Israel Merujuk pada Nama Seorang Nabi, Benarkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 20 Desember 2017 12:01
Israel Merujuk pada Nama Seorang Nabi, Benarkah?
Nabi yang dimaksud adalah Nabi Yaqub AS.

Dream - Dalam Alquran, nama 'Israel' disebut beberapa kali dan sejumlah ayat. Beberapa ayat itu seperti ayat 56-57 Surat Maryam dan ayat 93 Surat Ali Imran.

Ada pendapat yang menyatakan Israel sebenarnya merujuk pada sosok nabi, yaitu Nabi Yaqub AS. Disebutkan Nabi Yakub memiliki nama lain yaitu Israel.

Benarkah demikian?

Terdapat sebuah riwayat dari Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad yang menjelaskan mengenai hal ini. Riwayat tersebut berisi peristiwa ketika Rasulullah Muhammad SAW sedang berkumpul bersama orang-orang Yahudi.

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu pernah berkisah, " Saya pernah hadir di kumpulan orang-orang Yahudi. Lalu Nabi bertanya kepada mereka, 'Tahukah kalian bahwa Israel adalah nama Yaqub?' Mereka menjawab, 'Iya benar.' Kata Nabi shallallahualaihi wa sallam, 'Ya Allah saksikanlah.'

Imam As Syaukani memberikan penjelasan mengenai hal ini.

" Seluruh ahli tafsir sepakat, bahwa Israel adalah Yaqub bin Ishak bin Ibrahim 'alaihissalam. Maknanya adalah hamba Allah, karena 'Isra' dalam bahasa mereka artinya adalah hamba, dan 'el' artinya Allah."

Selengkapnya...

1 dari 3 halaman

Siapa Sebenarnya Bangsa Yahudi?

Dream - Dalam beberapa hari terakhir, kabar mengenai Yerusalem menjadi pemberitaan utama di sejumlah media massa baik lokal maupun internasional. Pemicunya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mencengangkan dunia. Negeri Paman Sam itu mengakui Yerusalem adalah Ibukota Israel.

Banyak pihak menilai klaim ini telah melanggar ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan Yerusalem berada dalam status quo selama bertahun-tahun. Selain itu, klaim tersebut juga memperkeruh konflik yang selama ini terjadi antara Palestina dengan Israel.

Israel sendiri adalah negara yang mengklaim tanah Palestina sebagai wilayahnya. Di negara ini, penduduk beragama Yahudi mendominasi populasi.

Tingkah polah Israel sejak berdiri hingga saat ini selalu membuat dunia geram. Sejumlah kasus kekerasan dilakukan Israel, tanpa mengindahkan peringatan dunia.

Lantas, siapa sebenarnya Bangsa Yahudi?

Bangsa satu ini disebutkan beberapa kali dalam Alquran. Ada beberapa sebutan seperti Yahudi, Haaduu, Haud, atau Bani Israil. Dalam garis keturunan, Bangsa Yahudi dinisbatkan pada salah satu dari 12 anak Nabi Yakub AS bernama Yahudza.

Sedangkan anak lainnya bernama Rawabin, Sami’un, Lawiyah, Badzakir, Dzambalan, Yusuf, Benyamin, Za'ad, Asyir, Dana dan Naftalia. Mereka merupakan anak dari empat orang istri Nabi Yakub AS.

Ditarik ke atas, Nabi Yakub AS adalah salah satu putra Nabi Ishak AS. Nabi Ishak merupakan anak Nabi Ibrahim AS dari jalur istri Sarah, dan memiliki saudara tiri Nabi Ismail AS yang lahir dari rahim Hajar.

Bangsa Yahudi juga disebut sebagai Bani Israil. Julukan ini disematkan pada Nabi Yakub AS yang punya sebutan 'Israil' atau 'Kekasih Tuhan'. Julukan inilah yang membuat Bangsa Yahudi merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan bangsa-bangsa lainnya.

Dalam perjalanannya, Bangsa Yahudi menjalani eksodus atau perpindahan besar-besaran. Penyebabnya, mereka diusir dari sejumlah tempat yang mereka diami lantaran perangainya yang buruk.

Bangsa ini memang dikenal licik di sepanjang zaman. Mereka juga tidak bisa dipercaya lantaran sering berbuat khianat ketika mengadakan perjanjian. Salah satunya ketika Nabi Musa AS memerintahkan mereka berdiam diri dan menunggu Sang Nabi yang sedang menghadap Allah SWT di bukit Sinai.

Nabi Musa sempat meninggalkan pesan larangan agar tidak lagi menyembah berhala selama ditinggal. Nyatanya, mereka malah membuat patung sapi untuk disembah sehingga ingkar para perintah Nabi Musa AS.

Selengkapnya...

2 dari 3 halaman

Cara Licik Polisi Israel Tangkap Warga Palestina

Dream - Kebiasaan warga Palestina yang berdemonstrasi sambil menutupi wajah mereka dengan 'keffiyeh' dimanfaatkan oleh polisi Israel.

Polisi Israel menggunakan cara itu sebagai bagian dari taktik mereka untuk menyamar dan memata-matai para pendemo di Ramallah, Tepi Barat.

Harian Metro Malaysia, melaporkan beberapa wartawan mengaku melihat polisi yang menyamar itu tiba-tiba menangkap dan memukuli warga Palestina yang berdemonstrasi. Mereka kemudian melepaskan tembakan ke udara sementara tentara Israel mulai mendekat.

Sekitar 150 orang Palestina melakukan demo di dekat pos militer di Ramallah. Mereka melemparkan batu ke pasukan keamanan Israel.

Ketika tentara bersenjata mendekati kelompok tersebut, tiba-tiba beberapa pria berpakaian seperti orang Palestina - menutupi wajah dengan kain keffiyeh, bahkan membungkus kepalamereka dengan bendera Palestina - mulai menarik pistol mereka.

Seorang polisi yang menyamar melemparkan bom asap sementara yang lain menembak ke udara sambil menangkapi beberapa warga Palestina.

Tim medis Palestina mengatakan tiga warga Palestina terluka dalam insiden tersebut.

(Sah)

3 dari 3 halaman

Miliarder Palestina Lawan Israel dengan Megaproyek

Dream - Jalan boulevar itu begitu luas. Barisan toko fashion berderet diantara gedung bergaya Romawi. Itulah pemandangan baru di Rawabi, Palestina. Kota yang bersinar di tengah konflik berkepanjangan Palestina-Israel.

Seorang pebisnis Amerika berdarah Palestina telah berjuang melawan tentangan Israel, kritik dari komunitasnya dan stabilitas politik dengan membangun proyek mewah bernilai US$1,4 miliar di Tepi Barat. Mengubahnya menjadi suar baru dari Palestina.

Satu dekade berlalu, baru 3000 orang yang tinggal di sejumlah menara di kawasan bukit sebelah utara Ramallah ini. Pembangunan masih terus berlangsung dan beberapa ruas jalan sepi. Namun harapan tak pupus. Akan ada 40 ribu orang tinggal di kota baru ini.

" Rawabi, khususnya dalam 4-5 bulan, telah menjadi kota tujuan warga Palestina," ujar Bashar Al Masri dikutip dari laman thenational.ae.

Sosoknya memang terdengar asing. Namun di Palestina namanya terkenal. Dialah salah satu orang terkaya Palestina. Laman richoncomeways.com menyebut kekayaan Al Masri pada 2016 mencapai US$1,5 miliar.

Bashar Al Masri© http://www.richincomeways.com

(Bashar Al Masri/http://www.richincomeways.com)

Kekayaan Masri berasal dari bisnis yang dirintisnya di bidang properti, Massar International.

Laman Time.com menuliskan dibalik kekayaan dan penampilan necisnya, masa lalu Masri penuh dengan perjuangan. Dia besar di sebuah kawasan konflik Tepi Barat Nablus. Lahir tahun 1961, pasukan Israel menjajah Tepi Barat sekaligus mengakhiri pendudukan Yordania pada 1967.

Masri muda menghabiskan masa mudanya dengan melawan pendudukan Israel yang mulai menguasai kawasan itu. " Saat kecil, saya percaya pada kekerasan," kata Masri. " Saya aktivis sekolah, merencanakan demonstrasi, dan menulis surat ke Sekjen PBB Kurt Waldheim," kenangnya.

Seperti anak muda lainnya, Masri juga sering melempar batu ke barisan tentara Israel. Aksi yang membawanya masuk penjara pada 1975 saat berusia 14 tahun. Saat usia 16 tahun, Masri kembali masuk penjara sebelum akhirnya diterbangkan ke sekolah menengah atas di Kairo, Mesir.

Dia lalu melanjutkan studi teknik kimia dan manajemen di universitas Amerika dan Inggris. Namun saat gerakan intifada bergelor di tahun 1987, Masri pulang kampung.

" Saat periode itu, saya sama sekali tak keluar dari aksi demonstrasi. Saya lebih banyak berperan di sisi perencanaan," ujarnya.

Rawabi© Shutterstock

(Penduduk kota Rawabi/Shutterstock)

Usai menamatkan pendidikan, Bisnis rintisan Masri di bidang real estate mulai berkembang. Berbagai kontrak bisnis di Maroko, Libya, Yordania, dan Mesir ditanda tangani. Dia juga bekerja sebagai konsultan di London, Arab Saudi, dan Washington DC, Amerika Serikat.

Jauh dari tanah kelahiran jadi kesempatan bagi Masri untuk merenungkan kondisi Tepi Barat. Dia terkenang dengan rumah masa lalunya dan memutuskan bertemu dengan beberapa teman sekolahnya. Sayang, beberapa tahun usai lulus sekolah, tak banyak pekerjaan ditawarkan. " Saat itu benar-benar situasi menyedihkan. Tak ada pekerjaan, tak ada yang bisa dikerjakan."

Dan di tahun 1994 usai Oslo Accord, dan keinginan balik kampung, Masri mulai membangun mimpinya membangun Rawabi. Kota baru yang menyediakan akomodasi murah dibandingkan Ramalah serta pekerjaan bagi penduduk lokal.

Rawabi© Shutterstock

(Sudut kota Rawabi, Palestina/Shutterstock)

Awalnya, pekerjaan ini sempat tersendak setelah muncul gerakan intifada pada 2000. Setahun setelahnya, pembangunan kontruksi kota baru mulai berjalan.

Meski perjuangan untuk membantu Palestina masih sangat panjang, Masri tak putus asa. Impian menyediakan rumah murah dan layak serta pekerjaan masih terus diperjuangkannya. Langkah alternatif daripada kekerasan.

" Tak ada orang yang ingin menyakiti orang lain akan membeli apartemen dan tinggal di kota seperti ini," kata Masri.

Masri bukannya tak mendapat tentangan. Beragam kritik muncul di balik niatnya membangun Rawabi. Masri harus menghadapi tudingan kedekatannya denga Isreael. The Boycott, Divestment and Sanction Movement mengklaim masa lalu Masri digunakan untuk menjalin perjanjian dengan politisi dan pebisnis elit Israel. Langkah yang dianggap upaya Masri menumpuk keuntungan dari pengeluaran orang Palestina.

Tanpa jaminan proyeknya bisa menguntunkan, Masri meyakinan jika pembangunan kota seperti Rawabi akan membantu warga Palestina membangun negeri sendiri. " Waktu akan membuktikan jika ini adalah langkah besar untuk membangun negara kami," tegas Masri.

(Sah/Time.com/thenational.ae)

Beri Komentar