Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi Wanita Kaya. (Foto: Shutterstock)
Wanita bisa saja hebat dalam berbagai hal, tapi tidak ketika berbicara miliarder.
Dream – Wanita terkenal hebat dalam urusan pendidikan, gaji, dan promosi kerja. Tapi, ada satu hal di bidang ekonomi di mana perempuan masih tertinggal dari laki-laki.
Dilansir dari CNBC, Senin 11 Juni 2018, berdasarkan studi yang dilakukan oleh perusahaan riset kekayaan, Wealth X, jumlah wanita miliarder di dunia masih kalah dibandingkan pria. Saat ini hanya ada 11,7 persen wanita miliarder di dunia. Angkanya turun 11,9 persen dari tahun 2015.
Jumlah wanita yang kaya berkat usahanya sendiri pun semakin sedikit. Jumlahnya lebih sedikit dari perempuan miliarder yang mendapatkan kekayaan dari warisan. Jumlahnya 8 persen dari pria miliarder yang kaya raya dari warisan.
Forbes juga turut merilis ada 256 wanita miliarder tahun ini dan jumlahnya hanya 10 persen dari total miliarder di dunia.
Mengapa?
Jawabannya, jumlah wanita miliarder menipis karena ada bias gender di ruang rapat dan peningkatan modal. Wanita pengusaha kesulitan untuk menambah modal untuk ide bisnis.
Mereka juga harus berhadapan dengan pria ketika mencoba untuk menjadi pimpinan di perusahaan. Bahkan, beberapa budaya di negara-negara lain juga menghambat wanita untuk masuk ke bidang teknologi dan insinyur.
Penulis buku I Want to Be Rich and I‘m Not Sorry, Jessica Knoll, mengatakan masalahnya menjadi lebih dalam. Knoll berkata ketika perempuan bertumbuh, ada anggapan bahwa wanita diprediksi akan menjadi pelindung, sementara lelaki yang akan bekerja.
“Kalau ingin membangun kekayaan sendiri, kepercayaan diri untuk mengambil risiko yang diperhitungkan adalah keterampilan yang diperlukan. Menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri itu tidak perlu,” kata dia.
Bahkan, Knoll mengatakan perempuan harus belajar untuk menyombongkan diri untuk urusan karier dan menginginkan hal yang lebih.
(Sah)