Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ibu-ibu Berbelanja Di Pasar Tradisional. (Foto: Shutterstock)
Dream – Sahabat Dream, belanja menjadi salah satu aktivitas yang paling digemari oleh wanita. Tapi, aktivitas ini bisa jadi menakutkan buat kaum hawa, terutama bagi mereka yang ingin berhemat.
Bukannya tak ingin keluar uang, para wanita hanya takut kalap ketika berbelanja. Jika memang itu adalah masalahnya, ada baiknya para wanita masa kini meniru cara ibu-ibu zaman dulu dalam berbelanja.
Misalnya, ibu dan nenek kita sering berbelanja di pasar tradisional. Mereka lebih suka mencari bahan makanan segar di pasar walaupun kondisi becek. Tentu saja harganya lebih murah daripada supermarket.
Berikut ini ada tiga tips hemat ala ibu-ibu generasi sebelumnya, dikutip dari CekAja.com, Rabu 6 September 2017.
Selalu Menawar
Salah satu kebiasaan belanja ibu-ibu zaman dulu (dan masih bertahan hingga sekarang) adalah belanja di tempat yang bisa ditawar harganya. Misalnya, di Pasar Tanah Abang, Jakarta, pedagang sering memberikan diskon jika ada yang membeli pakaian lebih dari 3 potong.
Tak hanya itu, ibu-ibu juga sering mengajak teman atau anggota keluarga lain agar mendapatkan diskon jika belanja dalam jumlah banyak.
Jarang Makan di Luar
Ibu-ibu zaman dulu jarang membeli makanan di luar atau makan di restoran. Mereka lebih suka membeli bahan makanan dan memasaknya di rumah. Hemat, bukan?
Senang Belanja Emas Perhiasan
Ibu-ibu zaman dulu senang membeli emas setiap mendapatkan uang dari suaminya. Penghasilan suami tak semuanya digunakan untuk belanja kebutuhan rumah tangga. Mereka akan menyisihkannya untuk menabung dan membeli emas.
Ketika kondisi keuangan keluarga sedang terdesak, ibu-ibu akan menjualnya atau menggadaikan emas. Jadi, tak merepotkan orang lain. Emas juga pada dasarnya bisa dijadikan alat investasi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya