Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fans Piala Eropa Sedang Bersorak (Shutterstock.com)
Dream - Lonjakan kasus Covid-19 tengah melanda lagi sejumlah negara di Eropa. WHO menuding lonjakan itu terjadi dipicu kompetisi sepak bola Piala Eropa 2020.
WHO menyatakan kasus Covid-19 di 53 negara Eropa naik 10 persen akhir pekan lalu. Padahal, sebelumnya kasus positif turun dalam 10 pekan berturut-turut.
Direktur WHO Regional Eropa, Hans Kluge, mengatakan kenaikan kasus terjadi akibat merebaknya varian delta.
" Dipadu dengan peningkatan kerumunan, perjalanan, pertemuan, dan pelonggaran pembatasan sosial," ujar Kluge.
Eropa dipandang sebagai kawasan WHO yang menjadi patokan vaksinasi bagi negara-negara lain. Diketahui, Eropa telah memvaksinasi 85 persen dari populasi orang dewasanya.
Kawasan ini juga telah membuka kembali bisnis, sekolah dan tempat-tempat umum lainnya. Serta mencabut hampir semua pembatasan, tetapi peningkatan kasus sejauh ini tidak menyebabkan lebih banyak kematian.
Kluge sempat berharap kenaikan kasus yang terjadi bukan karena Piala Eropa. " Tetapi ini (kerumunan karena Piala Eropa) tidak dapat dikesampingkan," kata dia.
Ratusan kasus telah terdeteksi di antara penonton sepak bola. Termasuk orang Skotlandia yang kembali dari London, Finlandia yang kembali dari St Petersburg dan infeksi varian Delta di Kopenhagen.
Piala Eropa memicu terjadinya kerumunan di sejumlah tempat seperti di stadion, pub, serta bar di penjuru kota. WHO menyatakan inilah yang menjadi sebab terjadinya lonjakan kasus.
" Kita perlu melihat lebih dari sekadar stadion itu sendiri," kata pejabat senior WHO bidang kedaruratan, Katy Smallwood.
Menurut dia, perilaku para penggemar bola perlu dilihat sejak bagaimana mereka tiba di suatu tempat apakah dengan naik bus sesak. Juga melihat bagaimana perilaku mereka ketika pulang, apakah mampir ke pub dan bar.
" Peristiwa kecil terus menerus inilah yang mendorong penyebaran virus," kata Smallwood.
Smallwood menekankan Eropa sekarang memiliki 'jendela peluang' lonjakan kasus sementara infeksi masih turun di banyak negara. Dia juga menegaskan pemerintah seharusnya tidak mencabut langkah-langkah sosial di mana dapat memicu infeksi meningkat atau memperkuat pelacakan.
" Terus berinvestasi dalam pengujian, dalam pelacakan kontak, dalam penyelidikan kasus seperti Skotlandia, yang baru saja mengumumkan analisis yang sangat cepat tentang di mana orang terinfeksi. Ambil tindakan strategis, tepat sasaran, dan cepat. Lalu memvaksinasi, memvaksinasi, memvaksinasi," kata Smallwood, dikutip dari The Guardian.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya