Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Instagram Lisa Namuri
Dream - Banyak pengalaman dan kebijaksanaan yang didapat usai traveling. Itulah kesan yang dirasakan pilates dan traveler, Lisa Namuri.
Lisa yang melakukan sudah perjalanan wisata hingga wilayah Eropa. Tetapi, ada satu wilayah yang membuatnya sangat terkesan. Asia Tengah, yaitu di Kathmandu, Nepal menemukan banyak kesan.
" Kathmandu, Nepal, menjadi negara yang berkesan. Meskipun negara yang terletak di antara India dan Tiongkok ini kecil, tetapi masyarakatnya memiliki keunikan. Masyarakat di sana ramah dan baik-baik," katanya,
Tak hanya pengalaman menarik semacam itu, kejadian menunggu pesawat yang gagal terbang, mislanya, pun jadi pelajaran berharga. Sebab, menurutnya, kejadian semacam itu membuatnya belajar bersabar dalam menghadapi sesuatu.
Tetapi, ada pula momen yang tidak mengenakkan dirasakannya. Misalnya saja ketinggalan pesawat. Uniknya, kejadian yang dialami itu bahkan terjadi gara-gara sebuah sandwich.
Kejadian itu terjadi saat dirinya transit di bandar udara Kuala Lumpur Malaysia. " Saya berangkat dari melalui gate paling ujung, gate P21. Sambil berlari-lari memegang roti saya menuju gate. Eh, sesampai gate gerbang udah ditutup. Tapi, untungnya masih diperbolehkan berangkat," katanya sambil tersenyum.
Selain kejadian di Kuala Lumpur itu ada pula kejadian yang cukup merepotkannya. Momen itu terjadi saat dia berada di bandara Changi Singapura.
Saat itu dirinya sedang membawa oleh-oleh berupa selai khas Turki. Di bandara Turki dia tidak ada masalah saat membawa barang itu. Tapi, sesampai di Singapura benda itu menjadi masalah.
" Mereka mempermasalahkan selai itu tidak ada komposisi bahannya. Setelah berdebat akhirnya selai itu diperbolehkan dibawa. Intinya, kalau kita benar jangan takut untuk melawan," tuturnya.
Laporan: Maulana Kautsar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya