa Jerman. Pendaftaran akan ditutup pada 24 Mei dan tes akan digelar pada September 2019.
Peserta yang nantinya akan menghabiskan waktu riset sepanjang 89 hari. Relawan akan menjalani lima hari sosialisasi sebelum naik ke ranjang dan menghabiskan waktu selama 60 hari tiduran. Peserta akan menjalani 14 hari sisa penelitian untuk istirahat dan rehabilitasi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya