Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Warga Gaza (www.kohram.in)
"Perempuan Palestina dan anak-anak dibunuh saat mereka tidur di rumah mereka, saya jarang melihat cedera ringan," kata Abuwarda.
Dream - Bau anyir darah, orang terluka dengan bagian tubuh tak utuh, dan kepanikan, merupakan pemandangan yang sehari-hari dihadapi Dokter Bassel Abuwarda di Rumah Sakit Al Shifa, Gaza, Palestina. Langkahnya selalu tergesa. Apalagi saat berada di ruang gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa korban kebrutalan serangan Israel.
Dokter umum itu mencoba mengeluarkan kalimat tegas untuk menceritakan kondisi menyedihkan tersebut. Namun seolah suaranya tersumbat di kerongkongan. Kata demi kata dia keluarkan dengan tergagap. Sambil mencari-cari istilah tepat untuk menggambarkan kondisi warga Palestina yang menjadi korban senjata-senjata Israel.
"Saya tidak meminta, tidak. Saya mengemis kepada dunia untuk membantu kami menghentikan pembantaian yang sekarang terjadi di Gaza. Orang-orang sekarat setiap hari," kata Abuwarda dikutip Dream dari Al Arabiya, Rabu 6 Agustus 2014.
Sejak gempuran Israel pada awal Juli silam, sudah 1.830 warga Palestina tewas. Perempuan dan anak-anak tak luput dari serangan kejam tentara zionis. "Perempuan Palestina dan anak-anak dibunuh saat mereka tidur di rumah mereka, saya jarang melihat cedera ringan," kata dia.
Kondisi para korban serangan Israel sungguh memprihatinkan. Para korban, baik yang terluka maupun sudah meningal, datang ke rumah sakit tanpa potongan tubuh mereka.
Seminggu yang lalu, Rumah Sakit Al Shifa giliran menjadi target rudal Israel. Setidaknya sepuluh orang, termasuk anak-anak, tewas dalam serangan udara tersebut. Seorang dokter dari organisasi internasional, Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF), Tommaso Fabbri, mengutuk serangan itu.
"Menarget rumah sakit dan lingkungannya tidak dapat diterima. Itu merupakan pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional," tutur dia.
"Apapun kondisinya, fasilitas kesehatan dan tenaga medis harus dilindungi dan dihormati. Tapi di Gaza saat ini, rumah sakit tidak seaman seperti seharusnya," tambah Fabbri. (Ism)