Wapres Ma'ruf Amin: Tak Percaya Covid-19 Merupakan Contoh Berpikir Sempit

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Sabtu, 13 Februari 2021 11:00
Wapres Ma'ruf Amin: Tak Percaya Covid-19 Merupakan Contoh Berpikir Sempit
Menurut Wapres Ma'aruf Amin, berpikir sempit bisa hambat produktivitas.

Dream - Wakil Presiden Ma'ruf Amin tidak ingin umat Islam ikut dalam arus berpikir sempit. Contohnya, cara berpikir tidak percaya bahwa virus corona adalah nyata.

" Contoh sederhana cara berpikir sempit adalah tidak percaya bahwa Covid-19 adalah nyata, atau percaya pada teori-teori konspirasi tanpa mencoba untuk memahami fenomena dengan akal sehat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan," katanya, Kamis 11 Februari 2021.

" Saya memandang bahwa salah satu hambatan dalam perkembangan peradaban saat ini antara lain adalah cara berpikir sempit dan tidak terbuka terhadap perubahan," tambahnya.

 

1 dari 4 halaman

Bahaya Berpikir Sempit

Cara berpikir sempit itu, lanjut dia, merupakan salah satu penyebab munculnya sifat egoistik. Tidak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog.

" Cara berpikir sempit juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal yang dapat menjustifikasi kekerasan dalam menyelesaikan masalah," terangnya.

 

2 dari 4 halaman

Hambat Produktivitas

Selain itu, tambah Ma'ruf, cara berpikir sempit juga menghambat dan kontra produktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam saat ini.

" Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk Muslim masih tergolong under developed country dan mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek dan bidang lainnya," ujarnya.

(Sumber: wapresri.go.id)

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 4 halaman

Wapres: Dosa Tolak Vaksin Kalau Belum Terjadi Herd Immunity

Dream - Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, menegaskan, patuh protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan ulama. Sebab, cara-cara tersebut merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat wabah.

" Jadi kita wajib menjaga segala macam bahaya yang diduga," ujar Ma'ruf, dikutip dari laman resmi Wapres RI.

Covid-19, menurut Ma'ruf, termasuk bahaya. Bahkan tingkat bahaya Covid-19 sudah bukan lagi diduga namun diyakini. " Diduga saja sudah wajib, apalagi yang sudah diyakini," kata Ma'ruf.

Apalagi soal vaksinasi, Ma'ruf menyampaikan hukumnya secara syariah adalah wajib kifayah. Kewajiban itu berlaku sampai terjadi herd immunity atau kekebalan kelompok yang bisa tercapai apabila 70 persen dari 270 juta penduduk atau sekitar 182 juta jiwa masyarakat Indonesia sudah divaksin.

" Kewajiban bervaksin tidak akan gugur sebelum terjadinya vaksinasi sampai 182 juta penduduk. Artinya kita masih tetap berdosa (apabila tidak mau divaksin) kalau belum terjadi herd immunity itu," ucap Ma'ruf.

4 dari 4 halaman

Selanjutnya, Ma'ruf menyatakan protokol kesehatan 3M, vaksinasi, maupun penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) merupakan seperangkat cara pencegahan Covid-19 yang didasarkan pada penelitian ilmiah bidang kedokteran.

Sedangkan ilmu kedokteran adalah bagian dari ilmu tata aturan dan tata nilai (nizhamul kauni) yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sehingga jika ada pihak yang mengingkari hasil ilmu kedokteran, sama saja dengan mengingkari aturan kehidupan yang ditetapkan Tuhan.

" Siapa yang mengatakan bahwa ilmu kedokteran itu tidak ada faedahnya, tidak ada manfaatnya, berarti dia telah menolak penciptanya dan pembuat syariatnya yaitu Allah SWT. Karena itu, ucapan orang seperti itu tidak boleh diperhatikan atau tidak perlu dihiraukan," ucap dia.

Beri Komentar